Breaking News
Loading...

Minggu, 27 Maret 2022

Panelis Tantang Capres 02 untuk Buka Open Recruitment PPMI dengan Syarat Kecakapan Bahasa

 

Debat Kandidat (Gambar: dok. Wawasan)

Wawasan, Kairo- “Berani tidak dalam Oprec (Open Recruitment) anggota atau Kabinet PPMI Mesir, salah-satu kriterianya cakap dalam berbahasa Arab? Karena saya melihat sendiri Ketua sebuah lembaga melakukan diplomasi dengan Dekan atau Wakil Dekan kemudian bahasanya memalukan sekali, campur ammiyah campur fushah,” tantang Saiful Millah, Lc. selaku salah satu panelis dalam acara Debat Kandidat Calon Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir kepada Paslon 02, Auzi’na dan Ikram di Aula Kekeluargaan Mahasiswa Jambi (KMJ) Sabtu (26/3).

 

Menjawab hal ini, Auzi’na Azmal Umuur menanggapi akan menyanggupi tantangan dari panelis tersebut. “Karena masalah bahasa  akan menjadi fokus kami, kami berusaha meningkatkan hal itu. Jadi, jika ditanya berani atau tidak, kami berani mengatakan kepada kaderisasi bagaimana perekrutan gabung pengurus di PPMI Mesir. Dari tadi saya berbicara masalah bagaimana kita bisa berhubungan dengan Al-Azhar dan bisa semakin menjaga komunikasi dengan syaikh- syaikh Al-Azhar itu sendiri,” tambahnya.

 

Masalah ini  ungkapnya menjadi bahan perbincangan di Buuts, dengan melihat  perkembangan negara lain yang pesat. Adapun solusi yang ditawarkan oleh Auzi’na terkait kecakapan bahasa ini adalah melakukan pelatihan berbahasa arab dan mengajukan  program Youm al-arabiyah dengan  dua hari dalam seminggu dengan mewajibkan untuk Masisir berbahasa arab dalam melatih kecakapan bahasanya.

 

Sedangkan, Muhammad Fachry Fanani selaku Capres (Calon Presiden) dari Paslon nomor urut 01 menanggapi tentang masalah syarat kecakapan bahasa dijadikan syarat rekrutmen terbuka PPMI, “Efektif atau tidaknya usulan Ustaz Saiful Millah tentunya itu berlandaskan dari beberapa faktor beberapa kejadian pimpinan instansi, yang dialognya kurang dengan Al-Azhar dan sebagainya itu menjadi catatan dan menjadi rekomendasi dari Ustaz Saiful Millah sendiri, bagaimana seandainya kabinet PPMI itu dilaksanakan oprec dengan berbahasa Arab, tentunya Kembali lagi mengingat bahwa itu penting dan itu adalah rekomendasi orang-orang yang istilahnya sudah terpelajar, dan orang-orang terhormat di kalangan Masisir.”

 

Fachry mengatakan bahwa PPMI pernah mengadakan daurah Bahasa, dalam hal itu PPMI  berkerja- sama dengan Senat Bahasa Arab dan dia juga menyadari  dalam percakapan masih kurangnya public speaking di kalangan Masisir. Menurutnya pula tentang Youm al-arabiyah jika misalkan masisir dipaksa berbahasa arab di rumah, hal itu sepertinya hal yang tidak pas diterapkan di Masisir.

 

“Kalau misalkan seperti itu harus ada lembaga yang mengawasi, hari senin harus berbahasa semua. nanti apakah PPMI harus membuat mata-mata untuk mengawasi yang tidak berbahasa arab bagaimana, terus hukumannya bagaimana, dan saya rasa sekelas PPMI mengurusi seperti itukan , merupakan hal yang bukan porsinya, kalau misalkan lagi harus ada hukuman, harus ada lembaga lagi, untuk mengawas Bahasa itu sendiri,”  pungkas Fachry. (Nuge)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar