Breaking News
Loading...

Minggu, 18 September 2022

Nasaruddin Umar, Inspirasi Islam Nusantara, Fleksibilitas, Kreativitas, dan Universalitas Dakwah

         

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA (Gambar: dok. Wawasan)

Oleh: Andi Fakhrur Riza

         Gaya khas Islam nusantara yang kita hirup hari ini identik dengan kekayaan akan toleransi dan mudah berbaur dengan beragam kultur budaya, ini tentunya tak lepas dari beragam perjuangan yang telah jauh waktu ditanam oleh para tokoh Islam. Pada eranya, model dakwah Walisongo yang sederhana dan sarat akan pendekatan tasawuf telah terbukti ampuh dan sukses membangun masyarakat Islam yang moderat. Begitu pun napak tilas sejarah para ulama pendiri pondok pesantren yang kaya makna dan membekas dalam benak kita, umat Islam Indonesia.

 

Model Islam seperti ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi beragama dan mendapat perhatian khusus di kalangan penganut Islam di Indonesia. KH. Said Aqil Siraj yang merupakan Ketua Dewan Eksekutif Nahdatul Ulama (NU) dalam hal ini menggambarkan Islam Nusantara sebagai Islam yang fleksibel dan tak menghapus budaya lokal. Islam yang tidak memusuhi tradisi dan tak menghilangkan kultur.

 

Paham Islam nusantara inilah yang banyak diadopsi oleh para ulama kontemporer. Salah satu yang gencar dan sering menerapkannya adalah Prof.Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Ulama berdarah Sulawesi yang juga dikenal sebagai penulis aktif yang memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai penulis artikel terbanyak yaitu enam ribu artikel dalam kurun waktu lima tahun yang diterbitkan oleh beberapa media nasional.

 

Prof. Nasaruddin Umar lahir di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan, pada tanggal 23 Juni 1959. Lahir dari keluarga agamis membuat masa kecilnya sarat akan nilai-nilai filosofis agama. Oleh Alm. H.Andi Muhammad Umar dan Alm. Hj. Andi Bunga Tungke, ia ditanamkan benih Islam dan semangat juang yang nantinya mampu menghadirkan wajah baru pada Islam modern. Di tanah ini pulalah orangtuanya kelak membangun sebuah pondok pesantren yang hari ini kita kenal dengan nama pondok pesantren Al-Ikhlas yang didirikan pada tanggal 18 September 2000.

 

1. Rekam jejak Prof. Nasaruddin Umar dan Relevansinya bagi Pemuda Milenial.

 

Namanya yang kian dikenal hari ini tentunya menyimpan kisah perjuangan yang tak kalah menariknya, dari tanah kelahirannya ia mengembara menuntut ilmu menggunakan sepeda kuno ke pondok pesantren As’adiyah, Sengkang, yang juga didirikan oleh seorang ulama karismatik bernama KH. Muhammad As’ad. Setelah menempuh pendidikan agama di sana sampai lulus, ia melanjutkan studinya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang dengan mengambil studi Fakultas Syari’ah pada tahun 1980. Berkat keuletan dan kegigihannya dalam belajar, ia akhirnya lulus dengan menyandang gelar sebagai sarjana muda dan mahasiswa teladan pada tahun 1984.

 

 Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan studinya pada program pasca-sarjana di Universitas Islam Negeri(UIN) Alauddin pada tahun 1990. Sama seperti sebelumnya, ia pun turut menorehkan prestasi dengan mampu lulus tanpa tesis di tahun 1992, hal yang jarang dicapai oleh mahasiswa kala itu.

 

Torehan yang ia raih semasa kuliah tidak membuat semangat dan dirinya merasa puas begitu saja, hal itu terlihat jelas di tahun berikutnya, di mana pada 1993 ia mendaftarkan diri pada program doktor di Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Syarif Hidayatullah. Selama masa kedoktoralannya, ia menjadi satu-satunya mahasiswa yang dikirim sebagai utusan pertukaran pelajar ke Universitas McGill, Montreal,  Kanada(1993-1994), di tahun berikutnya, ia sekali lagi dijadikan utusan pertukaran pelajar di Negeri Kincir Angin, Belanda. Tepatnya pada Universitas Leiden(1994-1995), dan sandwich program di Paris University, Prancis(1995). Ia meraih gelar Doktor (phD) dengan disertasi yang bertajuk “Perspektif Gender dalam Alquran” yang selain itu ia juga dinobatkan sebagai lulusan doktoral terbaik pada tahun 1998.

 

Berbagai prestasi lainnya yang juga pernah ia torehkan diantaranya menjadi sarjana tamu pada tiga universitas berbeda, ditiga negara yang berbeda. Shopia University, Tokyo, Jepang (2001). Saos University of London, Inggris (2001-2002). Dan di Georgetown Univesity, Washington DC, USA (2003-2004). Prof. Nasaruddin juga merupakan anggota tim penasihat Inggris-Indonesia yang didirikan oleh mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair.

 

Salah satu karyanya yang menarik jadi perbincangan adalah disertasi doktoralnya yang berjudul “Argumen Kesetaraan Gender, Perspektif Alquran”.  Dalam jurnal terkait, karya Sakdiah Sakdiah. Ia mengungkapkan Prof. Nasaruddin mengangkat tema ini dilatarbekangi oleh kegelisahan intelektualnya. Melihat ayat-ayat Alquran yang seringkali dijadikan alat justifikasi paham patriarkisme, paham yang menempatkan perempuan pada gender kedua dan sebaliknya, menempatkan laki-laki pada titik sentral dalam hal ritual maupun sosial.

 

         Menurutnya, masih terjadi ambiguitas pemahaman apakah gender bersifat nature (kodrat) atau nuture (kontsruksi sosial). Menanggapi hal itu, Nasaruddin melakukan penelitian terhadap ayat-ayat Alquran yang membahas tentang relasi antara Laki-laki dan perempuan melalui  analisis tematik (tafsir maudhu’i) dengan berbagai pendekatan seperti semantik-linguistik, normatif-teologis, dan sosio-historis. Hasilnya, Alquran tidak secara tegas menyatakan dukungan terhadap kedua paradigma gender baik nature dan nuture. Secara garis besar, Alquran mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan itu justru tidak serta merta menguntungkan salah satu pihak dan memarjinalkan pihak yang lain. Perbedaan nyatanya justru menjadi pendukung obsesi Alquran terkait dengan kehidupan yang harmonis, seimbang, dan dipenuhi kebajikan.

 

         Sepak terjang Prof. Nasaruddin Umar dikancah pendidikan tidak hanya hadir sebagai bahan bacaan belaka dan dituangkan pada beberapa forum diskusi, tapi juga menjadi pendorong bagi pemuda zaman milenial untuk terus memupuk benih kesuksesan sejak jauh-jauh hari. Prof. Nasaruddin adalah replika nyata bagaimana prestasi bukan dijadikan tujuan utama sehingga menganggap langkah kita sudah berhenti sampai disitu, melainkan sebagai barometer untuk mengukur seberapa jauh kita melangkah, lalu bersiap untuk memulai langkah yang baru. Dengan metode ini, bukan tidak mungkin akan banyak prestasi yang kian menghampiri.

 

Menjadi intelektual muslim yang ahli di bidang tafsir, secara implisit menjadi landasannya  sebagai guru besar ilmu tafsir pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah, Jakarta. Selain sebagai seorang guru besar, ayah tiga orang anak ini juga adalah seorang Rektor pada Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta. Selain sebagai seorang akademis, Prof Nasarudin yang saat ini menjadi Imam Besar Istiqlal juga dikenal aktif membawakan berbagai diskusi dan kajian.

 

Satu hal yang menarik dari Prof. Nasaruddin Umar yakni metode dakwahnya yang cenderung kepada sisi filosofis ajaran islam melalui pendekatan tasawuf yang membuat dakwahnya mampu diterima pada banyak kalangan, model dakwah yang sejalan dengan konsep yang diusung oleh Walisong, serta kemelekannya terhadap globalisasi menjadikannya satu dari sedikit sosok yang memandang kefleksibelan dakwah dan kerelevanannya dengan masyarakat merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dalam dakwah itu sendiri.

 

         Di tengah padatnya jadwal terbang seorang Prof. Nasaruddin, ia juga dikenal aktif menyisihkan sebagian waktunya untuk mengunjungi para santrinya yang dengan bangga ia sebut sebagai "Malaikat-malaikat kecil Allah". Di setiap kunjungannya, ia menekankan pentingnya improvisasi pemuda islam dengan pesatnya perkembangan global, demi terwujudnya generasi islam milenial yang menyatu, berbaur, namun juga tak mudah lapuk.


2. Kata mereka tentang Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA


Penghargaan MURI (Gambar: dok. Wawasan)


 Mahfud MD selaku Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) pernah memberikan selayang pandang terkait Prof.Nasaruddin yang pada saat itu meraih penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

 

“Itu jarang ada di Indonesia. Ulama yang ngomong saja banyak, yang nulis saja ada. Tapi yang ngomong dan nulis dengan sama-sama produktif itu sulit ya. Banyak orang yang bisa ngomong, bisa nulis, tapi enggak seproduktif beliau,” kata Mahfud MD dalam artikel berjudul ”Dihadiri Sederet Menteri dan Pejabat, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr.KH. Nasaruddin Umar Luncurkan Buku dan Doa Untuk Bangsa” yang ditulis oleh grid.id.

 

Dalam lingkungan agama, mantan wakil menteri agama ini juga aktif sebagai ketua yayasan pondok pesantren Al-Ikhlas Ujung, Bone, Sulawesi Selatan. Kru Wawasan dalam hal ini menyempatkan waktu untuk mewawancarai kerabat dekat Prof Nasaruddin di Mesir yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir. Ia mengatakan kalau Prof. Nasaruddin adalah sosok yang sangat memperhatikan pendidikan terkhusus bagi keluarganya.

 

“Terlebih kan dulu dia (Prof. Nasaruddin) membantu orang tuanya sekolahkan adik-adiknya. Sampai-sampai rela tidak nikah dululah, menunda nikahnya, pokoknya tidak mau menikah karena ada prinsipnya, kalau tidak salah dia tidak mau menikah sampai sarjana semua adeknya,” Ucapnya dengan logat khas Sulawesi setelah diwawancarai oleh kru Wawasan via online pada kamis 15 September 2022.

 

Hal yang sama juga diungkapkan langsung oleh Nurul Mutawadhiah yang dalam hal ini adalah murid langsung Prof. Nasaruddin sesaat sebelum keberangkatannya ke Mesir, Nurul beserta rombongan mendatangi ruang kerja ketua yayasan pesantren Al-ikhlas, yaitu di masjid Sunda Kelapa untuk mappatabe’ (tradisi masyarakat Bugis berupa meminta berkah dan doa restu). Ia mengungkapkan kalau Ayahanda Prof sangat menaruh perhatian khusus kepada murid-muridnya. Di tengah kesibukannya, ia tetap menghadirkan kehangatan dengan memberikan jamuan, nasihat serta pesan-pesan bijak.

 

3. Prof. Nasaruddin dan urgensitasnya untuk Milenial


Pada akhirnya, dengan menelusuri napak tilas sejarah Prof. Nasaruddin Umar akan  menarik kita kembali pada tujuan awal kita sebagai penuntut ilmu bahwa tidak ada pencapaian yang bergengsi kecuali setelah merasakan jatuh bangunnya perjuangan.

 

Ia secara tidak langsung memahamkan kita kalau dakwah tidak cukup hanya dengan berdiri diatas mimbar, tapi juga dengan pena yang kemudian dituangkan kedalam kertas sehingga menjadi tulisan yang tak akan tenggelam termakan zaman. Imam besar masjid Istiqlal ini menitipkan pesan tersirat untuk generasi islam milenial bahwa ladang dakwah tidak terbatas hanya pada mengelilingi masjid-masjid dan mengisi kajian-kajian agama, tapi juga diplomasi antar meja ke meja, kepekaan terhadap media sosial, dan menghasilkan karya yang nantinya akan memercikkan benih inspirasi ke orang sekitar.

 

Editor: Ichsan Semma

                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar