Breaking News
Loading...

Rabu, 04 Januari 2023

Problematika Kedatangan Camaba 2023; Usut Tuntas Mafia Maba

 



Oleh: Muhammad Alim Nur


Fenomena kedatangan Calon mahasiswa baru (Camaba) mulai 3 tahun terakhir sangat meresahkan, pasalnya selalu mengalami keterlambatan. Mulai dari tahun 2020, atau kita kenal dengan angkatan Nusantara El-Varuqi, keuntungan masih berpihak pada mereka, karena ujian al-Azhar sempat ditunda beberapa kali dengan alasan Covid-19, dan pada akhirnya ditetapkan tanggal 27 Januari 2021. Alhamdulillah mereka masih sempat administrasi pendaftaran ulang (ijraat) di kampus. Saya rasa permasalahan di tahun ini tidak terlalu meresahkan, karenanya tidak perlu saya jelaskan panjang lebar bagaimana kronologinya.

 

Kemudian di tahun berikutnya, 2022. Kita kenal dengan angkatan Nusantara El-Kasyifa, kedatangannya sudah mulai meresahkan, dan regulasi keberangkatannya yang bobrok sudah mulai kelihatan. Pada tahun sebelumnya mereka masih diuntungkan dengan keadaan, akan tetapi angkatan tahun ini, saya melihat ada fenomena dilematis yang dihadapi oleh Camaba. Dan tidak perlu saya jelaskan panjang lebar kronologinya, karena saya sudah jelaskan pada tulisan saya sebelumnya yang diunggah oleh media Wawasan Mesir pada tanggal 7 Januari 2022 yang berjudul Probematika Camaba 2022; Ada Sebuah Penyimpangan!.

 

Banyak pihak yang berusaha membantu dan menambal kebobrokan regulasi lembaga yang mendatangkan mereka demi kelancaran ijraat, terutama Forum Silaturahmi Senat Mahasiswa (Forsema) dengan me-lobby pihak bagian administrasi (syu’un) agar bersedia bekerja di luar jam kerja selama empat hari, dan alhamdulillah mereka bersedia tanpa ada insentif.

 

Sebagian dari mereka masih sempat ada yang mengikuti ujian dan sebagiannya ada yang memilih untuk tidak ijraat dengan alasan sudah lewat beberapa mata kuliah dan tentu konsekuensinya mereka harus membayar denda (garamah) karena visa mereka hanya visa turis dan berlaku hanya tiga bulan. Karena mereka tidak terdaftar (muqayyad) di salah satu lembaga di Mesir, maka mereka tidak akan mendapatkan visa pelajar dan tidak bisa memperpanjangnya serta akan mati seiring berjalannya waktu. Sejak visa mati maka mereka terhitung sebagai overstay di Mesir.

 

Data Camaba Belum dikirim oleh Pusiba

 

Pada tanggal 9 Desember 2022, saya sebagai Ketua KPP Maba KKS Mesir, mengambil berkas Camaba ICATT Sulawesi sebanyak 95 berkas tanda terima al-Azhar (ishol tansiq)  yang sudah termasuk berkas  angkatan 6 dan 7 Pusiba di Kantor KPP Maba Pusat yang ada di Hay Sabi. Tapi anehnya, di ishol tansiq tidak tertulis jurusan apa yang mereka pilih. Kejadian ini menurut saya sesuatu yang aneh, kok bisa jurusan mereka tidak tertulis di sana? Sedangkan kalau mau mengetahui bayanat (keterangan diri) mahasiswa dilihat di sana. Fenomena yang sangat aneh.

 

Senin, 9 Desember 2022, Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (SEMA-FU) memberikan informasi bahwasanya Fakultas Ushuluddin al-Azhar tidak menerima ijraat terhitung tanggal 15 Desember 2022. Saya bisa pastikan semua mediator panik mendengar informasi ini, karena Camabanya belum berangkat akibat visa belum keluar, sedang ijraat sudah tutup.

 

Saya menghubungi Ketua Senat Mahasiswa Syariah Islamiyah (SEMA-FSI), Glenn Sofyan Assyauri Lubis. Menanyakan tentang Fakultas Syariah kapan terakhir ijraat. Dengan jawaban yang sama, tanggal 15 Desember. Begitupun dengan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa Arab (SEMA-FBA), Ahmad Mawardi. Mengatakan kalau Fakultas Bahasa Arab biasanya tutup seminggu sebelum ujian dimulai.

 

Apa solusinya jika seandainya ijraat terakhir tanggal 15 Desember? Pertanyaan itu saya tanyakan kepada semua Ketua Senat. Kami akan melakukan audiensi dengan pihak al-Azhar untuk meminta perpanjangan waktu ijraat dengan memberikan pertimbangan jika Camaba Indonesia ada sekitar 1602 orang – data yang saya terima dari KPP Maba Pusat –   yang belum datang.

 

Malamnya, saya membuat janji temu dengan Ustaz Abdul Ghoffar, Mudir Markas Syekh Zayed via telepon untuk meminta ifadah najah (bukti kelulusan dari kelas persiapan bahasa pra kuliah), saya disuruh datang besok pukul 12:30 siang. Selang beberapa menit, terdengar kabar kalau salah satu pengajar markas meninggal dunia, Ustaz Abdul Aziz namanya. Saya berfikir semoga mudir tidak membatalkan pertemuan ini.

 

Selasa, 10 Desember 2022 pukul 10:30, saya kembali menelpon mudir, saya disuruh datang jam 2 siang, karena beliau akan solat jenazah untuk almarhum Ustaz Abdul Aziz. Saya datang tapi hasilnya nihil, saya tidak bertemu dengan beliau.

 

Kebetulan saya membawa 95 berkas ishol tansiq Camaba, jadi saya langsung menghadap ke Ustaz Kamal, beliau yang membuat ifadah najah. Saya memperlihatkan beberapa berkas dan beliau mencari di komputernya dan ternyata datanya tidak ada. Dan saya mengatakan kalau ini berkas dari Markas Syekh Zayed cabang Indonesia (Pusiba). Sontak beliau menjawab kalau markas belum mendapat informasi dari sana, termasuk nama-nama yang lulus di Pusiba. Akhirnya saya pulang dengan membawa kekecewaan dan beberapa pertanyaan dalam hati.

 

Karena tidak puas dengan jawaban Ustaz Kamal, malamnya saya kembali menelepon mudir, dan besoknya disuruh datang lagi ke markas pukul 12:30, tapi lagi-lagi beliau tidak ada di markas dan ternyata beliau berada di Rabithah al-‘Alamiah al-Khirrijiyyah tepat di belakang kuliah banat. Saya berjalan kaki dari markas ke sana. Akhirnya saya bertemu di ruangan beliau yang berada di lantai 2, dan saya menanyakan perihal ifadah najah. Dengan jawaban yang sama, saya belum menerima informasi dari Pusiba perihal nama-nama yang lulus. Kemudian beliau menugaskan saya menjadi mas’ul (penanggungjawab) untuk mencari nama-nama yang lulus dari Pusiba lalu mengirim ke beliau lewat WhatsApp lalu markas akan membuatkan ifadah najah. Saya iyakan saja biar cepat selesai.

 

Kok bisa tidak ada koordinasi dari cabang? Atau jangan-jangan dia mengubah namanya menjadi Markaz Syekh Zayed far’u Indunisiah biar lebih terpercaya sebagai lembaga yang bisa memberangkatkan Camaba?  Atau karena uang sudah masuk ke kantong, jadi bodo amat apa yang akan terjadi. Ini hanya sekedar asumsi saya, bisa jadi benar bisa jadi salah. Tapi dengan keadaan yang terjadi, itu kemungkinan besar ada benarnya, menurut saya.

 

Sembari menyusuri jalan kampus, menikmati hembusan angin musim dingin. Ayunan tangan dan langkah kaki para mahasiswa yang beriringan tapi tak senada. Saya berpikir dan berkata dalam hati, kenapa saya harus susah-susah dengan hal ini? Saya tidak mendapat uang sepeser pun untuk melakukan ini. Jika bukan karena asas kepeduliaan dan kemanusiaan dan kultur kita sebagai perantau yang harus saling menolong, bodo amat lebih baik belajar atau rebahan saja di rumah, sepertinya lebih baik. Lah, ini ada orang yang meraut keuntungan puluhan juta tapi duduk diam tanpa menjalankan tugas dengan baik.

 

Usaha saya untuk mendapatkan ifadah najah tidak sampai di situ, saya berusaha mencari informasi dari beberapa mediator dan ternyata mereka juga belum mendapatkan informasi dari Pusiba tentang itu. Sangat miris, lembaga yang memang bertugas menangani itu tapi ternyata tidak becus dalam mengurusi hal-hal yang penting tapi mereka anggap sepele.

 

Saya tidak menuduh ada permainan uang di Pusiba atau ada mafia yang memonopoli, tapi jika pengelolaan birokrasinya seperti ini, kalau kata Fajar Sadboy harusnya kalian sadar diri bukannya malah percaya diri. Tolong segera perbaiki semuanya. Birokrasi itu ada untuk mempermudah, Pak.

 


Keterangan jumlah Ifadah Najah (Gambar: dok. Wawasan)

Lalu pada tanggal 18 Desember 2022 saya menerima berkas ifadah najah berupa Portable Document Format (PDF) dari mediator Ikatan Cendikiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) Sulawesi. Terdiri dari 734 nama-nama banin dan 431 banat. 

 

Setelah saya cek, ternyata ada 3 nama dari mediator ICATT Sulawesi yang tidak ada. Tidak tahu dari mediator lain, bisa jadi ada yang lebih banyak dari itu. 3 orang orang ini sudah menyampaikan ke ustaznya di Pusiba, Ustaz Hasan namanya. Tapi katanya data sudah dikirim ke Kairo. Sudah itu saja, tidak ada tindak lanjutnya. Berikan solusi kek atau entahlah mereka lebih tau birokrasinya bagaimana.

 

Proses ijraat dipastikan sudah tidak bisa lagi untuk Camaba

 

Tanggal 31 Desember 2022, Forsema berinisiatif untuk mengumpulkan Gubernur setiap Kekeluargaan, PPMI Mesir, dan Mediator di sekretariat Sema-FSI, Darrasah. Forsema menjelaskan bahwa semua fakultas dipastikan tidak lagi menerima ijraat dan mereka akan membuat press release mengenai informasinya. Forsema sempat menawarkan insentif pada penjaga syuun agar menerima ijraat dan bertugas di luar jam kerja, tapi mereka tidak mau. Mungkin karena mereka kapok dengan kejadiaan tahun lalu, dan mengatakan kalau tahun lalu banyak berkas yang tercecer karena memaksakan menerima ijraat sehari sebelum ujian.

 

Dalam pertemuan ini saya menangkap pesan tersirat bahwa tugas Forsema hanyalah mobilisasi informasi dari syuun, bukan untuk tawar-menawar mengenai kebijakan syuun. Dan pasti mahasiswa al-Azhar tahu bagaimana ribetnya berurusan dengan syuun, jadi tidak perlu saya jelaskan suka dukanya.

 

Menurut saya, ini suatu hal wajar yang dilontarkan oleh syuun. Toh memang Camaba yang terlambat datang, siapa suruh telat datang. Bukan salah Camaba sih tapi yah mungkin pembaca bisa menebak sendiri salah siapa.

 

Karena sudah dipastikan tidak bisa ijraat, saya mengusulkan di forum bahwa selain Forsema,  PPMI Mesir juga segera membuat press release mengenai hal ini yang isinya dua poin. Pertama, menyampaikan ke semua mediator agar tidak memberangkatkan Camaba sebelum ujian al-Azhar selesai demi kemaslahatan bersama.

 

Kedua, membuat hasil kajian lapangan, saya rasa itu sudah ada dan saya juga memiliki datanya tentang problematika kedatangan Camaba 3 tahun terakhir. Semoga ini segera dilaksanakan oleh PPMI Mesir agar suara-suara minor segera sampai ke telinga mereka yang berkepentingan kalau regulasi mereka sangat bobrok.

 

Pada kesempatan itu, Pak Burhan selaku Kemenko II PPMI Mesir juga menjelaskan bahwa dari informasi yang didapatkan, berkas Camaba baru keluar dari Amni Daulah (keamanan nasional Mesir) sekitar tanggal 20-an Desember kemarin, kemudian dikirim ke Kedutaan Mesir di Indonesia. Sekitar 1602 berkas baru masuk dan diproses sekitar tanggal 22 atau 23 Desember lalu. Visa keluar sekitar 2 pekan. Kalau dihitung visa akan keluar tanggal 4 januari 2023, sedangkan ujian Azhar dimulai tanggal 5 Januari 2023. Seharusnya memang Camaba diberangkatkan setelah ujian, kalau dipaksakan siapa yang akan menjemput sedangkan mereka sedang dalam masa ujian?

 

Jika berkas asli baru masuk ke kedutaan dan mulai diproses tanggal 22 atau 23 Desember kemarin, terus berkas yang saya ambil di KPP Maba Pusat itu dari mana?

Ishol Tansiq (Gambar: dok. Wawasan) 

Dari penjelasan Wakil Presiden PPMI Mesir, Muhammad Ikramurrahman, Lc bahwa ternyata ishol tansiq yang saya ambil kemarin di Kantor KPP Maba Pusat itu hasil daripada Camaba yang daftar online dan hardfile-nya belum sampai ke Maktabah Tansiq di Hay Sadis, Kairo. Pantas Maktabah Tansiq mengatakan kalau mereka belum menerima berkas dari OIAA.

 

Alur penerimaan dan pemberangkatan Camaba (Gambar: dok. Wawasan)

Ilustrasi di atas, saya dapatkan dari hasil penjelasan Wapres PPMI Mesir yang didapatkan dari kunjungan Menag RI dan OIAA ke Mesir Desember kemarin. Masih banyak informasi yang beliau tidak sampaikan di forum, alasan forumnya terlalu besar. Lah yang hadir kan butuh itu yang kebetulan juga berkepentingan dengan informasi. Mereka butuh transparansi data dan informasi untuk menjaga asumsi liar yang bertebaran di luar sana.

 

Semua pengurusan berkas untuk mendapatkan visa mengalami keterlambatan. Maktabah Tansiq (bagian pemberkasan mahasiswa di Mesir) jatuh tempo tanggal 25 November 2022. Artinya mereka tidak menerima berkas lagi. Setelah diusahakan alhamdulillah masih bisa diterima. Sesudah berkas selesai diproses di Maktabah Tansiq, barulah berkas masuk ke Amni Daulah. Prosesnya lebih lama dibandingkan di Maktabah Tansiq dan visa tidak bisa diproses jika berkas masih tertahan di Amni Daulah. Akhirnya berkas selesai dan kemudian visa bisa diproses sekitar tanggal 22-23 Desember 2022. Sampai saat ini, sudah ada sebagian visa yang keluar. Tapi secara kesuluruhan belum ada informasi.

 

Dari keterlambatan pengiriman berkas ke Maktabah Tansiq, pembaca sudah bisa menebak itu kesalahan siapa dengan melihat ilustrasi di atas.

 

Dalam tulisan ini, saya ingin mengkritisi tentang keterlambatan pengiriman berkas oleh OIAA ke Maktabah Tansiq dan keterlambatan pengurusan Ifadah najah oleh Pusiba. Ini sesuatu yang berbeda tapi sangat dibutuhkan saat melakukan ijraat.

 

Saya berpesan kepada OIAA, agar berkas dikirim ke Maktabah Tansiq sebelum bulan November, agar pengurusan visa segera diproses dan nama-nama bisa segera turun di syuun serta proses ijraat juga bisa dengan mudah dilakukan. Dan jika ada berkas yang tidak selesai sebelum bulan November, berangkatkan tahun depan, toh kalian yang punya kebijakan, simpel saja kan.

 

Saya tidak meminta untuk bubarkan Pusiba, toh mereka banyak memberikan manfaat ke orang banyak supaya bisa kuliah di al-Azhar. Akan tetapi dengan problematika yang ada, eksistensinya juga merugikan banyak pihak. Jika masih ingin memberikan banyak manfaat tanpa merugikan banyak pihak, maka segera perbaiki regulasinya

 

Jika OIAA dan Pusiba masih tidak bisa memperbaiki dan mengambil pelajaran dari kekacauan ini, saya menilai dan menyarankan kepada mahasiswa baru yang akan kuliah di al-Azhar sebaiknya ikut persiapan kelas pra kuliah di Markas Syekh Zayed di Mesir saja. Karena sangat relevan untuk menjawab permasalahan yang ada.

 

Jika kelas persiapan belum selesai, tapi sudah sampai pada level mutaqoddim dan di sisi lain ijraat kampus juga sudah terbuka, maka pihak markas akan memberikan ifadah masyruthoh (bukti kelulusan bersyarat) untuk segera ijraat di kampus. Akan tetapi dengan syarat setelah ujian al-Azhar harus kembali menyelesaikan sampai level mutamayyiz. Bagi saya, ini solusi terbaik buat kalian wahai Camaba yang mau kuliah di al-Azhar, Mesir. Yalla ngopi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar