Breaking News
Loading...

Sabtu, 08 Oktober 2022

Adakan Pertemuan Terbuka dengan Delegasi Masisir, OIAA Pusat Coba Serap Aspirasi Rakyat

 

Delegasi Masisir (Gambar. dok. Wawasan)


Wawasan, Kairo- Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) yang berpusat di Mesir mengadakan pertemuan terbuka bersama mahasiswa Indonesia di Mesir yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo. Pertemuan yang dilaksanakan pada hari Senin, (3/10) di gedung The World Organization for Al-Azhar Graduates, Hayy Sadis ini merupakan bentuk konsolidasi dan serap aspirasi pihak OIAA yang baru saja dilantik bersama mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar.

 

Pertemuan yang difokuskan pada penyampaian aspirasi dan keluhan mahasiswa Al-Azhar kepada pihak OIAA, turut dihadiri juga oleh Prof. Dr. Mohamed Hussein Al-Mahrasawi dan Prof. Dr. Osamah Yasin yang merupakan perwakilan dari OIAA Pusat itu sendiri, serta beberapa perwakilan dari mahasiswa Indonesia, diantaranya PPMI Mesir, Forsema (Forum Senat Mahasiswa), dan Wihdah. Keluhan-keluhan yang disampaikan dapat berupa regulasi perkuliahan dari berbagai aspek, mulai dari kegiatan belajar-mengajar, sarana dan prasarana, permasalahan administrasi, dan lainnya.

“Inilah fungsi dari perkumpulan ini (red: OIAA) ini sebagai tempat silaturahmi antara kita pihak kantor dengan kalian semua dalam hal apapun, termasuk menyampaikan permasalahan.  Apapun kebetuhan kalian, pasti kami akan berusaha untuk memenuhinya. Maka di awal pengurusan ini, kami memulai dengan pertemuan terbuka ini,” ungkap Prof. Al-Mahrasawi, mantan Rektor Universitas Al-Azhar saat menyampaikan sambutannya.

 

Sebagai perwakilan dari PPMI Mesir, Muhammad Fikri Mirfaqo, selaku Sekretaris Jenderal PPMI Mesir periode 2022/2023 menyampaikan aspirasi mahasiswa Al-Azhar secara umum. Beberapa permasalahan yang telah dirangkum dalam sebuah kertas, disampaikan langsung kepada pihak OIAA pada pertemuan perdana tersebut.

 

Diantara hal yang dipaparkan adalah terkait adanya regulasi penggunaan syahadah asliyyah (red: ijazah asli) di jurusan Syariah Islamiah Banat yang menjadi salah satu persyaratan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Dirasat Ulya (red: Magister)  di Universitas Al-Azhar.  Hal tersebut, langsung ditanggapi oleh Prof. al-Mahrasawi, bahwa syahadah asliyyah itu hanya untuk konsumsi pribadi atau untuk mendaftar pekerjaan, tapi tidak menjadi persyaratan untuk melanjutkan pendidikan Magister. Akan tetapi, yang menjadi persyaratannya adalah syahadah muaqqotah (red: ijazah sementara) saja.

 

Selanjutnya, Fikri juga menyampaikan perihal adanya kasus “salah jurusan” yang dialami mahasiswa baru, dimana pada awalnya sang mahasiswa memilih jurusan Ushuluddin ketika mendaftarkan diri ke universitas, tapi yang keluar justru nyasar ke jurusan Jurnalistik dan masih ada beberapa kasus yang serupa.

“Penyebab dari permasalahan ini muncul dari mahasiswanya sendiri, bukan dari pihak jami’ah (kampus). Karena data yang keluar itu berdasarkan apa yang telah diisi oleh tholib (red: pelajar) itu sendiri. Kemudian, sebab yang lain bisa jadi total nilainya tidak mencukupi standar jurusan yang dituju,” jelas mantan Rektor Universitas Al-Azhar tersebut.

 

Kemudian, beralih ke permasalahan selanjutnya disampaikan oleh Kevin Damara, Lc., Wakil Presiden PPMI Mesir periode 2021/2022 terkait permasalahan yang dialami oleh mahasiswi tingkat akhir tahun kemarin, dimana ketika mereka ingin mendapatkan ijazah, pihak syuun (red: kantor administrasi) memberikan persyaratan untuk mengumpulkan semua faturah rusum (red: bukti pembayaran tahunan) dari tahun pertama hingga tahun akhir. Mendengar hal itu, Prof. Al-Mahrasawi mengingatkan agar senantiasa untuk menjaga bukti pembayaran tersebut.


“Bukti pembayaran itu ada dua lembar. Satunya untuk diserahkan ke pihak syuun dan satunya lagi wajib untuk dijaga. Karena ini juga menjadi bentuk pembuktian bahwa kamu benar-benar telah membayar,” terangnya.

 

Sebuah permasalahan juga dilontarkan oleh Hunna Hayyu Rosyida, Ketua Wihdah PPMI Mesir 2022/2023 dalam mengkases muqarrar (red: diktat kuliah) online. Menyoal kebijakan tersebut, Prof. Al-Mahrasawi menyampaikan bahwa itu merupakan ketetapan pemerintah Mesir, bukan dari Al-Azhar.

“Akan tetapi, ada satu hal penting sebenarnya yang harus kita garis bawahi, bahwasanya ketika kalian ingin lulus dari kampus dan menjadi seorang Alim, maka diktat dalam bentuk apapun tidak akan menjadikanmu sebagai seorang Alim. Itu hanya sebagai penunjang saja. Selebihnya, kalian harus memiliki perpustakaan pribadi dan memiliki banyak referensi bacaan,” ungkapanya.

 

Pertemuan yang berlangsung kurang lebih satu jam, Fikri menyampaikan kesannya terhadap pertemuan perdana ini dengan pihak OIAA.

“Menurut pribadi, terkait kesan pertama sudah baik. Baik dalam artian sudah ada undangan dan iktikad sambutan dimana beliau ingin mendengarkan beberapa permasalahan. Tapi, otomatis yang perlu kita garis bawahi adalah adanya mutaba’ah atau follow up. Karena kalau seandainya ini hanya formalitas saja tanpa ada mutaba’ah, maka dirasa rugi sekali. Maka, itulah peluang bagi PPMI, Forsema, dan secara keseluruhan mahasiswa Indonesia. Terkait pertemuan selanjutnya, beliau sudah menyampaikan bahwa ini akan diadakan secara rutin bulanan,” terangnya kepada kru Wawasan saat menjalani sesi wawancara.

 

Di akhir pertemuan tersebut, para peserta forum juga turut meramaikan “Pameran Buku dalam Memperingati Peristiwa 6 Oktober” yang berlokasi di taman kantor OIAA tersebut (samping gerbang Fakultas Pertanian Univeristas Al-Azhar). Pameran yang berlangsung sejak hari Ahad hingga Rabu, banyak menghadirkan buku yang bermacam-macam genre mulai dari sejarah, bahasa, dan lainnya dimana pameran tersebut menghadirkan potongan harga hingga 50%.

 

Reporter: Ryan Saputra 

 Editor: Fakhrur Riza

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar