CerpenHikmahIslamiasastra

Ramadan di Wentira

Penulis: Akmal Hidayat | Editor: Mushawwir Rahman

“Hiduplah demi manusia!” Itulah semboyan yang sering orang tuaku katakan. Ya, aku terlahir dari keluarga yang sangat dekat dan peduli dengan mereka, makhluk yang konon merupakan mahakarya Tuhan. Bagaimana tidak, ketika nenek moyang mereka selesai diciptakan, seluruh malaikat diperintahkan untuk bersujud, memberikan penghormatan kepadanya. Tak hanya itu, manusia–sejak awal–sudah dirancang untuk menjadi khalifah, sosok yang akan bertanggungjawab atas kemakmuran bumi. Sungguh tugas yang mulia.

 

Karena itulah, ketika ayahku bertemu dengan mereka, khususnya orang miskin, tak pernah sekalipun kulihat ia mengabaikannya atau bahkan memandangnya hina. Malah sebaliknya, ayahku selalu membantu mengambil–secukupnya–harta orang-orang kaya yang ada di sekitar, guna menciptakan keseimbangan di antara mereka. Apalagi jika orang-orang kaya itu suka berfoya-foya. Tentu tidak adil, kan, jika mereka berfoya-foya di atas penderitaan orang lain?

 

Tak hanya itu, ayahku juga sering mengajak orang-orang untuk senantiasa menjaga diri. Seperti jika sedang di musim-musim hujan dan sebagainya, intinya saat kecelakaan lalu lintas sering terjadi, Kau tahu? Di saat-saat itu ayahku sibuk berdakwah kepada mereka yang tinggal agak jauh dari masjid untuk tidak membahayakan diri hanya untuk salat berjamaah. Takutnya akan terjadi apa-apa saat di jalan. Toh, salat di rumah pun tak mengapa. Lagi pula, bukankah keselamatan itu harus diutamakan? Yah … meskipun seringkali orang yang sudah dinasehati atau susah payah dibantu, tidak berterima kasih. Ayahku sama sekali tak peduli.

 

Hampir saja aku lupa, masih ada lagi yang menurutku perlu kau ketahui. Pernah suatu ketika, saat aku masih sangat kecil, saat kami sedang buru-buru ke acara pernikahan. Seingatku pernikahan sepupu. Di perjalanan, kami bertemu dengan tukang kayu yang sedang berpuasa sunnah. Dari penampilan dan gerak-geriknya, sepertinya ia sedang tidak sehat. Ayahku pun prihatin dengannya. Ia lalu menyempatkan diri menasihatinya agar segera berbuka. Agar tak perlu bersusah payah menahan lapar dan dahaga dengan kondisi seperti itu, lagi-lagi hanya untuk mengejar pahala sunnah. Apalagi saat itu–seingatku–matahari sedang panas-panasnya.

 

Kau tahu, apa yang pak tua itu lakukan setelah mendengar nasihat dari ayahku? Benar, tanpa belas kasih, ayahku dipukul dengan balok kayu yang kebetulan sedang ia seruti. Ayahku dipukuli dengan balok itu berkali-kali. Saat itu aku hanya terdiam, membisu seperti batu. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku kerjakan. Atau memang karena kaget dan takut, tak ada sesuatu pun yang bisa aku pikirkan saat itu.

 

Setelah semua itu, bukannya putus asa, ayahku malah semakin bersemangat membantu manusia. Ia bahkan sering mengingatkanku yang sering mengeluh untuk selalu bersyukur karena Tuhan telah menganugerahkan kita umur yang lebih panjang dibandingkan makhluk lainnya, sehingga bisa lebih lama hidup membersamai mahakarya-Nya itu. Sebab bagi kami, para setan, melakukan kebaikan kepada manusia merupakan tugas utama sekaligus kebanggaan terbesar yang bisa kami persembahkan kepada Tuhan.

 

Namun, dengan semua perjuangan itu, dengan semua kebanggaan itu, suatu hal yang selalu membuatku heran, bahkan seringkali geram. Benar-benar sesuatu tak bisa kumengerti: entah mengapa, tiap kali memasuki bulan Ramadan, bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Tuhan, bulan yang di mana pahala akan dilipatgandakan. Bulan yang–seharusnya–di dalamnya kami akan diberikan wasilah agar bisa lebih membantu manusia dalam meningkatkan amalan-amalan mereka, Tuhan malah mengasingkan kami semua ke Wentira. Sebuah negeri yang sangat jauh. Sangat jauh, bahkan saking jauhnya, rasanya seperti berada di dimensi lain.

 

Bangunan-bangunan yang ada di tempat itu sangat kokoh dan besar seperti sebuah kerajaan. Namun, tak ada seorang pun yang bisa kami temui di sana. Yang bisa menjelaskan kepada kami tempat seperti apa ini, khususnya untuk menjelaskan mengapa bisa ada begitu banyak kotoran yang berserakan di mana-mana, bagaikan tempat pembuangan sampah. Entah dari mana asalnya. Kau tahu? Makhluk seperti anjing pun tidak akan mampu bertahan di tempat seperti itu. Aku yakin itu.

 

Saat kutanya orang tuaku perihal kenapa bisa kita dipindahkan ke sini, mereka sama sekali tak memberikan jawaban yang kuinginkan. Mereka dan orang-orang lainnya hanya terlihat pasrah menerima kenyataan itu. “Entah mengapa kita harus diasingkan lagi di tempat ini. Intinya, jika bulan itu datang, kita harus tinggal di tempat ini, dan setelah bulan itu berlalu kita akan kembali lagi ke kampung halaman,” ucapnya sambil berjalan menuju sebuah istana yang begitu besar.

 

Di sanalah keluargaku akan tinggal. Sebuah istana yang awalnya tak layak untuk ditinggali. Tak bisa kulupakan, saat membuka pintu istana itu pertama kali, kelelawar beterbangan keluar. Bangkai tikus berserakan di sudut-sudut ruangan. Dindingnya dipenuhi dengan cakaran seperti tubuh manusia yang telah dipeluk harimau. Juga perkakas rumah tak ada yang berada di tempat semestinya. Rumah yang benar-benar jorok dan berantakan. Rumah yang akan kami tinggali selama sebulan penuh.

 

Di rumah itulah orang tuaku menyusun berbagai rencana untuk membantu manusia dalam kesehariannya di bulan Syawal nanti, untuk berbuat baik, untuk lebih bermanfaat bagi manusia. Orang tuaku benar-benar memanfaatkan waktu yang ada. Orang-orang lain pun kelihatannya seperti itu. Apalagi setelah mengetahui bahwa di Wentira ini ada sebuah danau yang mampu menampilkan semua yang sedang terjadi di dunia manusia.

 

Iya, aku serius. Di sana ada sebuah danau yang terletak di bawah pohon beringin besar. Airnya kebiruan, dasarnya tidak terjangkau oleh mata. Di danau luas itu, tak hanya ada ikan-ikan yang menjadi sumber makanan utama kami. Namun ada juga mamalia lainnya. Entah mengapa buaya, ular besar, dan predator-predator lainnya tampak begitu jinak. Danau itu pun menjadi tempat favorit kami, para setan. Aku dan ayahku pun mengunjungi danau ini hampir setiap sore.

 

Asal kau tahu, di sini, semua sumber air sangatlah kotor dan beracun. Awal kedatangan kami di tempat ini pun digunakan untuk bersih-bersih total, berharap bisa menetralkan racun yang tersebar di sumber-sumbar air. Namun tak membuahkan hasil. Sepertinya tempat ini sudah seperti itu sejak awal. Benar-benar tempat yang nihil sumber air bersih. Sehingga satu-satunya harapan penduduk Wentira hanyalah danau cermin yang begitu menakjubkan ini, karena hanya danau ini yang tak tersentuh sedikitpun kotoran dan racun, dan juga yang lebih menakjubkan lagi–seperti yang kukatakan sebelumnya–di danau itu, kami bisa melihat semua kegiatan yang sedang dilakukan manusia selama sebulan penuh.

 

***

 

“Ayah, ayah, coba lihat mereka!” teriakku dari kejauhan, berlari mendekat ke tempat ayah beserta teman-temannya.

 

Aku yang masih ngos-ngosan melanjutkan, “Tadi, di sana aku melihat ada yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Bukankah lebih baik jika bersedekah dengan terang-terangan supaya orang lain yang melihatnya bisa termotivasi, Ayah?”

 

“Anak pintar!” ucap ayah sambil mengusap kepalaku. “Jadi, setelah kamu keluar dari sini, apa yang akan kamu lakukan kepadanya?”

 

“Tentu, akan kusuruh mereka menceritakan perbuatan mulia mereka di sosmed.” Dengan senyuman lebar, aku menatap ayah, yakin bahwa cara inilah yang paling baik. Ayahku pun ikut tersenyum melihatku.

 

“Kalau yang itu?” ayah lalu menunjuk seseorang pemuda yang terlihat menyendiri di kamar. Benar, sebelum Ramadan ini, ia telah menjalin hubungan romantis dengan seorang gadis. Namun sekarang, ia terlihat begitu sibuk mengaji, di saat teman-temannya yang lain saling menyemangati, saling chat-an dengan pasangannya. “Bagaimana kalau kita membuatnya berpacaran seperti teman-temannya yang lain?” tambahnya.

 

“Ide bagus, ayah. Sepertinya orang itu memang bodoh. Aku akan membuatnya kembali berpacaran agar mereka dapat saling mendukung satu sama lain dalam beribadah!”

 

Tampak bibir ayah semakin melebar, “Lalu bagaimana lagi jika orang itu tidak mau mendengar, atau malah akan mengakhiri hubungannya setelah Ramadan ini?”

 

“Tenang, ayah. Aku masih punya cara lain. Aku akan membuat dua pasangan yang tidak pernah bertemu itu merasakan kerinduan yang sangat dalam. Pasti mereka tak akan tahan.”

 

 

***

 

Satu Syawal pun tiba. Hari kebebasan kami. Hari di mana aku bisa kembali bermain seperti biasanya, sembari menemani ayah melakukan pekerjaan mulianya. Mengajarkan kebaikan kepada manusia. Benar-benar kesempatan yang sangat aku tunggu.

 

Di hari pertama ini, ketika aku ingin ikut menemani ayahku, awalnya ia melarang. Katanya, hari ini ia akan sangat sibuk, dan takut kalau aku akan menghilang seperti tahun lalu–hehehe–sebab aku suka berkeliaran di mana-mana. Namun, aku bersikeras agar bisa bersama mereka. Akupun berjanji untuk tidak akan berkeliaran ke mana-mana, berjanji hanya akan diam saja melihat sembari mengamati. Benar-benar tidak akan mengganggu. Sehingga dengan semua alasan itu, aku pun diizinkan ikut.

 

Aku akhirnya keluar bersama ayah ke suatu desa. Siang itu, aku mendapati beberapa dari penduduknya tengah sibuk bersiap-siap untuk bepergian, menemui sanak saudara, merasakan manisnya lebaran, mengenang masa-masa kecil. Ada pula yang sebaliknya, menetap di rumah. Menanti kedatangan keluarga yang jauh-jauh datang untuk melepas kerinduan.

 

Di salah satu rumah yang kami singgahi, aku melihat penghuninya tengah sibuk menyiapkan makanan. Namun, di tengah itu, tak sengaja ayahku menjatuhkan sebuah piring kaca. Piring yang mampu memecahkan keheningan. Meciptakan kegaduhan. Membuat orang-orang yang ada di rumah itu seketika saling menuduh dan akhirnya mencaci maki. Entah mengapa, bukannya melerai atau paling tidak mengakui kesalahannya, ayahku malah membiarkan mereka.

 

Ia kemudian berpindah ke tetangga sebelah yang di terasnya rumahnya terdapat jemuran. Ya, benar, jemuran yang baru-baru saja dicuci itu nampaknya merupakan pakaian yang sudah disiapkan untuk ziarah ke rumah sanak saudara di keesokan hari. Dan untuk kali ini, aku melihatnya dengan jelas, ayahku sengaja menjatuhkan pakaian itu. Tak hanya itu, ia juga mendorong onggokan pakaian itu ke selokan yang ada di samping teras. Dengan itu, pakaian pun menghitam bersimbah air comberan, tak terselamatkan. Ayahku lalu memberitahukan kondisi pakaian itu ke anggota keluarga yang lain. Khususnya kepada sang ibu. Dan begitu selanjutnya, ayahku segera pergi ke tetangga sebelah, meninggalkan kobaran api di dalam keluarga itu.

 

Tentu, aku kebingungan melihat apa yang telah ayah lakukan. Aku pun berniat untuk mengutarakan pertanyaan kepadanya. Namun, tertahan, mulut ini harus diam karena sudah terlanjur berjanji untuk tidak mengganggu ayah dalam pekerjaannya.

 

Betul yang dikatakan ayahku, hari ini ia benar-benar sibuk. Akupun baru bisa mengutarakan semua pertanyaanku sesampainya kami di rumah. Saat ayah sedang duduk santai di ruang tamu, sedang menikmati secangkir teh, akupun mendekat.

 

“Ayah, tampaknya tadi ayah sengaja menjatuhkan piring, pakaian dan semacamnya. Sehingga orang-orang saling menuduh, saling menyalahkan, saling bertengkar. Kenapa melakukan itu?”

 

“Apa yang sebenarnya kamu maksud, Nak?” ucapnya sambil meraihku, memintaku duduk di sampingnya.

 

“Ayah berbuat jahat kepada mereka, kan? Mengapa ayah sengaja membuat mereka melakukan semua perbuatan buruk itu?” lanjutku.

 

“Bukankah memang itulah tugas kita?”

 

“Hah, kok begitu. Bukannya tugas kita adalah membantu manusia untuk berbuat baik seperti yang ayah ajarkan sebelumnya?”

 

Sontak, ayahku terdiam. Ia menatapku. Sorot matanya mampu menjelaskan apa yang saat ini ia rasakan. Benar, Ia tampak begitu terkejut mendengar apa yang barusan aku katakan. Ia kemudian menghela napas lalu menghembuskannya. Ia menghela napas yang begitu panjang. Tarikan napas yang memulai panjangnya malam yang akan ia gunakan untuk meluruskan kesalahpahamanku selama ini.

 

***

 

Tadi, sepulang kerja, di sebuah lorong yang begitu sepi, aku berpapasan dengan seorang gadis yang sedang buru-buru entah ke mana. Pikirku, gadis itu sangatlah ceroboh, buktinya, tote bag-nya saja sedang menganga. Lupa ia kenakan handbag yang satunya. Sehingga menampilkan beberapa buku agenda, dompet, dan alat kecantikan.

 

Tak jauh di belakang gadis itu, ada seorang pria yang mengenakan jins dan berkaus oblong kedombrangan sedang jalan sempoyongan. Aku pun teringat dengan pria itu. Dia adalah orang dengan tato laba-laba di lengan kirinya yang pernah kami bantu berkali-kali. Ya, aku dan ayahku pernah membantunya mencuri sepeda motor lima tahun lalu. Juga beberapa bulan lalu ia berhasil mengantongi beberapa perhiasan dan dua buah dompet hasil pekerjaannya di pasar malam.

 

“Benar-benar momen yang sempurna baginya,” ucapku dalam hati, kegirangan. Akupun memberitahunya untuk segera melancarkan aksinya. Namun ia tidak mengindahkannya. Awalnya aku mengira, mungkin saja ia takut gadis itu akan berteriak jika aksinya ketahuan. Sehingga ia pun akan dihakimi oleh warga sekitar. Aku pun menarik keluar isi tote bag itu. Kubuat dompet itu terjatuh tanpa disadari si empunya. Betul saja, ia akhirnya memungut dompet itu. Namun, lagi-lagi bukan untuk ia selipkan di saku jinsnya, melainkan untuk ia kembalikan.

 

Setelah menyerahkannya dan sedikit memberikan teguran, ia kemudian mempercepat langkahnya, dengan cepat meninggalkannya. Aku yang dibuat heran dengan kelakuannya itu pun mengikutinya sampai ke rumah. Di sana, aku melihatnya hanya terduduk diam di depan meja makan. Selang beberapa menit, azan magrib berkumandang. Ia pun mengangkat tangan, “Allahumma laka shumtu … ”

 

“Sial! Puasa Syawal, yah!?”

Artikel Terkait

Beri Komentar