Breaking News
Loading...

Sabtu, 30 April 2022

Al-Azhar hanya Sekadar Majelis Taklim?

 

Oleh: Muhammad Alim Nur

 

(Gambar: source of Republika Online)

Dewasa ini, kemajuan teknologi menghasilkan kecanggihan yang membuat peradaban manusia semakin berkembang. Berbagai lembaga pendidikan di dunia, apalagi di kampus-kampus Eropa melakukan digitalisasi untuk melengkapi berbagai fasilitas teknologi maupun sistem administrasi secara online. Di samping untuk memudahkan pembelajaran, juga membuat lembaga tersebut lebih bergengsi di mata masyarakat.

 

Namun di balik semua itu, nyatanya Universitas Al-Azhar Kairo yang masih menggunakan metode klasik justru membuatnya tetap eksis dengan “kesederhanaannya”. Kesederhanaan sistem itu tidak lantas menjadikannya sebagai lembaga pendidikan yang terbelakang, apalagi sampai disebut ‘hanya sebagai majelis taklim’.

 

Munculnya sebutan “Al-Azhar hanya sebagai majelis taklim” ini berawal dari celotehan seseorang bernama Luthfi Assyaukanie dalam postingan Facebook-nya, berjudul “Belajar di Timteng”, yang kemudian menjadi perbincangan hangat di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) baru-baru ini. Berangkat dari sinilah, penulis ingin menegaskan posisi Al-Azhar yang dia sebut sebagai ‘majelis taklim’ itu.

 

Menurut penulis, Al-Azhar bukan hanya sekadar lembaga pendidikan. Jauh dari itu, ia adalah karya peradaban keilmuan Islam. Jika memasuki masjid Al-Azhar misalnya, kita bukan hanya sekadar memasuki masjid, akan tetapi kita juga memasuki dan menyaksikan peninggalan dan kejayaan peradaban dinasti Islam pada masanya. Di sana terdapat halaqoh ilmu, ada riwaq, madyafah, serta sahah yang mengajarkan ilmu turats (klasik) yang dari segi sanad keilmuannya tetap terjaga sampai ke Rasulullah Saw.

 

Al-Azhar merupakan lembaga pendidikan Islam di Mesir yang sangat masyhur di dunia Islam, yang didirikan pada masa Dinasti Fatimiyyah, mencakup sebuah masjid sebagai pusat kegiatan dan lembaga pendidikan pengembangan misi dakwah Islam.

 

Bagi penulis, ada sesuatu yang unik dari sistem pendidikan di Al-Azhar yang saya sebut sederhana itu: Pertama, sistem sanad (riwayat) dari seorang murid ke guru dengan bertatap muka, yang diijazahkan secara ta’limiyyah. Kedua, sistem administrasi yang masih manual dengan menggunakan tulisan tangan, membuat para mahasiswa harus mengantri panjang, bahkan ada yang harus menunggu berhari-hari untuk menyelesaikan administrasi kuliah.

 

Meskipun begitu, kesederhanaan ini tidak serta merta menjadikan al-Azhar bukan sebagai lembaga pendidikan, apalagi ‘hanya sekadar majelis taklim’. Tidak masuk dalam kategori 50 kampus terkemuka di kawasan Timur Tengah—sebagaimana yang Luthfi ungkapkan dalam tulisannya, bukan berarti terbelakang.

 

Secara spesifik, Luthfi tidak menyebutkan kriteria untuk masuk dalam 50 kategori kampus terkemuka itu seperti apa. Namun jika dinilai dari segi digitalisasi sistem, jelas al-Azhar tidak masuk dalam kategori tersebut, karena masih menggunakan sistem manual, dan jika dinilai dari segi tradisi dan sumber keilmuan yang terjaga keasliannya, saya yakin dan pasti al-Azhar berada di urutan paling pertama. Lagi-lagi ini hanyalah perihal sistem. Al-Azhar akan tetap eksis dengan keunikan sistemnya sendiri.

 

Banyak orang yang mengatakan bahwasanya kuliah di al-Azhar tidak terorganisir, tidak ada sistem yang baku dalam proses belajar-mengajar, hanya muhadoroh (perkuliahan) dengan konsep pengajian atau majelis taklim, dan tidak ada absensi di semua tingkatan kuliah.

 

Bagi penulis sendiri, tujuan dari sistem tersebut bukan berarti al-Azhar tidak terorganisir, melainkan hal itu demi mendidik mahasiswanya bahwa kuliah di al-Azhar adalah untuk mencari ilmu, bukan dicari; menunggu, bukan ditunggu; dan mengambil, bukan diambil.

Sistem pendidikan Al-Azhar bukan hanya mengajarkan ilmu auroq (yang tertulis), tetapi juga mengajarkan ilmu audzaq (seni memahami kehidupan), meliputi ilmu adab, kesabaran, dan keikhlasan. Karena Islam bukan hanya tentang syariah dan akidah tapi juga tentang insaniyyah.

 

Sebenarnya jika kita berkaca ke belakang, al-Azhar sendiri sudah mengalami beberapa pembaharuan yang sangat signifikan. Pada masa Syekh Syamsudin al-Ambabi tahun 1872, sistem administrasi Al-Azhar mulai dirapikan.

 

Kemudian tahun 1895, pada masa Imam Muhammad Abduh, dibentuklah Organisasi Ulama-ulama Terkemuka (Hai’ah Kibar al-Ulama) dan Majelis Tinggi Al-Azhar dari empat mazhab, serta menertibkan administrasi Al-Azhar dengan menentukan honor setiap pengajar, pembentukan rektor, dan penambahan masa belajar beserta pengurangan masa libur. Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Mesir kala itu juga menetapkan UU No. 49 Tahun 1930 yang mengubah sebutan Jami’ al-Azhar (Masjid Raya Al-Azhar) menjadi al-Jami’ah al-Azhariyah (Universitas Al-Azhar).

 

Tak cukup sampai di situ, pada masa kepemimpinan Syekh Mahmud Syaltut, keluar lagi Undang-Undang Revolusi Mesir Nomor 103 Tahun 1961 yang isinya mengatur organisasi al-Azhar dan penambahan fakultas baru, seperti Fakultas Pertanian, Fakultas Syariah Islamiah, Fakultas Teknik, Fakultas Sastra dan Fakultas Kedokteran. Semua ini dilakukan untuk menciptakan cendikiawan muslim yang tidak hanya mahir dalam Imtaq, tetapi juga mahir dalam Iptek.

 

Hingga pada tahun 1962, Dr. Zainab Rashid membuka Kuliah Qism Banat (Kampus Khusus Perempuan) yang ditempatkan di gedung-gedung baru dengan jumlah Mahasiswinya mencapai ribuan orang dari berbagai belahan dunia. (Universitas Al-Azhar Mesir Pusat Pendidikan Dunia Islam, www.kuliahalislam.com, diakses pada 29 April 2022)

 

Dari segi kontribusi alumninya, tulisan Dr. KH. Tata Taufik selaku Presiden Pengasuh Pesantren di Indonesia yang diunggah di Website PPMI Mesir pada 26 Juni 2021, berjudul Al-Azhar dan Kontribusinya Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia”, menyajikan sederet nama alumni al-Azhar yang menjadi tokoh penggerak pendidikan dan dakwah bagi masyarakat Indonesia.

 

Tak dapat dipungkiri, generasi tahun 50 sampai 60-an yang saat itu belajar di Universitas al-Azharsebut saja beberapa nama seperti: KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, KH. Ahmad Azhar Basyir, KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), Anregutta Prof. Farid Wajdi (Pimpinan PP. DDI Mangkoso, Barru), Anregurutta KH. Dr. Sanusi Baco (Pimpinan PP. Nahdathul Ulum, Maros) Prof. Quraish Shihab (Pendiri Pusat Studi Quran), Prof. Huzaemah Yanggo (Dukturah pertama al-Azhar), Prof. Roem Rowi, Ustadz Abdul Shomad, dan lain-lain—ikut mewarnai kehidupan keagamaan dan kebangsaan di Indonesia. Bahkan, Amien Rais pun konon pernah mengenyam pendidikan menengahnya di Al-Azhar (Dirosah Khossoh). Mereka kini menjadi tokoh-tokoh umat dan bangsa yang disegani.

 

Kemudian dilanjutkan dengan generasi setelahnya, seperti Prof. Amani Lubis (Rektor UIN Syarif Hidayatullah), TGB. Zainul Magdi (Ketua OIAA dan Mantan Gubernur NTB), Dr. Setiawan Lahuri (Wakil Rektor UNIDA Gontor), KH. Fauzi Tidjani (Pengasuh PP Al-Amien Madura), KH. Ghofur Maimun Zubeir (Pengasuh PP Al-Anwar Sarang), KH. Imam Jazuli (Pengasuh PP Bina Insan Mulia Cirebon), KH. Anang Rikza Masyhadi (Pengasuh PP Tazakka Batang), Dr. Mukhlis Hanafi (Direktur Pusat Studi Al-Quran) dan lain-lain yang masih sangat banyak, mereka adalah generasi yang saat ini menjadi panutan, pimpinan lembaga pendidikan dan ulama di Indonesia.

 

Jadi, sudah sangat jelas bahwa dinamika perkembangan keilmuan Islam di Al-Azhar tidak diragukan lagi. Kalau melihat Al-Azhar secara statistik, mungkin lebih baik kuliah di kampus Eropa sana yang lebih maju, tapi faktanya, banyak orang yang rela membayar puluhan juta hanya untuk belajar di kampus Al-Azhar, karena melihat Al-Azhar dengan tradisi keilmuannya yang masih terjaga dan tetap mempertahankan metode turats (klasik) dan mengkaji sumber primer dari Islam.

 

Terlepas itu hanya majelis taklim atau UIN lebih baik, semua hanyalah sekadar nama, yang paling penting adalah bisa memberikan manfaat dan berkhidmah kepada orang banyak, karena sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberikan manfaat.

 

Terakhir, penulis ingin mengatakan, hanya orang-orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman yang mengira kalau Al-Azhar hanyalah Majelis Taklim.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar