Breaking News
Loading...

Jumat, 28 Oktober 2022

Berdaya Menjaga Martabat Manusia?


Ilustrasi Santri (Gambar: dok. Wawasan)

Oleh: Muhammad Alim Nur

     ”Berdaya Menjaga Martabat Manusia” merupakan tema Hari Santri Nasional tahun ini. Menurut saya tema kali ini mengandung makna dan pesan bahwa santri adalah pribadi yang selalu siap sedia berdiri di garda terdepan untuk mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan negara, serta menjaga martabat kemanusiaan adalah esensi daripada mengamalkan  Nilai-nilai agama.

 

     Indonesia memiliki sejarah tentang bagaimana para laskar santri dan tokoh pesantren membulatkan tekad dalam melakukan jihad membela tanah air, yang kita kenal dengan nama Resolusi Jihad. Pondok pesantren saat itu dijadikan sebagai markas perjuangan. Sebagian besar dari kelompok santri dan rakyat, baik dari kalangan tua dan muda, mempertaruhkan nyawa untuk kepentingan bangsa dan negara.

 

Lantas apakah tema ini sudah menggambarkan realita yang sedang terjadi di lingkungan pesantren di negara kita saat ini? Menurut saya belum, karena masih banyak yang tidak amanah dalam menjaga martabat manusia, seperti kasus pelecehan seksual yang banyak terjadi di lingkungan pesantren yang menghebohkan penjuru Indonesia.

 

 Dalam perkembangannya, esensi Resolusi Jihad telah memudar, menjadi bias, dan bahkan mengalami distorsi. Pesantren yang harusnya terdepan membela dan menjaga tanah air, malah perusak lahir dari rahimnya. Para pembesar pesantren yang harusnya menanamkan nilai kemanusiaan pada santrinya, justru menjadi aktor yang melecehkan martabatnya. Menjaga martabat santri sama artinya dengan menjaga martabat kemanusiaan.

 

Reputasi pesantren tergadaikan akibat kasus kejahatan yang dilakukan oleh oknum yang melakukan pelecehan seksual berkedok menjalankan ajaran agama. Jangan sampai khazanah kesucian pesantren tergerus dan tercemari oleh perilaku oknum pesantren, apalagi jajaran guru atau pimpinannya yang menjadi oknum. Justru merekalah yang wajib menjaga marwah dan nama baik pesantren.

 

Penulis melihat bahwa permasalahan yang paling banyak terjadi di lingkungan pesantren adalah kekerasan seksual terhadap santri, terutama santriwati. Seperti yang dilakukan oleh anak pengasuh pondok terkenal yang tidak perlu saya sebutkan namanya dan kasus pimpinan pesantren yang menghamili beberapa orang  santrinya. Mereka melancarkan aksi bejatnya dengan modus mengamalkan nilai agama. Menurut saya orang seperti ini harus di bumihanguskan. Mereka terlalu menggembar-gemborkan tentang keesahan Tuhan, sampai lupa cara memanusiakan manusia.

 

           Pesantren yang selalu mengedepankan penghormatan kepada pengasuh merupakan bentuk dari power relation imbalance. Pada akhirnya santri sering hanya dijadikan sebagai objek keuntungan, bahkan ironinya sampai menjadi objek pelampiasan nafsu birahinya. Menurut saya, para pelaku yang seperti ini harus diadili seadil-adilnya karena menggunakan nama pengasuh atau pembesar sebagai alat penyalahgunaan kekuasaan. Pembesar pesantren harusnya menjadi pelopor dan duta penanaman nilai-nilai moral kemanusiaan, bukan malah menjadi aktor penyebab dekadensi moral.

 

Perlu kita pahami dan tanamkan bahwa bagaimana agama bukan hanya sekadar ilmu penafsiran atau ilmu pemahaman semata, akan tetapi juga  sebagai transformasi dari pikiran Tuhan kepada kehidupan manusia yang mengintegrasikan wawasan keislaman untuk menegakkan martabat manusia.

 

Dalam kitab Min al-Aqidah ila al-Tsauroh al-Muqodiimat al-Nadzariah, karangan Hassan Hanafi, beliau mengatakan bahwa kalimat syahadat mengandung dua persoalan pokok. Pertama, penafian atau peniadaan. dan yang Kedua adalah penetapan.

 

Tindakan meniadakaan, seseorang hendaknya membebaskan manusia dari berbagai bentuk pemaksaan, penganiayaan, otoritarianisme, dan kekejaman. Tindakan penetapan, di dalamnya diletakkan perasaan yang kokoh terhadap Tuhan dengan prinsip tunggal.

 

Menurut saya, upaya yang dilakukan oleh Hassan Hanafi mengajarkan kepada kita bahwa dalam kalimat syahadat terkandung nilai kemanusiaan dan ketuhanan yang dibawa melalui risalah kenabian.

 

Kemanusiaan harus diwujudkan melalui pemenuhan hak dasar manusia dalam kerangka kehidupan sosial sebagai warga negara dengan adil. Menjaga martabat kemanusiaan terhadap siapapun dan tanpa tendensi apapun.

 

Dalam lingkungan pesantren misalnya, kemanusiaan di tempatkan sebagai pemenuhan kebutuhan santri dalam rangka pembentukan kebaikan bermasyarakat. Secara individu, santri bukanlah pusat realitas karena setiap individu yang lahir ada dan eksis dalam konteks kemasyarakatan yang menyeru dan memberikan keteladanan.

  

 Penghormatan kepada santri dan individu lainnya merupakan bagian dari pemuliaan nilai-nilai kebaikan yang berjalan beriringan dengan kultur budaya kebangsaan. Kemanusiaan merupakan senjata bagi pesantren untuk perjuangan santri agar berdaya dan bermanfaat bagi bangsa dan negara sebagai wujud pengejawantahan nilai-nilai keislaman

 

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya sebuah keniscayaan tindakan kekerasan asusila dalam lingkungan pesantren itu akan tetap ada, dan ini hanya dilakukan oleh sebagian kecil dari sekian banyak pesantren di Indonesia yang tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan pada santrinya.

 

Untuk menjernihkan opini publik tentang integritas pesantren dan santri, maka saya menyarankan dan mengajak kepada masyarakat untuk memperhatikan track record daripada pesantren melalui jalur informasi yang akurat, dan melihat ulama dan tokoh masyarakat yang terpercaya dan amanah yang menjadi tauladan bangsa Indonesia.

 

           Maka sejalan dengan tema Hari Santri Nasional tahun ini, “Berdaya Menjaga Martabat Manusia” semoga bisa menjadi momentum untuk melahirkan generasi emas, cerdas, berakhlak mulia dan menjadi role model untuk mencetak manusia yang berkarakter. Serta menjadi bahan evaluasi bersama agar tidak terlalu fokus pada pengokohan Tuhan Sampai memarginalkan urusan kemanusiaan, sekian.


Editor: Fakhrur Riza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar