Breaking News
Loading...

Minggu, 07 November 2021

Jawab Isu Skeptis Prospek Al-Syariah wa Al-Qanun untuk Masisir, Alumni Al-Azhar ini berikan Tanggapan

 

Ngeteh Bersama Bu Desi Hanara (Gambar: dok. Wawasan)

Wawasan, Kairo—Desi Hanara, Lc., LL.M. yang merupakan Koordinator sektor Asia Tenggara dalam Freedom of  Religion or Belief (FoRB) ASEAN Parliament for Human Rights menanggapi perihal jurusan Al-Syariah wa Al-Qanun yang kerap menjadi perbincangan hangat di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir.

 

Anggapan bahwa sebagian besar mata kuliahnya yang mayoritas mempelajari hukum-hukum Mesir yang secara harfiah sama sekali tidak memillki relevansi serta konvergensi dengan ilmu hukum Indonesia, sehingga menimbulkan skeptisisme dari kalangan mahasiswa sendiri terkait prospek masa depan yang dijamin oleh jurusannya dan secara implisit  mulai mempertanyakan urgensitas jurusan tersebut bagi diri mereka.

 

“Saya juga kadang tuh berpikir, apa yah  gunanya dulu itu  saya  belajar hukum Mesir yang  banyak itu, tapi sebenarnya bukan hanya hukum Mesirnya aja, tapi ketika kita lagi membaca muqarrar kita, sebenarnya saat itulah legal analysis kita, legal capability kita itu sedang ditraining, nanti  kita akan terbiasa membaca teks-teks hukum begitu,” ungkap Desi.

 

Ia pun juga menjelaskan bahwa pada dasarnya kans masa depan jurusan Al-Syariah wa Al-Qanun dalam bidang keilmuan sangatlah besar karena memiliki kesamaan analisa dan argumentasi hukum dengan Public International Law yang dipelajari dan diterapkan di Eropa. Sehingga menjadikan mahasiswa yang menggeluti jurusan ini memiliki dasar yang kuat untuk memepelajari serta mendalami hukum internasional.

 

Dalam zoom meeting  yang dilaksanakan pada hari Ahad  (7/11) bertajuk ”Ngobrol Tentang Hukum (Ngeteh) bersama Bu Desi Hanara,” wanita yang juga telah meraih gelar Master of Law di Universitas Leiden, Belanda jurusan Public International Law ini pun memaparkan bahwa prospek yang  dijanjikan oleh tiap jurusan yang dipelajari oleh mahasiswa khususnya Al-Syariah wa Al-Qanun juga bergantung pada perspektif serta prinsip yang dipegang mahasiswa terkait jurusan tersebut.

 

Maka, menurutnya dari itu sejak dari awal, Mahasiswa harus selalu memperbaiki perspektif pun mengokohkan prinsipnya dalam menuntut ilmu sesuai dengan jurusannya.

 

“Ketika belajar muqarrar itu jangan cuma untuk kelulusan saja, tapi coba dihayati ketika membaca hukum pidana itu, tertarik enggak ketika membaca hukum pidana itu? dan ada pengayaan juga selain membaca  muqorror itu baca coba kasus-kasus pidana yang ada di Indonesia, ketika baca Qanun Dauli Amm itu kalau mau berkarier di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) atau International Justice Institution itu seperti merupakan kitab sucinya gitu, sebenarnya sama saya lihat Qanun Dauli Amm dengan buku-buku di Leiden ini,”lanjutnya. (Ichsan)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar