Breaking News
Loading...

Senin, 12 Desember 2022

Mumtaz, Sebuah Beban Dunia Akhirat

Foto bersama setelah sidang (Gambar: dok. Wawasan)

Wawasan, Kairo— Meraih predikat mumtaz dalam sidang tesisnya, Halim Bahri Darwis  mengutarakan rasa syukur.  “Alhamdulillah batu besar yang selama delapan tahun saya pikul terasa sudah hilang. Tapi ada batu besar lain yang lebih besar yang datang untuk dipikul, batu besar itu adalah gelar baru dari al-Azhar yang harus saya pegang dan pertanggungjawabkan seumur hidup di dunia dan di akhirat.” Setelah menghadapi sidang tesis yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam, Pria 31 tahun tersebut, menyampaikan rasa sukacita yang ia rasakan selama proses menempuh pendidikan S2.

 

Suasana haru dan bahagia menyelimuti auditorium al-Marhum Muhammad Fuad An-Nadi, Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar, Kairo Pada Minggu (11/12). Pria yang akrab disapa Baba Kinan tersebut, berhasil membawakan tesisnya yang berjudul “At-ta’arud wa At-tarjih baina Al-Aqisah min Khilali Kitab Al-Majmu’ min Awwali Kitabi Al-Ijarah ila Akhiri Kitab As-Saddaq” dengan jumlah 650 halaman.

 

Di balik pencapaian yang ia dapatkan, dalam menempuh pendidikan  S2-nya di bidang takhassus usul fikih ini menyimpan banyak cerita suka dan duka pada proses penyelesaian tesisnya. Di mana ia harus kehilangan sosok ibu di tahun pertama penulisan. Tidak hanya sampai disitu, pembagian waktu dan peran sebagai mahasiswa, suami, dan ayah harus tetap dia jalani sebagai kewajiban utama dalam hidupnya.

 

Selain itu, Pria yang berasal dari Sulawesi ini juga menghadapi tantangan baru dalam penyelesaian tesisnya. “Saat tesis saya sudah hampir selesai, pembimbing utama saya ternyata sakit dan harus pindah ke pembimbing baru. Akhirnya mau tidak mau saya harus mulai lagi dari awal. Beda kepala beda isi otak, beda pembimbing pastilah beda perspektif juga dalam memandang baik buruknya metode dalam tesis saya. Jadi harapan saya untuk munaqasyah pupus dan tertunda setahun lebih,” tuturnya.

 

Namun peran orangtua dan keluarga dalam menyemangati dan mendoakannya membuat Halim mampu menyelesaikan proses panjangnya di bangku S2 yang juga merupakan amanah dari gurunya, Alm.Gurutta Sanusi Baco dengan tekun dan penuh kesabaran.        

 

Halim mengutarakan bentuk perhatiannya dengan berbagi motivasi kepada para pelajar dan mahasiswa yang sedang menyelami lautan ilmu di al-Azhar, bahwa setiap orang punya kesempatan mengukir kisahnya masing-masing, minimal hari ini kita bisa menjadi secuil lebih baik dari hari kemarin, begitu pun setiap orang punya motivasinya masing-masing. Tapi dari semua motivasi-motivasi itu, rida Allah SWT. harus tetap menjadi tujuan yang tidak boleh luput dari kehidupan kita.


Reporter: Afwa Anna, Aisyah Bannu

Editor: Ichsan Semma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar