Breaking News
Loading...

Sabtu, 26 Februari 2022

Bikin Bangga, 2 Pemuda Asal Sulawesi Raih 4 Besar dalam Lomba Kaligrafi Internasional

 

Muhammad Athar Afif (kiri), dan Syarif Hidayatullah (kanan) (Gambar: dok. Wawasan)

Wawasan, Kairo—Melansir dari laman Markaz Tatwir Ta’lim at-Thullab al-Wafidin wal Ajanib pada Jumat (25/2) telah keluar pengumuman juara lomba yang diadakan oleh Al-Azhar Al-Syarif, salah satunya cabang lomba Kaligrafi. Nama Muhammad Athar Afif (asal Sulawesi Barat) keluar menjadi juara 1, sedangkan Syarif Hidayatullah (asal Gorontalo) menduduki urutan ke-4.

 

Lomba Kaligrafi ini diikuti oleh 80 mahasiswa asing dari negara yang berbeda-beda, waktu akhir pendaftaran akhir bulan Agustus dan batas pengumpulan karya tanggal 15 September 2022. Bukan hanya Khattil Araby (red-kaligrafi), berbagai macam lomba seperti, Hifdzil Quran, Khitabah, Bahtsul Ilmi pun turut diperlombakan.

 

Adapun terkait acara penerimaan penghargaan dalam Musabaqah al-Alamiah Mawahib wa Qudrat kedua yang dikhususkan untuk mahasiswa asing ini akan diadakan Kamis, 10 Maret 2022 di aula Al-Azhar Conference Center.

 

Karya Muhammad Athar Afif (Gambar: dok. Wawasan)

Selain meraih juara 1 dalam lomba tersebut, Athar Afif juga berhasil membuat salah satu karya yang bisa masuk dalam pameran Al-Azhar Al Sharief Forum for Arabic Calligraphy and Decoration yang dimulai sejak 18 Februari lalu dan berakhir 27 Februari besok, menjadi satu-satunya karya anak bangsa yang dipajang dalam pameran tersebut.

 

Mahasiswa dari Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) angkatan kedatangan 2014 ini dijuluki Founding Father Kaligrafi di KKS. Hal ini disebutkan Syarif Hidayatullah, pengajar kaligrafi di KKS sekarang, dalam wawancara bersama kru Wawasan, Jumat (25/2).

 

Selain itu, keduanya juga adalah pengajar kaligrafi di Asosiasi Caligrapher Arab Murni Indonesia (Afanin), komunitas kaligrafi di dunia Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir).

 

Karier Athar dalam dunia Kaligrafi sendiri dimulai sejak ia masih kecil, sang ayah, Drs. H. Abdul Latif Sanusi lah yang memperkenalkan langsung kepadanya. Lalu melanjutkan dalam lingkup kepesantrenan, hingga akhirnya mendalami lebih serius—dengan manhaj yang benar—di Mesir.

 

Sampai kini, ia telah mengumpulkan 4 sanad ke-kaligrafian. Mulai dari Khat Riq’ah, Diwani, Jali Diwani hingga Farisi. Ia termasuk murid tidak langsung dari seorang Khattat kaliber dunia, Syekh Belaid Hamidi.

 

Karya Syarif Hidayatullah (Gambar: dok Wawasan)

Berbeda dengan Athar, Syarif Hidayatullah baru mulai mengenal kaligrafi ketika masuk ke pesantren Hubulo Gorontalo, salah satu pondok pesantren terkenal penghasil bakat kaligrafi. Mengambil sanad keilmuan Khat Naskhi langsung oleh Amir Ngau, pengajar kaligrafi pesantren Hubulo yang juga alumni Lembaga Kaligrafi (Lemka).

 

Di Mesir sendiri, ia pernah men-tashih karyanya langsung kepada Syekh Khudair Bur Saidi, pemegang sanad kaligrafi tertinggi di Mesir. Juga lama belajar bersama Afanin, dan menjadi murid langsung dari Athar Afif.

 



Terkait siapa pun yang ingin memiliki keahlian dalam Khat atau Kaligrafi ini, Syarif, putra dari Ahmad Munib berpesan bahwa keahlian ini selain ada karena bakat, ia juga bisa diraih dengan kerja keras serta latihan yang banyak. Ia sendiri sampai kini ketika berlatih menulis kaligrafi sampai 5 jam dalam sehari.

 

“Untuk menguasai kesenian seperti kaligrafi ini, itu gabungan dari dua hal, talent atau bakat, dan effort atau kerja keras. Nah, talent itu pemberian dari Allah, ada yang dikasih bagus (cepat dikembangkan) ada yang lambat. Namun, itu adalah ranah Tuhan. Ranah kita adalah terus kerja keras, memberikan banyak waktu dengan giat,” tutur Peraih juara 1, Athar Afif. (Azhar)

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar