Breaking News
Loading...

Senin, 21 November 2022

AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, Sejarah Hidup Pembesar Islam di Tanah Bugis dan Warisan Utamanya


AGH. Abdurrahman Ambo Dalle

    Oleh: Aisyah Bannu


AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, adalah organisator sekaligus salah satu tokoh pembesar Islam yang lahir lima tahun sebelum kolonial Belanda mengubah sejarah Sulawesi Selatan. Ulama yang berdarah bangsawan Bugis  ini sejak kecil telah bercita-cita untuk menyiarkan Islam guna menghapus paham animisme yang masih sangat kental  di daerahnya.  Kedatangan Islam melalui dakwah yang ia bawakan berhasil mengakomodasi banyak tatanan, nilai dan tradisi, yang mana ketika  Islam datang, Indonesia tidak kosong dengan kultur budaya.

 

Siar yang ramah dan tinggi toleransi, menjadikan dakwah Gurutta Abdurrahman Ambo Dalle berhasil membawa Darud Da’wah Wal Irsyad sebagai salah satu pusat peradaban ilmu hingga memiliki cabang hampir ke seluruh penjuru Indonesia Timur.  Dalam sepak terjangnya, semangat dan pengorbanan dalam membangun peradaban serta pengabdian yang total juga kepemimpinan yang adil menjadi nilai tersendiri, lekat di jiwa murid dan para pecintanya.

 

1. Sejarah Perjalanan Hidup Ambo Dalle

Semerbak keindahan memenuhi mata yang memandang. Hamparan sawah, kicauan burung dan gemercik air juga angin sepoi adalah warna kedamaian yang terpancar di sebuah kampung bernama Ujung E, tepatnya Kec. Tanasitolo, sekitar 7 km dari Kota Sengkang.  Di kampung yang rancak inilah pada hari Selasa tahun 1900, lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan yang berdarah bangsawan Bugis, Puang Ngati Daeng Patobo dan Puang Candara Dewi.

 

           Bayi kecil ini diberi nama Ambo Dalle, dalam bahasa bugis Ambo artinya bapak dan Dalle artinya rezeki, dengan harapan putra tunggalnya itu kelak mendatangkan rezeki yang melimpah.   Adapun nama Abdurrahman didapatkannya ketika berada di jenjang sekolah agama. Lahir di lingkungan bangsawan,  membuat Ambo Dalle kecil mendapatkan didikan yang baik dan sangat ketat. Jika dilihat dari sikap Puang Ngati dan Puang Cendara yang tidak memanjakannya, tidak heran  jika pada usia tujuh tahun ia sudah menghafal Alquran dengan baik yang membuatnya populer di kalangan  masyarakat dan didatangi banyak anak-anak untuk belajar mengaji.

 

           Jiwa yang selalu haus ilmu ditunjukkan Abdurrahman sejak ia dini, terlihat hampir setiap hari ia berangkat ke Sengkang, Kabupaten Wajo yang berjarak 7 km dari kediamannya untuk mengikuti pelajaran di sekolah Volk-Scholl, tak hanya itu, ia juga mengambil kursus bahasa Belanda di HIS (Holland Inlands Scholl).  Namun, fokusnya untuk memperoleh pengetahuan tidak menjadikan ia buta dengan kebutuhan jasmani, di mana waktu luang yang ia miliki digunakan untuk berolahraga,  yaitu sepak bola. Ia dikenal sebagai pemain yang tangkas, bahkan oleh teman-temannya ia dijuluki “Si Rusa” karena larinya yang kencang.


Berangkat dari hal ini, bisa kita lihat bahwa setingkat ulama pun tidak hanya menghabiskan masa mudanya dengan berkutat dengan buku saja, tapi juga dengan bermain  dan olahraga sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan dan me-refresh otak. Ini pun selaras  dengan pepatah Arab yang mengatakan:

عقل السليم في جسم السليم

          

Lalu, ketika banyak ulama dari Negeri Wajo kembali dari belajar di Mekah dan membuka pengajian Nahwu, Saraf, Fikih, juga Tafsir, Pemerintah Kerajaan Wajo merasa senang karena Arung Matoa dan Arung Enneng sangat menyukai ulama. Itulah sebabnya kerajaan saat itu sering menjadikan mereka sebagai tamu dan tak jarang mereka tinggal bersama beberapa waktu untuk memberikan pengajian. Kesempatan itu tentunya tidak dilewatkan oleh Ambo Dalle, dengan menghadiri halaqah yang dihadirkan oleh para ulama saat itu.

          

 Ambo Dalle muda melanjutkan pendidikannya dengan merantau ke Makassar di mana sekolah Syarikat Islam  menjadi pilihannya saat itu. Kemudian pada tahun 1928, ketika Muhammad As’ad Bin Abdul Rasyid Al Bugisy, seorang Ulama Wajo pulang ke tanah air dan  membuka pengajian, bersamaan dengan Ambo Dalle yang telah kembali ke Sengkang. Disitulah awal kedekatan antara guru dan murid ini terjalin, setiap kali putra semata wayang Puang Ngati ini mengikuti pengajian, diam-diam  Sang Maha Guru As’ad sering mengamati.

          

Ambo Dalle dianggap sebagai murid yang cerdas. Setiap kali diberi pertanyaan dari berbagai pelajaran yang sifatnya dadakan, jawabannyalah yang dianggap paling benar. Bahkan ilmunya dianggap setara dengan gurunya.

 

”Mulanya saya sekelas dengan Gurutta, tapi beliau sering naik kelas lebih cepat karena sangat cerdas,” ungkap AGH. M. Abduh Pabbajah. 

 

Di sisi lain, melalui saran Arung Enneng, pengajian yang mulanya bersifat halaqah  mulai berkembang dengan dibukanya madrasah, di samping tetap mempertahankan sistem lama. Dengan tingkatan awaliyah, ibtidaiyah, iddadiyah dan tsanawiyah yang kemudian bernama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI). Di mana Ambo Dalle tak lain yang ditunjuk sebagai pimpinan perguruan.

          

Sementara itu, kemunculan DDI sendiri dimulai karena ketertarikan seorang Raja dari Kesultanan Soppeng Riaja, H. M. Yusuf Andi Dagong Petta Soppeng. Ia juga bermaksud mendirikan perguruan yang sama yang didirikan Gurutta As’ad karena khawatir dengan keadaan agama rakyatnya. Meskipun sempat mengalami penolakan, permintaan pada Gurutta As’ad akhirnya diterima. Rabu, 29 Syawal 1357 H atau 21 Desember 1938 M , Ambo Dalle memulai babak baru, pindah ke Mangkoso sebagai guru utusan sang Ulama Sengkang.


Setelah melalui perjalanan yang panjang, atas kesepakatan sejumlah ulama pendukung MAI di Watang Soppeng, tanggal 7 Februari 1947 terbentuk sebuah organisasi pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan bernama Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI), dan Gurutta Ambo Dalle ditunjuk sebagai ketua bersama Gurutta Abduh Pabbajah.  Dengan ini, MAI Mangkoso yang sudah berkembang terintegrasi  dengan organisasi baru itu.

 

Menebarkan kasih sayang kepada umat dengan pendekatan serta jihad yang indah melalui jalan dakwah, itulah yang dilakukan  putra tunggal Puang Cendara dalam menyiarkan Islam. Ambo Dalle yang kerap disapa Gurutta oleh para santrinya yang artinya guru kita, mengayuh sepedanya 35 km demi mengajar murid- muridnya dan menemui umatnya untuk berdakwah.  Pengabdiannya yang total dan kepemimpinan yang adil, lekat di jiwa para murid dan pecintanya. Dalam mengayomi dan melayani umat, Gurutta telah menunjukkan cerminan yang mana sangat diharapkan adanya pemimpin  dan ulama seperti beliau.

 

2. Diculik DI/TII Selama 8 Tahun.

           Piagam Makalua sebagai konstitusi awal negara Republik Islam Indonesia berisi 11 bab dan 56 pasal.  Salah satu bab itulah yang menjadi sebab Abdul Qahhar Muzakkar, ketua DI/TII harus merekrut sebanyak mungkin ulama dan tokoh pendidikan, guna membantunya dalam menjalankan aturan di tengah masyarakat Darul Islam, yakni bab 11 pasal 56 tentang  pelaksanaan hukum syariat Islam. Gurutta Ambo Dalle adalah salah satu ulama yang sangat dibutuhkan saat itu, sehingga ia melakukan aksi penculikan untuk mengajak beliau bergabung.

 

Dilansir dalam tulisan yang berjudul,” Biografi Pemimpin Pondok Pesantren DDI Mangkoso” yang ditulis oleh Ahmad Rasyid, sebuah peristiwa yang cukup membekas dalam napak tilas Gurutta. Ketika beliau bergabung dalam gerakan DI/TII,  dimulai ketika mobil yang ditumpanginya dihadang oleh sekelompok bersenjata pada perjalanannya dari Pare-Pare ke Makassar. Gurutta diculik bersama dengan para santri sekaligus sopir yang menyertainya untuk bergabung dengan DI/TII. Penulis juga menambahkan bahwa menurut sejarawan Anhar Gonggong, tragedi penculikan ini hanya rekayasa, di mana sebelum penculikan Gurutta telah ada komunikasi dengan Abdul Qahhar.

 

Masa penculikan dalam kurung waktu hampir delapan tahun (1955-1963), ia jadikan peluang untuk berdakwah meski harus berpindah-pindah. Beberapa lokasi yang beliau tempati menetap dijadikan ladang untuk menyiarkan Islam, seperti Gattareng Matinggi, Ranteballa, Salo Bulo, Bajo, Binturu di Luwu, Soro dan Awo di Wajo, Lambai dan Ranteangin di Kolaka Utara, dan Belawae di daerah Sidrap.             

 

Perlu diketahui bahwa keadaan masyarakat  di daerah tersebut saat itu masih buta dengan paham akidah yang benar. Hal ini menjadi keresahan Gurutta yang membuat ia bertekad menetap untuk berdakwah di setiap tempat yang ia datangi selama masa penculikan. Ini sejalan dengan perkataan AGH. Muhammad Faried Wajedy bahwa Gurutta Abdurrahman Ambo Dalle adalah seorang ulama yang ikhlas, penuh dedikasi, serta komitmen dalam menyiarkan Islam.  “Beliau adalah seolang ulama yang betul-betul ikhlas. Bahkan ketika diculik masuk hutan, kerjanya hanya berdakwah, mengajar, berdakwah, mengajar,” tutur Gurutta Faried.

 

”Kata murid yang ikut dengan beliau di hutan, kapan kita tiba di suatu tempat, buka kitabmu kita belajar. Nah bayangkan, delapan tahun tiada gaji tiada amplop,” lanjutnya.

          

Gurutta Ambo Dalle pun tak pernah kehabisan cara untuk mewujudkan cita-citanya dalam menyiarkan Islam. Ketika tentara Jepang menguasai daerah Mangkoso dan tidak mengizinkan kegiatan belajar-mengajar di Madrasah, Gurutta memindahkan kegiatan belajar tersebut ke masjid dan rumah-rumah guru. Idenya yang cemerlang membuat tentara Jepang tidak mengetahui hal tersebut, dengan mengecat pintu dan kaca jendela lalu melakukan kegiatan belajar pada malam hari.

 

Semangat juga komitmen seperti inilah yang harus dihadirkan dalam diri setiap insan, bukan semata-mata untuk umat, pun negara. Tapi, terlebih dahulu untuk melahirkan diri yang senantiasa optimis pada apa yang kita cita-citakan. Gurutta dengan  berbekal hati yang ikhlas, berkomitmen  untuk  terus berdakwah, menjadikan  ia terus optimis dengan apa yang ia cita-citakan.

 

3. Warisan yang Harus Dimilki

Puluhan bahkan ribuan karya silsilah tentang Gurutta Abdurrahman Ambo Dalle, tentunya membuka mata kita bahwa keberhasilan dalam menyiarkan Islam bukan hanya sebatas dengan bercita-cita saja, namun juga dibuktikan dengan semangat dan aksi yang tak pernah padam pun surut meski diterpa angin dan tak pernah hilang ditelan usia.

 

Sikapnya yang punya komitmen yang kuat, semangat, juga rasa ikhlas adalah warisan beliau yang tentunya sangat perlu dimiliki dalam diri, khususnya kita para penuntut ilmu. Bagaimana Gurutta begitu semangat dalam mencari ilmu pengetahuan, lalu dengan ikhlas menebarkannya dengan cinta yang menjadi dasar Islam pada setiap sisi di mana kakinya berpijak.


Editor: Ichsan Semma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar