Breaking News
Loading...

Rabu, 26 Mei 2021

Darurat Pelecehan Terhadap Masisir, KBRI Kairo Dinilai Lemah

 

Darurat Pelecehan (Gambar: swararahima.com)

Wawasan, Kairo- Pelecehan terhadap Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) semakin marak terjadi, terutama pada mahasiswi. Buktinya laporan yang masuk kepada Dewan Keamanan dan Ketertiban Masisir (DKKM) PPMI Mesir semakin banyak.

 

 

Hal ini diduga sangat mempengaruhi mental Masisir itu sendiri, bahkan korban-korban merasa syok dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa kembali beraktivitas seperti biasanya.

 

 

Hal tersebut membuat banyak pertanyaan yang muncul, apa saja kasus-kasus pelecehan terhadap Masisir? Apa yang menyebabkan darurat pelecehan tersebut? Juga bagaimana sikap KBRI Kairo dalam mengatasi masalah ini?

 

 

Kasus-kasus Pelecehan yang Terjadi Terhadap Masisir

 

Laporan terus masuk pada hotline DKKM PPMI Mesir, hingga pada akun instagram @dkkm_ppmimesir memaparkan beberapa kasus pelecehan yang terjadi baru-baru ini.

 

1. Pada Senin (24/5) salah satu akhwat dibekap dan dilecehkan di belakang Masr wa Sudan

2. Pada Sabtu (22/5) terjadi pelecehan terhadap akhwat oleh pegawai salah-satu mini market di Hay Sabik

3. Pelecehan yang dilakukan oleh pria Mesir yang selalu mangkal di Mahatta Hay Sabik

4. Sopir tramco yang sering melecehkan penumpangnya

5. Pria Mesir juga kerap melecehkan akhwat di sekitar Solo Optik di Hay Sabik.

 

 

Kasus-kasus di atas merupakan laporan yang baru-baru ini terjadi kemudian dilaporkan oleh Masisir kepada DKKM, dan kasus-kasus tersebut diduga masih sangat sedikit dari kasus-kasus yang terjadi di seluruh kalangan Masisir. Apalagi kasus tersebut baru hanya sekitaran daerah Hay Sabik, belum lagi kasus-kasus yang ada di Bawwabat dan sekitarnya.

 

Penyebab Darurat Pelecehan

 

Terkait penyebab terjadinya pelecehan tersebut, Wawasan telah berhasil mengambil informasi dari Prawita Andaresti Kasmadi selaku Ketua Wihdah PPMI Mesir. Prawita mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada teman kuliahnya yang merupakan orang Mesir mengenai pelecehan terhadap wafidat (warga asing), padahal menurutnya, dari segi pakaian wafidat bahkan lebih tertutup dari wanita Mesir.

 

 

Temannya tersebut menjawab, alasannya adalah karena wafidat lemah dari segi fisik, wafidat tidak memiliki wali, dan tidak memiliki posisi yang kuat dalam membawa perkara ini ke hukum di negeri ini. Sehingga pelaku menganggap wafidat remeh, dan dijadikan sasaran empuk untuk kejahatan seperti ini. 

 

 

Selain itu, Prawita sendiri menyampaiakan bahwa ia yakin ada banyak mahasiswi yang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menjaga keamanan dirinya. Namun ada juga sebagiannya lagi yg masih kurang bijak dalam berprilaku. Baik di jalanan umum, maupun di media sosial. Karena ketidakhati-hatian ini dilakukan oleh sebagian orang, yang akhirnya kejadian buruk bisa menimpa yang lain (yang sudah berusaha menjaga keamanan dirinya).

 

 

Di sisi lain, himbauan-himbauan dari DKKM sudah disebar ke mana-mana, namun sayangnya masih banyak yang menyalahi himbauan tersebut. Utamanya himbauan agar tidak berjalan di luar rumah sendirian, khususnya akhwat.

 

 

Tidak hanya itu, selain DKKM yang bisa membantu dalam pelayanan untuk menghindari terjadinya pelecehan, Banser pun juga menyediakan Layanan Banser Siap Siaga. Tapi lagi-lagi masih banyak pelecehan yang terjadi.

 

 

Pandangan Berbagai Pihak  Terhadap KBRI Kairo dalam Darurat Pelecehan Ini

 

Terkait banyaknya pelecehan yang terjadi, pihak KBRI Kairo dinilai lemah dalam menuntaskan masalah-masalah tersebut.

 

 

Salah satu contoh yang sudah menjadi rahasia umum yaitu tanggapan Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler (Protokons), Iwa Mulyana di grup Satgas PWNI Kairo, tanggapan tersebut sudah tersebar di kalangan Masisir melalui tangkapan layar.

 

Tangkapan Layar Grup Whatsapp Satgas PWNI Kairo


Dalam tangkapan layar tersebut, terlihat Iwa menyerahkan tanggung jawab pelaporan kepada pihak yang mengirimkan foto lokasi kejadian, dengan menyuruh mereka melaporkan langsung ke pihak kepolisian, tanpa ditemani oleh pemerintah perwakilan Indonesia di KBRI Kairo.



Tanggapan Iwa tersebut sangat disayangkan oleh berbagai pihak. Baik itu dari PPMI Mesir, DKKM, maupun Masisir yang lainnya.

 

 

Pada Selasa (25/5), Iwa mengungkapakan pada kru Wawasan bahwa ia sudah menjelaskan kepada pihak PPMI Mesir mengenai tanggapannya tersebut dan menyatakan bahwa PPMI sudah memahaminya. 

 

 

Akan tetapi, Farhan Aziz Wildani selaku Presiden PPMI mengungkapkan bahwa mau gak mau harus ada andil atau terjun tangan KBRI Kairo disitu, apalagi permasalahan ini bukan permasalahan sepele, terutama akan menyangkut kepada mental teman-teman mahasiswi.

 

 

“Maka kalau dari saya pribadi, tetap memohon kepada bapak-bapak KBRI yang memang mempunyai tanggung jawab dalam hal tersebut, agar kiranya bisa bersinergi bersama dalam menyelesaikan (masalah-masalah tersebut),” ungkap Farhan pada Selasa (25/5).

 

 

Selain itu, Wakil Ketua DKKM, Mujahid Sam Dzul Fiqar juga sangat menyayangkan tanggapan dari KBRI, karena menurutnya, pihak yang seharusnya mendampingi Warga Negara Indonesia di Kairo untuk menangani masalah keamanannya malah memberikan tanggapan seperti ini.

 

 

Mujahid menambahkan, pihak DKKM hanya meminta agar pihak KBRI Kairo ikut serta bersinergi di lapangan, karena ketika mahasiswa yang datang langsung ke kantor polisi sangat lemah di mata hukum dibandingkan pihak sifarah (utusan) dari KBRI yang datang.

 

 

“Saya sangat menyayangkan itu, ketika pihak Protokons dalam hal ini pak Iwa Mulyana memberi tanggapan seperti itu, kesannya, lu urus aja sendiri lapor aja,” ungkap Mujahid kepada Kru Wawasan pada Selasa (25/5).

 

 

Ramadhan Sutan selaku Home Staf Pelaksana Fungsi Protokons menolak anggapan jika pihak Protokons sudah tidak peduli dengan keamanan Masisir.

 

 

Ramadhan memberi klarifikasi bahwa pihak KBRI akan menindaklanjuti kasus yang dialami oleh teman-teman, namun mereka memerlukan rinci dari kejadian tersebut. Untuk itu, mereka memerlukan informasi lengkap, termasuk mahdar supaya kita bisa follow-up kepada pihak terkait dengan akurat dan efektif. 

 

 

“Dalam kaitan ini, saya sudah berhubungan dengan Bang Afkar, Sekertaris Jendral PPMI untuk langkah-langkah yang perlu ditempuh. Insyaallah siang ini kita ketemu dengan Tim Pengacara untuk membahas tindakan seanjutnya,” tambah Ramadhan.

 

 

Namun, sejalan dengan pernyataan Farhan dan Mujahid, Prawita sebagai Ketua Wihdah PPMI Mesir juga menyampaikan bahwa ia turut prihatin membaca tanggapan dari Koordinator Fungsi Protokons tersebut, ia mengira bahwa mungkin Iwa Mulyana lagi sibuk dengan urusan lain, jadi membalas hanya seadanya.

 

 

“Kami ingin hal ini bisa dibawa ke ranah ke yang lebih atas lagi selain hanya kami seonggok mahasiswa. Karena level kami jauh dan minim pengalaman jika harus mengurus secara pribadi mahasiswa. Kalau sudah diurus sama pejabat yg levelnya setara dgn negara kan pasti jadi poin lebih untuk ditilik kasusnya oleh aparat setempat. Setidaknya keliatan lah Indonesia tidak hanya menunjukkan gingsulnya, tapi juga taringnya,” tambah Prawita.

 

 

Prawita sendiri juga sangat berharap perlindungan WNI atau peduli WNI bisa dirasakan dalam kasus pelecehan yang semakin parah tiap harinya. Ia yakin aset bangsa yang diremehkan oleh oknum negeri lain mampu meresahkan pikiran kita semua, terlebih bapak dan ibu pejabat pemerintahan. (Arman)

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar