ArtikelEsaiIslamiaKeilmuan

Kesalahpahaman Membaca Tradisi Pesantren

Penulis: Muammar Ahmad | Editor: Muh. Alwi Agung

Sore kemarin, sepulang dari kampus, saya membuka media sosial. Di sana, berbagai unggahan berseliweran memuat stigma negatif terhadap pesantren. Salah satu stigma yang membuat saya tertegun yaitu cap feodal yang dilekatkan hanya karena tradisinya tampak hierarkis. Beberapa orang menilai bahwa adanya penghormatan terhadap kiai, kepatuhan santri, atau praktik seperti sungkem merupakan bentuk perbudakan dan ketidaksetaraan.

Di tengah derasnya narasi-narasi itu, ingatan saya melayang pada satu nama yang saya kenal saat mempelajari Pengantar Logika Modern: Francis Bacon.

Francis Bacon dan Ilusi Goa

Francis Bacon dikenal karena upayanya membebaskan manusia dari berbagai bentuk ilusi yang menyesatkan akal pikir manusia. Salah satu konsep pentingnya adalah ‘Ilusi Goa’ (Idola Specus), yang dalam bahasa Arab disebut Awhām al-Kahf. Ilusi ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk hidup dalam ruang persepsinya sendiri. Ia melihat dunia dari gua subjektifnya, sehingga hal itu dijadikan ukuran tunggal dalam menilai seluruh realitas.

Akibatnya, seseorang mudah terperangkap dalam persepsi sempit, menolak pandangan berbeda, merasa pikirannya paling benar, dan menafsirkan segala sesuatu sesuai bias pribadinya. Hingga, gagal memahami sesuatu sebagaimana adanya, karena yang ia lihat hanyalah bayangan di dinding guanya sendiri.

Bentuk ilusi seperti ini dapat dilihat dalam cara sebagian orang menilai budaya pesantren. Kesalahan mendasar muncul ketika mereka menilai tradisi yang berakar pada spiritualitas dengan memakai kacamata liberal-individualistik, yang menempatkan kebebasan individu dan kesetaraan mutlak sebagai standar tunggal.

Alhasil, praktik seperti ta’zim (penghormatan) kepada kiai, khidmah membantu kiai, atau sungkem disalahpahami sebagai bentuk feodalisme. Padahal, mereka sedang menilai ‘gua pesantren’ dengan cahaya yang tidak sama dengan sumber cahayanya. Inilah manifestasi nyata dari Ilusi Goa: terperangkap dalam gua liberal-individualistik, hingga melihat tradisi pesantren seolah-olah bayangan penindasan, padahal ia memiliki logika dan cahayanya sendiri.

Membaca Tradisi Pesantren dari Dalam

Dalam perspektif pesantren, setiap tradisi memiliki nilai pedagogis dan spiritual yang mendalam. Khidmah, misalnya, ia bukanlah bentuk perbudakan, tetapi latihan batin untuk menumbuhkan keikhlasan dan mengokohkan adab. Sama halnya, mencium tangan kiai bukan bentuk kultus individu, melainkan ekspresi kerendahan hati dan usaha meraih keberkahan ilmu.

Oleh sebab itu, ta’zim di hadapan guru bukanlah simbol ketidaksetaraan, tetapi pengakuan bahwa ilmu bukan sekadar hasil kesombongan intelektual, melainkan anugerah yang diwariskan melalui adab dan ketulusan. Dengan demikian, apa yang tampak seperti ‘hierarki sosial’ di pesantren sejatinya adalah ‘pembinaan spritual’ yang mendidik hati agar tunduk kepada kebenaran, bukan kepada manusia.

Nilai serupa juga ditemukan dalam budaya lain. Di Jepang, murid membungkuk di hadapan guru sebagai tanda kesadaran diri terhadap posisinya di hadapan ilmu. Se mentara di Tiongkok, memberi salam dengan penuh hormat kepada guru dianggap sebagai bentuk penyerahan diri kepada kebijaksanaan.

Sebagai bagian dari peradaban Timur, penghormatan terhadap guru adalah bentuk kesadaran spiritual untuk menjaga kesinambungan nilai, menundukkan ego, dan menghormati sumber kebijaksanaan. Sikap seperti ini justru menandakan kebebasan sejati, yaitu kebebasan dari keangkuhan intelektual.

Antara Kiai dan Santri

Zamakhsyari Dhofier dalam karyanya Tradisi Pesantren menjelaskan bahwa hubungan kiai dan santri bersifat paternalistik-edukatif, yaitu hubungan berbasis keilmuan dan keteladanan. Oleh karenanya, Kiai dihormati karena kealiman dan kebijaksanaannya, sehingga pendidikan pesantren menekankan pembentukan budi pekerti sebagai amalan keseharian, bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan.

Menilai pesantren dengan kategori feodalisme sama halnya dengan mengukur berat badan menggunakan penggaris—menggunakan alat ukur yang tidak tepat. Analogi ini menegaskan bahwa kesalahan bukan pada nilainya, tetapi pada alat ukur yang digunakan. Dengan demikian, dapat kita tahu perbedaan penilaian ini berakar pada perbedaan epistemologi.

Dua Jalan Menilai Kebebasan

Dalam pandangan liberalisme, kebebasan berarti otonomi individu dari segala bentuk otoritas. Namun dalam Islam, kebebasan sejati adalah pembebasan diri dari hawa nafsu untuk tunduk kepada kebenaran. Karena itu, pendidikan akhlak di pesantren justru menjadi sarana agar membebaskan manusia dari belenggu egonya sendiri—sebuah makna kebebasan yang lebih dalam dan esensial.

Kritik terhadap pesantren yang berangkat dari pandangan liberal sering kali salah arah karena tidak memahami kerangka berpikir yang mendasari objek yang dikritiknya. Feodalisme, jika memang terjadi, bukan terletak pada tradisi adab, melainkan pada penyelewengan nilai-nilai tradisi itu sendiri oleh oknum.

Menyadari Ilusi Gua dalam Diri Sendiri

Tulisan ini bukanlah bentuk penolakan terhadap kritik, melainkan ajakan untuk menelusuri akar epistemologis antara keduanya—agar kita tidak menilai tradisi dengan ukuran yang lahir dari cara berpikir yang berbeda.

Sebab persoalannya sering kali bukan pada benar atau salahnya suatu pandangan, melainkan pada kesadaran akan keterbatasan sudut pandang kita sendiri. Seperti kata Abraham Maslow, “Jika satu-satunya alat yang kita punya hanyalah palu, maka segala sesuatu akan tampak seperti paku.”

Artinya, bila kita hanya memiliki satu kacamata untuk melihat dunia, maka seluruh realitas akan tampak dalam bentuk yang sama. Karena itu, manusia perlu memperbanyak alat dan cara pandang agar mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya, bukan sekadar bayangan di dinding guanya sendiri.

Namun pesan ini tidak hanya berlaku bagi para pengkritik dari luar pesantren. Kita yang tumbuh dan hidup di dalamnya pun perlu sesekali keluar dari gua kita sendiri, menyapa dunia dengan rendah hati, dan berdialog dengan berbagai pandangan tanpa kehilangan akar tradisi. Dengan cara itulah pesantren akan terus hidup; menjadikan pesantren sebagai sumber kebijaksanaan bagi masa depan.

 

Artikel Terkait

Beri Komentar