Breaking News
Loading...

Senin, 09 Januari 2023

Banyak Eror di Dua Tahun Terakhir, OIAA dan Pusiba Jadi Sorotan

Ilustrasi (Gambar: dok. Wawasan)


Ujian tingkat satu al-Azhar telah dimulai per tanggal 5 Januari 2023, tapi kepastian perihal jadwal keberangkatan Mahasiswa Baru (Maba) Indonesia masih belum ada. Kabar mengenai problematika Maba tahun ini pun menyebabkan mencuatnya keluhan-keluhan terkait permasalahan serupa di masa lampau. Mulai dari keterlambatan, tidak jelasnya regulasi pemberkasan, serta banyaknya berkas dan nama yang nyasar di fakultas yang tidak seharusnya.


Rangkaian eror ini tak ayal merugikan banyak pihak, khususnya para Maba dalam langkah awal mereka menginjakkan kaki di Negeri Para Nabi.  


1. Maba Sudah Tidak Bisa Ijraat


Ketua Kajian Strategis (KASTRAT) PPMI Mesir, Abdul Kadir Zaylani menjelaskan bahwa fenomena seperti ini pun terjadi di tahun lalu, tapi saat itu pihak al-Azhar masih memberikan dispensasi kepada Indonesia terkait pelonggaran jadwal daftar ulang (ijraat) Maba.  


Namun untuk tahun ini, Wakil Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, Muhammad Ikramurrahman, Lc. menuturkan bahwa mengonfirmasi dari Rektor al-Azhar, Dr. Salamah Dawud, Indonesia tidak akan mendapatkan dispensasi terkait peraturan ijraat tahun ini.


“Kemarin waktu saya datang ke musa’id Wakil Rektor, Dr. Hamid Hilal, beliau bilang masih ada istisna (red— dispensasi), dalam artian walaupun H-1 ujian itu masih bisa ijraat. Tapi setelah ini dinaikkan ke Dr. Salamah Dawud, beliau bilang tidak ada lagi yang kayak gitu-gitu, kalau telat yaudah telat, enggak bisa lagi ijraat untuk tahun ini,” ungkapnya.


Ikram juga menjelaskan bahwa meski terjadi perbedaan pendapat, pernyataan yang lebih kuat tentunya datang dari Rektor, pasalnya pernyataan tersebut dikeluarkan oleh pemegang kebijakan Universitas al-Azhar itu sendiri.  


Hal itu menyebabkan Maba yang datang tidak akan bisa lagi ijraat untuk terdaftar di fakultas masing-masing dan mereka tidak akan dapat mengurus izin tinggal (iqamah), serta akan menyandang status penduduk (illegal resident) selama setahun sampai tahun ajaran baru dibuka. Hal ini pun mengakibatkan akan dikenakannya denda (garamah) kepada para Maba ketika hendak mengurus iqamah tahun depan.

 

2. Banyak Ketidakjelasan


Muhammad Alim Nur, selaku Ketua Komite Pelaksana Pendaftaran (KPP) Maba Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) Mesir mengaku mendapati banyak ketidakjelasan dalam praktek regulasi jalur berkas Maba tahun ini. Salah satunya adalah tidak terteranya jurusan pilihan para Maba dalam tanda terima al-Azhar (ishol tansiq) yang ia dapatkan dari Kantor KPP Maba Pusat di Hay Sabi.


“Kok bisa jurusan mereka tidak tertulis di sana? Sedangkan kalau mau mengetahui keterangan diri (bayanat) mahasiswa dilihat di sana, fenomena yang sangat aneh,” ungkapnya.


Tak hanya sampai di situ, pada tanggal 10 Desember 2022, Alim yang menghadap ke Ustaz Kamal —yang bertanggung jawab membuat tanda kelulusan (ifadah najah) di Markaz Syekh Zayed— mendapati bahwa 95 berkas dan nama di ishol tansiq yang ia bawa tersebut ternyata belum dikirimkan datanya oleh Pusiba ke Markaz Syekh Zayed.


Hal ini pun ia keluhkan pada Direktur Markaz Syekh Zayed, Ustaz Abdul Ghoffar. Di mana ia kembali mendapatkan jawaban yang sama, yakni belum adanya informasi dari cabang Markaz Syekh Zayed di Indonesia (Pusiba) terkait nama-nama Maba yang lulus.


Ini tentunya mengejutkan, mengingat saat itu waktu menuju ujian sudah tidak cukup sebulan, fakultas-fakultas pun telah mengumumkan bahwa batas terakhir ijraat adalah tanggal 15 Desember 2022. Sementara nama-nama yang lulus di Pusiba sama sekali belum dikirim kepada Markaz Syekh Zayed.   


“Kok bisa tidak ada koordinasi dari Cabang?” ujarnya.


Ia pun menyoroti perihal keterlambatan pengiriman berkas oleh OIAA. Di mana semua pengurusan berkas untuk  mendapatkan visa mengalami keterlambatan. Batas waktu penerimaan berkas di Maktabah Tansiq sendiri adalah 25 November 2022, sementara dari pihak Indonesia baru mengirimkan berkas pada 20 Desember 2022. Untungnya berkas-berkas tersebut masih diterima, tapi tentunya akan berdampak pada telatnya keluar visa.  


Ketidakjelasan serta eror dalam pengurusan Maba pun tidak cuma terjadi di tahun ini. Pada tahun 2022 lalu, rangkaian keluhan terkait banyaknya berkas yang nyasar juga mewarnai proses kedatangan Maba. Ada yang mendaftar di jurusan Ushuluddin malah masuk Syariah Islamiyah, pun sebaliknya, bahkan sampai ada yang nyasar jauh ke jurusan Jurnalistik.


Hal ini pun menjadi sorotan bagi pihak Senat. Rizky Kurniawan, selaku Wakil Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (SEMA-FU) memaparkan bahwa ada banyak problematika perihal berkas Maba tahun lalu. Salah satunya adalah kasus Maba yang namanya ada di Pusat Koordinasi Mahasiswa (Maktabah Tansiq) dan fakultas, tapi berkasnya tidak ada di situ. Rizky menuturkan bahwa jika bukan hilang, pasti berkas tersebut tersesat entah di mana.


“Ada yang ke Sahafah (red— jurusan Jurnalistik), ada yang ke Tijarah (red— jurusan Perdagangan),” lanjutnya.  


Selain itu, fenomena berkas yang hilang pun menjadi salah satu masalah yang banyak dialami oleh para Maba dalam proses administrasi.


“Yang paling parah, di Maktabah Tansiq namanya tidak ada, di fakultas itu namanya juga tidak ada, ditambah malaf-nya (berkas) itu juga tidak ada, terus di mana? Itu kan masalah yang patut dipertanyakan yah. Terus, kalau tidak ada di Maktabah Tansiq itu di mana? Padahal Maktabah Tansiq itu satu-satunya pendaratan data yang ada di universitas,” ujar Rizky.

 

3. Perlunya Simpati dan Evaluasi


Kasus keterlambatan yang terjadi di dua tahun terakhir, di tambah dengan track record banyaknya berkas yang hilang dan nyasar tentunya menjadi sorotan publik kepada pihak yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Glenn Assyauri Lubis selaku ketua Senat Fakultas Syariah Islamiyah (SEMA-FSI) menjelaskan bahwa masalah telatnya Maba di dua tahun terakhir harusnya sudah bisa menjadi sampel masalah dan pertimbangan bagi pihak yang awalnya menjanjikan kemudahan pada para konsumernya.


“Apakah kemudahan yang ditawarkan dari grup itu benar-benar kemudahan? Toh orang yang datang ke sini akhirnya jadi sulit kan?”


Hilang dan nyasarnya berkas Maba ini layaknya sebuah penyakit yang menjangkiti para Maba yang baru tiba, hal ini pun tentunya sudah berada di luar ranah Senat dan PPMI Mesir. Abdul Kadir Zaylani, Ketua KASTRAT PPMI Mesir menegaskan kembali bahwa kadar Instansi Masisir hanyalah merawat mereka yang telah terjangkit penyakit tersebut, baik keterlambatan, masalah berkas, dan lainnya.


Adapun perihal bagaimana agar penyakit itu tidak menjangkiti para Maba membutuhkan perhatian dan evaluasi dari si empunya regulasi itu sendiri, serta yang bertanggung jawab langsung dalam proses pemberangkatan dan pemberkasan tersebut. Baik OIAA, Pusiba dan pihak lain yang juga langsung terlibat. Baik dari segi antisipasi dan pengoptimalan jadwal keberangkatan agar tidak terlambat pun pengawalan berkas-berkas


Tak berhenti sampai di situ, pihak Senat juga menyuarakan simpati bagi para Maba sebagai korban berbagai ketidakjelasan, serta ketidaksiapan administratornya dalam penanggulangan kedatangan Maba ini.


“Mereka itu datang ke sini bukan untuk diberikan serangan masalah, mereka di sini itu mau belajar, makanya mereka mau mengeluarkan uang banyak untuk daftar ke sini, yah itu gambaran jelaslah bahwa mereka itu pengen banget belajar di sini,” ujar Rizky.


Banyaknya ketidakjelasan dan eror dalam pengurusan Maba ini tentunya menjadi indikasi diperlukannya evaluasi, baik dalam regulasi dan pelaksanaan regulasi tersebut. Pun sejalan dengan yang dituturkan Senat, diperlukan simpati, khususnya bagi OIAA yang bertanggung jawab langsung atas permasalahan ini. Agar melihat kembali apa yang perlu dan harus diperbaiki demi kemaslahatan adik-adik junior mereka di al-Azhar, dalam hal ini Maba.       


Reporter: Ichsan Semma

Editor: Ryan Saputra 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar