Cerpensastra

Pelangi Tak Harus Mejikuhibiniu

Penulis: Afifah Al Tafunnisa | Editor: Muh. Alwi Agung

Krett… Suara engsel jendela terdengar pelan saat seorang anak perempuan mendorongnya terbuka. Udara lembab selepas hujan menyeruak masuk, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Ia menutup matanya sejenak sembari memeluk boneka kelincinya, membiarkan kesejukan itu menyentuh wajah mungilnya.

Langit perlahan merekah di ujung sana. Warna-warna samar muncul di antara sisa mendung. “Melah, inggah, uning, ijau, bilu, nila, eumh…” gumamnya pelan. Lidah kecilnya terselip di antara gigi. Si anak menepuk kepala berusaha mengingat urutan warna pelangi yang ia eja.

Lalu ia turun dari bangku. Langkahnya ringan menuju rak buku. Sret sret sret… Halaman bergambar pelangi terangkat satu persatu. “Oh, ungu,” serunya riang. Mata itu berbinar, seperti baru menemukan dunia yang ia sukai.

Namun, sebelum sempat menutup bukunya, terdengar ketukan di pintu pelan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Si anak akhirnya membuka pintu sedikit, tapi cukup untuk melihat wajah yang ia kenali.

“Ibu di mana?” tanya seseorang di balik pintu memastikan.

Si anak menggeleng. Lelaki itu tersenyum penuh arti. Si anak melihatnya kebingungan. “Mau cokelat?” Wajah lugu kebingunan si anak berganti berbinar kala mendapat tawaran yang manis. Namun wajahnya cepat berubah, kembali takut saat mengingat peringatan ibunya mengenai cokelat.

“Na-nanti ibu malah kalau makan cokelat.”

“Tidak akan,” jawab lelaki itu setengah berbisik ke telinga si anak. “Ibu tak akan marah. Ibu tidak tahu. Asal jangan memberitahu ibu soal ini, toh hanya makan cokelat,” katanya meyakinkan lagi.

“Ayo kita main di kamar. Makan cokelatnya juga di kamar saja, biar tak ketahuan.”

Anak itu menurut. Ia berjalan sambil membuka bungkusan cokelat. Pintu kamar itu perlahan tertutup.

Tubuh kecil itu digandeng oleh tangan yang ia percaya. Si anak sempat tertawa, mengira itu permainan sulap; tapi tawa itu seketika berhenti, begitu tangan itu menetap terlalu lama di kulitnya. Ada kehangatan yang asing, ada detak yang berbeda.

Ia menunduk, tak berani menatap. Kecupan yang mendarat di bibirnya terasa dingin menimbulkan getar yang tak ia pahami. Ia ingin berteriak tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Si anak melihat pantulannya dalam cermin itu. Ia dibaringkan dengan perlahan. Ranjangnya berdenyit naik-turun sepeti ayunannya di sekolah, tapi mengapa ia tak tertawa?

“Sa-k-sakit …” Cokelat yang ia pegangi terjatuh di kolong kasur. Suara kokokan ayam di kandang nyaris menjadi orkestra di antara suara napas dua orang yang berbeda iramanya.

Pandangannya kabur, entahlah mengapa begitu, yang jelas hanya muka lelaki yang terus menggerayangi tubuhnya. Pelan, berat, dan menyayat. Ia merasa tubuhnya bukan miliknya lagi.

Ketika akhirnya ia keluar dari kamar itu, gaun merah muda kesayangannya tampak kusut. Wajahnya pucat. Matanya kosong. Pita Hello Kitty di rambutnya terkulai, menjadi saksi bisu bagi keheningan yang tak lagi polos.

Malam-malam setelahnya, jendela itu tak pernah ia buka lagi. Ia lebih sering duduk di ranjang, memeluk lututnya mendengarkan suara hujan yang kini terdengar seperti langkah-langkah yang menakutkan.

Ibunya memanggilnya dari dapur, “Nak, ayo makan. Hujannya sudah reda.” Tapi si anak tak bergeming, ia menatap ujung tirai yang bergerak pelan. Ia menggambar pelangi di buku tulisnya. Namun warnanya amat kacau, tak ada jingga, tak ada ungu. Hanya warna merah yang ditekan berulang-ulang hingga kertasnya hampir robek.

Si ibu menemukannya menatap langit. Pelangi itu muncul samar di cakrawala, indah seperti biasanya. Namun, si anak tak lagi seceria itu. Ia hanya memeluk boneka lusuhnya.

“Walnanya tidak lagi cantik, Ibu… pelanginya udah engga sama.”

Si ibu mengernyit. “Sama sayang, lihat itu ada merah, jingga, kuning… terus hayo apa lagi?”

Si anak hanya diam tak menggubris tebakan ibunya, tapi matanya berkaca-kaca. “Engga, Bu, walna melahnya banyak sekali, sepelti dalah.”

Perasaan aneh membuat udara sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Adegan bisu keduanya menjadi tanya dan getir bagi si ibu, yang jelas si ibu tahu bahwa ada retakan halus yang terjadi di rumah mereka.

Namun ia hanya bisa mengigit bibir. Ia merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar cemas, sebuah firasat aneh. Ia menoleh ke arah si anak, ingin bertanya lebih lanjut, tapi si anak enggan dan kian memeluk ringkik lututnya.

Anaknya terasa jauh, amat jauh, seperti ada sekat tak kasat mata yang memisahkan mereka. Si ibu ingin memeluk, mengulurkan tangan setidaknya menghangatkan putri kecilnya, anak itu mundur sedikit, hanya sedikit, tapi cukup membuat dadanya seolah ditikam berkali-kali.

Si ibu terdiam, ada sesuatu yang tak begitu ia mengerti, tapi ia tak tahu perasaan apa itu. Ia ingin bertanya lebih jauh tapi kata-kata itu tak pernah keluar dengan mudah. Semakin ia ingin bertanya, semakin anaknya terlihat tersiksa.

***

Tahun-tahun berlalu. Anak itu tumbuh dewasa. Ia bekerja menata hidup seperti orang dewasa lainnya. Ia tersenyum rapi seolah tak pernah ada hari sial dalam hidupnya.

Tiap malam, ia punya kebiasaan aneh: membolak-balikkan halaman buku lama bergambar pelangi yang kini sudah menguning, memeluk buku usangnya berharap ia tak bermimpi buruk lagi. Satu tetes, dua tetes, bulir air mata menyatu dalam tidurnya.

Suatu hari, sebuah kabar tiba-tiba datang dan mengeruk hatinya begitu dalam. “Ibu meninggal,” suara dari seberang telepon.

Pandangannya seketika buram. Tubuhnya limbung. Wajahnya dirundung duka, seolah mengatakan “Ingin mati saja.” Segera ia bergegas pulang ke tempat yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan: rumah di mana ia hanya bisa melihat merah pada pelangi yang harusnya mejikuhibiniu.

Langit tiba-tiba gelap saat ia tiba sore itu. Awan tak mampu menahan bebannya hingga hujan turun begitu derasnya, seolah langit juga meratapi kepergian ibunya. Anak itu berdiam diri di ambang pagar rumah cukup lama. Langkahnya terasa berat. Orang sekitar melihatnya membisu, tak bergeming di tengah hujan. Seorang memapahnya, mengantarnya untuk melihat ibunya.

Pucat. Terlalu pucat. Seolah ibunya pergi sambil membawa pertanyaan yang tak pernah terjawab, “Apa yang terjadi, Nak?”

Ia hanya diam membeku, tahu betul bahwa ibunya masih membawa cemas sepanjang hidupnya.

“Maaf, Bu, maaf … Waktu itu aku takut, aku terluka, aku menjijikan,” gumamnya sambil mencium dahi ibunya yang telah kehilangan hangatnya.

“Aku marah pada dunia, bukan pada ibu,” lanjutnya gemetaran. Ia berharap mendapat jawaban yang tak pernah dan tak akan pernah ada. Tangisnya pecah tak tertahan. Ia tahu ibunya tak akan kembali lagi.

Ia masih duduk di samping tubuh ibunya dengan tatapan kosong, sampai saat orang itu muncul di hadapannya. Matanya membelalak tak karuan. Wajah lelaki itu dibuat-buat seolah berduka, padahal kegirangan karena rahasia itu masih tak terungkap hingga ibunya tiada.

Untuk pertama kalinya anak itu menatap langsung ke arah sumber malapetakanya, menantang ketakutan yang selama ini berusaha ia lupakan. Matanya menyorot tajam. Seolah ia dijaga oleh sesuatu yang tak lagi hidup.

Menyadari ia diikuti tatapan berbalut amarah yang mengikuti setiap geraknya, lelaki itu gemetar. Tapi kini bukan lagi karena duka yang dibuat-buat, melainkan rasa takut dari tatapan seseorang yang pernah menjadi tempat ia menanam dosa.

“Matilah … matilah… matilah…!” Satu doa yang tak suci keluar dari bibir tipis anak itu, sebuah kutukan kecil yang tumbuh menjadi bisik yang berulang.

“MATILAH!” teriaknya, pecah. Seperti suara yang ditampung selama bertahun-tahun kemudian meledak dalam satu teriakan.

“Pergi!”

Lelaki itu hendak berbicara, tapi tertahan saat melihat si anak berdiri di samping tubuh ibu, seolah melindungi si ibu dari dirinya.

“Pergi! jangan berdiri di hadapan ibuku, dasar menjijikan.”

Lelaki itu tak berani lagi menjawab. Ia mundur perlahan, hingga akhirnya beringsut pergi.

***

Pemakaman selesai. Tinggallah anak itu memeluk nisan ibunya, di atas gundukan tanah yang masih basah oleh hujan sore tadi, dengan bunga-bunga juga daun pandan yang belum sepenuhnya merebah. Ia menangis tanpa malu, tanpa menahan apapun, tanpa takut ibunya khawatir, juga tanpa ibu yang akan menenangkannya.

Ia menatap ke arah langit, melihat garis tipis warna-warni muncul di sana: sebuah pelangi yang indah datang seperti hadiah dari ibunya ketika menenangkannya dari tangis sewaktu kecil dahulu.

Ada sesuatu yang hangat meresap pelan, sesuatu yang membuatnya mampu berdiri dan melangkah pulang.

Ia mencium nisan itu. “Ibu, pelangi hari ini indah, persis seperti ibu.”

Artikel Terkait

Beri Komentar