Breaking News
Loading...

Selasa, 26 April 2022

Dibahas dalam Diskusi antar Afiliasi, Penyatuan Kalender Hijriah Tuai Pro dan Kontra

 

Sesi Wawancara (Gambar: dok. Wawasan)

Wawasan, Kairo—”Ingin mempersatukan umat Islam dengan satu waktu beribadah, caranya itu dengan menyamakan kalender hijriah, itu sangat brilian sekali. Tetapi kita sendiri harus mengakui bahwa ide ini kemudian akhirnya bertabrakan dengan ikhtilaful mazhab,” ungkap Husnul Hadi Lc, selaku panelis delegasi Lembaga Bahtsul Masail (LBM) dalam forum Diskusi antar Afiliasi (DIKSI) yang diadakan pada Kamis (21/4) di Aula Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM).

 

Pernyataan itu diungkapkannya saat menanggapi tulisan Muhammad Fauzi Jamaluddin dengan judul “Urgensi dan Relevansi Kalender Hijriah Unifikatif, Perspektif Historis dan Problem Praktis” yang mengusung ide satu hari serta satu tanggal kalender hijriah di seluruh dunia.

 

Tanggapan lainnya datang dari Muhammad Asrori A.S panelis perwakilan Said Aqil Siraj (SAS) Center yang menyatakan bahwa Ia tetap mengapresiasi semangat penulis untuk menyatukan umat Islam, meskipun idealnya yang harus ditonjolkan—ketimbang penyeragaman—adalah penghargaan atas perbedaan itu sendiri.

 

Namun, Fauzi selaku penulis sekaligus pemateri dalam forum tersebut menjelaskan bahwa pembahasan yang ia bawa dalam karyanya bukanlah hal baru dan bahkan sudah pernah diinisiasi oleh seorang ulama Mesir bernama Syekh Ahmad Muhammad Sakir.

 

“Waktu itu beliau gara-gara perbedaan sampai tiga hari bulan Dzulhijah, akhirnya dari situ juga pembacaan-pembacaan selanjutnya, muncullah ide untuk persatuan kalender,” lanjutnya.

 

Dalam tulisannya sendiri, Fauzi menjelaskan bahwa  urgensitas kalender Islam global merupakan langkah mempertahankan peradaban Islam agar tetap eksis dan berkembang. Di mana para pakar dengan kemajuan pengetahuan astronomi saat ini diharapkan mampu memberikan jawaban kepada umat muslim yang kehilangan kemampuan untuk membuat perencanaan ke depan dan kacaunya momen-momen keagamaan karena tidak adanya sistem waktu yang pasti.

 

Pria yang saat ini bermukim di sekretariat PCIM itu juga menuturkan bahwa tulisan ini pada dasarnya adalah peregangan serta sarana baginya untuk “mengetes ombak” dengan memaparkan tema-tema umum terlebih dahulu.

 

“Sosialisasinya terkait pengaruh filosofis, sosiologis, dan historisnya gimana sih. Dari situ pengembangan ke arah sudut pandang yang lain nanti bisa dikembangkan lagi,” pungkasnya. (Ichsan Semma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar