Penulis: Muh. Said Anwar | Editor: Muh. Alwi Agung
Saya pernah jalan di sebuah gang kecil dekat rumah, lalu disapa anak kecil yang mungkin masih berumur sekitar tiga tahun dengan sebuah senyuman sambil memegang tangan saya. Spontan, saya melepaskan tangan anak itu karena memori kecil saya mengatakan anak-anak eMesir itu kalau bukan mengganggu, ingin basa-basi saja.
Biasanya, saya tidak merasa bersalah, karena memang banyak yang terindikasi kuat hanya ingin mengganggu. Kali ini, saya melihat wajah polos anak itu dari senyum bertransisi menjadi bentuk kekecewaan. “Apa yang sudah kulakukan?” tanyaku dengan penuh rasa bersalah.
Kata banyak orang, senyuman paling tulus itu ada di anak kecil. Tapi, saya melihat kekecewaan yang paling jujur saat itu juga. Saya kemudian membayar itu dengan mengajaknya tos, biar kecewanya terobati.
Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Tapi, itu membuat saya merenungkan satu hal yang selama ini saya anggap benar; omong kosong itu tanda kurangnya Islam pada diri orang.
Apa hubungannya dengan anak kecil tadi? Orang Mesir‒berdasarkan pengalaman pribadi‒banyak yang suka ajak bicara tiba-tiba, sekadar basa-basi. Termasuk anak kecil. Sedangkan basa-basi‒bagi saya saat itu‒hanyalah hal yang tidak berguna. Karena tidak ada ilmu dan wawasan baru di sana. Mungkin kalau ada yang menggungat, saya tidak jauh-jauh mendatangkan hadis yang berbunyi:
من حُسنِ إسلامِ المرءِ تركُه ما لا يَعنيهِ
“Di antara (tanda) baiknya Islam seseorang, ia meninggalkan hal yang sia-sia.” (HR: Al-Tirmidzi: 2317).
Tapi, saya perlu berpikir ulang, apakah basa-basi sesia-sia itu? Maksudnya, kalau basa-basi, agama dalam diri orang auto jelek? Andai itu benar, betapa banyaknya ulama di Al-Azhar itu jelek agamanya, karena selalu memulai percakapan ringan kalau ketemu murid atau rekannya. Hal ini tidak mungkin.
Pertanyaan itu kemudian terjawab, ketika berbincang ringan dengan salah seorang guru. Saya menghormati beliau dengan tidak menyebutkan namanya di sini. Intinya, dalam pembicaraan bersama beliau itu, ada pesan bahwa hal-hal kecil dalam kehidupan itu bisa bernilai ibadah. Termasuk basa-basi.
Kalau hadir acara, banyak rekan hadir, cerita ringan, sambil nostalgia, kadang dianggap membuang-buang waktu. “Jauh-jauh ke Mesir, tapi pelajarannya tinggal di rak buku!” kata sebagian orang.
Orang selalu tidak melihat sesuatu berharga, hanya karena melihat dari satu sudut pandang. Tapi, jika itu dilihat sebagai silaturahmi dan aktualisasi persaudaraan, apakah itu berdosa? Sepertinya, kita sudah bisa menjawabnya.
“Sunnah” Basa-Basi
Basa-basi, percakapan ringan, jokes, beserta jajaran kabinetnya, itu dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Beliau pernah bercanda tentang orang tua yang tidak masuk surga, karena semua orang kembali muda. Apakah beliau melakukan hal tidak berguna?
Antara hal tidak bermanfaat dan percakapan ringan itu dua hal berbeda. Hal tidak bermanfaat, pasti tidak memiliki nilai. Tapi, percakapan ringan, mungkin memberikan nilai. Nilai chemistry, misalnya. Nilai ini yang membangun koneksi dan ikatan dengan orang lain.
Atas jasa basa-basi, orang yang tidak saling kenal bisa berbincang lama, dari asing jadi sayang, sampai bagaimana dunia terawat dengan para pemimpinnya punya hubungan baik lewat percakapan ringan. Politikus ulung mana yang tidak tahu basa-basi untuk kepentingannya?
Ini bagian dari silaturahmi. Silaturahmi bagian dari ibadah. Adakah ibadah di semesta yang tidak memiliki nilai? Tentu tidak.
Ada dua hal jika kita berusaha mencarinya dalam syariat, kita tidak menemukannya. Satu, kemustahilan akal. Dua, hal sia-sia.
Kalau membuka sirah nabawiah, kita akan melihat luasnya network Rasulullah Saw. Imam Suyuthi Ra. menyebut kalau Rasulullah Saw. punya 114 ribu sahabat! Kita jangankan 100 ribu, seribu saja belum tentu.
Ini bukan tentang jumlahnya, tapi tentang bagaimana kerennya beliau dalam bersosial sehingga bisa punya network seluas itu. Coba pikir, seandainya beliau orangnya jutek dan cuek, bisakah punya banyak pengikut seperti itu?
Beliau adalah orang yang paling tinggi tingkat spiritualnya, paling tajam akalnya, tapi urusan “pergaulan”, siapa yang tidak kenal beliau?
Kalau beliau yang sampai di tingkatan itu masih merakyat dengan umat, siapa kita yang baru khatam beberapa kitab, tapi sudah menciptakan jarak dengan orang lain?
Orang lebih cenderung suka dengan percakapan yang dibuka dengan udara ringan, dibanding langsung paling berat. Ibarat tangan yang tiba-tiba kena air dingin. Banyak riwayat yang memperlihatkan bagaimana beliau melakukan hal-hal kecil, tapi bermakna. Bahkan, beliau kalau “nongkrong” bersama sahabat, beliau melebur.
Percakapan bermanfaat, tidak harus berisi kutipan kitab dan jurnal. Tapi, seberapa banyak nilai yang bisa sampai kepada orang lain. Nilai itu sangat luas, tidak sempit di rak buku saja.
Kalau poin inti dari basa-basi itu adalah bersosial, berarti hal kecil lain seperti cari bahan dalam tongkrongan, balas chat, nge-jokes, dan lain sebagainya, bisa bernilai pahala.
Tapi, kalau logikanya dibalik; bagaimana kalau dengan hal itu bisa menyakiti orang lain? Misalnya, bikin canggung, jokes-nya kelewatan, tidak balas chat (semoga orang yang saya belum balas chat-nya memaafkan saya), beserta teman-temannya. Dari sisi mana ladang pahalanya?
Intinya, sunnah Rasulullah Saw., bukan hanya dalam bab ibadah. Tapi, banyak di bab sosial. Salah satunya percakapan ringan, seperti basa-basi. Sunnah beliau banyak pada hal sepele, tapi sebaiknya tidak disepelekan.
Wallahu a’lam






