Breaking News
Loading...

Kamis, 25 Maret 2021

Keunikan Tradisi Tulude Sangihe Sulawesi Utara

Tradisi Talude (Gambar: id.wikipedia.org)


Oleh: Fikran Datukramat

Budaya adalah peninggalan yang diwariskan oleh nenek moyang kita, yang harus kita jaga dan kita lestarikan, sehingga budaya tersebut tidak akan luntur ataupun hilang dari kehidupan kita. Indonesia merupakan Negara yang terkenal dengan keanekaragaman budayanya. Negara kepulauan yang terdiri dari 35 provinsi ini memiliki beranekaragam budaya yang berbeda di setiap daerah. Itulah yang membuktikan bahwa Indonesia kaya akan budaya, seperti yang kita tahu bahwa Indonesia memiliki beragam suku, mulai dari Sabang sampai Merauke, setiap suku mempunyai budaya berbeda dengan cirinya yang sangat khas.

 

Ketika mendengar sebutan Sulawesi Utara, pasti yang pertama kali terlintas di pikiran kita adalah patung Yesus tertinggi ke-4 di dunia, yang terletak di puncak perumahan Citraland Manado. Namun siapa sangka? Ternyata selain itu, ada juga ikon dari segi tradisi Sulawesi Utara yang menurut saya unik untuk kita bahas, yaitu tradisi Tulude Sangihe. Tetapi sebelum masuk ke situ, perlu adanya kita ketahui dahulu pengertian dari tradisi ini.

 

Tradisi atau kebiasaan (latin: traditio, “diteruskan”) adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah. (Tradisi, id.m.wikipedia.org)

 

    Kemudian coba kita telaah apa itu upacara adat Tulude. Upacara adat Tulude merupakan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara (Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro), Sulawesi Utara. Telah berabad-abad acara sakral dan religi ini dilakukan oleh masyarakat etnis Sangihe dan Talaud sehingga tidak bisa dilupakan oleh generasi di sana hingga kini. Tradisi ini telah terpatri dalam khasanah adat, tradisi, dan budaya masyarakat Nusa Utara. Bahkan, tradisi budaya ini secara perlahan dan pasti mulai diterima bukan saja sebagai milik masyarakat Nusa Utara, dalam hal ini Sangihe, Talaud, dan Sitaro, tetapi telah diterima sebagai suatu tradisi budaya masyarakat Sulawesi Utara. Hal ini bisa dilihat dari fakta bahwa adanya komunitas masyarakat etnis Sangihe-Talaud, maka di sana akan ada pula hajatan Tulude.

 

Kata Tulude atau menulude berasal dari kata suhude yang dalam bahasa Sangir berarti “tolak”. Secara luas, Tulude berarti menolak untuk terus bergantung pada masa lalu dan bersiap menyongsong tahun depan. Tulude diselenggarakan sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah yang telah diberikan Tuhan selama satu tahun berlalu. Upacara adat Tulude merupakan wujud ungkapan syukur orang Sangir karena telah diberkati oleh Sang Pencipta atau dikenal Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan Yang Mahakuasa) ketika memasuki tahun yang baru. Secara historis, upacara adat Tulude yang pertama dilaksanakan di Manuwo (Salurang) Kecamatan Tabukan Selatan dalam masa pemerintahan Kulano Manentonau pada permulaan abad ke-16. Upacara Tulude menghimpun segenap masyarakat untuk berperan dengan membawa makanan. Oleh karena itu, upacara Tulude ini juga dijuluki “Saliwangu Banua” yang berarti pesta rakyat makan bersama. (Upacara Tulude, academia.edu)

 

Tradisi tulude sendiri dalam perkembangannya mengalami perubahan tatkala masa kolonial berlangsung. Awalnya, upacara adat Tulude dilaksanakan oleh para leluhur pada setiap tanggal 31 Desember sebagai penghujung akhir tahun. Pengertian Tulude itu sendiri adalah melepaskan, meluncurkan, menolak, atau mendorong, dalam hal ini melepaskan tahun yang lama dan siap menerima tahun yang baru. Dalam tradisi leluhur masyarakat Sangihe dan Talaud, acara tolak tahun ini diwujudkan dengan upacara di tepi pantai dengan melepaskan, meluncurkan, atau mendorong sebuah perahu kecil yang terbuat dari kayu latolang (sejenis kayu yang tumbuh lurus tinggi tak bercabang) dengan muatan tertentu. Perahu ini oleh tokoh adat didorong, dilepas, atau dihanyutkan ke laut sebagai simbol, segala sesuatu yang buruk di tahun yang akan lewat dibuang atau dihanyutkan ke laut agar tidak lagi menimpa warga desa setempat di tahun yang baru.

 

Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Sangihe dan Talaud pada abad ke-19, upacara adat Tulude ini telah diisi dengan muatan-muatan ritual agama samawi berupa penginjilan. Kemudian, atas dasar kesepakatan adat, maka perayaan Tulude dialihkan ke tanggal 31 Januari tahun berikutnya. Hal ini dilakukan karena umat Kristen di Sangihe dan Talaud sebelumnya telah disibukkan dengan acara ibadah malam Natal dan Tahun Baru. (budaya-indonesia.org/Upacara-Adat-Tulude)

 

Akhirnya pada tahun 1995 melalui temu budaya yang disponsori tokoh adat etnis Sangihe dan juga atas kesepakatan Pemerintah Kabupaten dan DPRD Sangihe-Talaud disepakati bahwa tanggal 31 Januari merupakan hari besar atau pesta rakyat dalam rangka perayaan Tulude. Selain karena alasan teknis keagamaan, perayaan Tulude yang dilaksanakan pada 31 Januari juga diadasarkan pada alasan bahwa Kata “Tulude” sendiri mengacu pada posisi bintang fajar (Kadademahe) yang tegak lurus 90⁰ yang diyakini terjadi tepat pada pukul 00.00 tanggal 31 Januari setiap tahun, atau nama bulan keempat di langit menurut perhitungan ilmu astronomi etnis Sangihe. Bulan keempat, yaitu Tulude, menurut dialek masyarakat Tagulandang disebut “Tuluri”, sedangkan menurut dialek masyarakat Talaud disebut “Lattu” (Upacara Tulude, academia.edu)

 

Tradisi Tulude (antarafoto.com)

Upacara diawali dengan Sasake Pato yaitu melambangkan beberapa petinggi (pejabat pemerintah, tokoh adat) menaiki perahu, memimpin perahu yang meluncur dengan berani, meluncur ditengah lautan yang terombang-ambing gelombang, dan harus mengemudikannya dengan baik, lurus tak berbelok, menuju Pantai Bahagia. Kemudian petinggi tersebut turun dari perahu yang disertai sorak sorai, berjalan diiringi bunyi-bunyian tambur dan tagonggong. Upacara adat ini dihelat melewati beberapa tahapan. Dua minggu sebelum digelar, seorang tetua adat menyelam ke dalam lorong bawah laut yang berada di Tahapan Upacara Gunung Banua Wuhu. Tetua adat ini membawa sepiring nasi putih dan emas yang dipersembahkan kepada Banua Wuhu yang bersemayam di lorong tersebut. Usai menggelar ritual penyelaman tersebut, dimulailah rangkaian perhelatan upacara Tulude yang diawali dengan pembuatan kue adat Tamo di rumah salah seorang tetua adat, sehari sebelum pelaksanaan.

 

Di balik semua itu, satu hal yang membuat saya tertarik dari salah satu ciri khas upacara ini adalah kue tamo. Kue yang terbuat dari olahan beras ketan yang kemudian dicampur dengan gula merah dan santan lalu dibentuk menonjol keatas seperti nasi tumpeng. Menariknya karena pembuatan kue ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang, tetapi harus di kediaman seorang Mayore Labo, Pemimpin Adat, yang nantinya berhak memotong kue tersebut. Dan juga Kue Tamo ini memiliki banyak makna yang mendalam. Pertama, sebagai bentuk pernyataan syukur atas perlindungan Tuhan Semesta Alam pada tahun yang sudah berlalu. Kedua, permohonan berkat dan kesuksesan untuk tahun baru yang sedang dijalani. Ketiga, permintaan agar dijauhkan dari penyakit, bencana, dan perselisihan dalam masyarakat.  Tatuwang Tamo adalah tahap puncak dari prosesi upacara Tulude. Tahapan Tatuwang Tamo diawali dengan Sasalamate Tamo, yakni rangkaian doa atau ungkapan hikmat atas kue Tamo yang akan dipotong dan dibagi-bagikan. Pemotongan kue oleh Mayore Labo harus dilakukan dengan khusuk dan doa-doa yang dipanjatkan menggunakan bahasa adat.

 

Acara Tulude biasanya disertai dengan acara kesenian seperti tarian Empat Wayer, Masamper, dan Cakalele. Tarian Masamper dan Empat Wayer biasanya juga digelar dalam acara pernikahan dan hari ulang tahun, sedangkan tari Cakalele dilakukan saat menyambut tamu yang dihormati. Tarian Cakalele juga merupakan tarian perang, penari membawa parang serta sapu tangan (lenso) yang melambangkan martabat penduduk yang harus dijaga. Meski tradisi Tulude dan tari-tarian tersebut adalah bukan tradisi asli Marore melainkan tradisi Sangir, tetapi upaya masyarakat Marore yang juga adalah keturunan Sangir dalam melestarikan tradisi tersebut patut diapresiasi. Upacara ini sangat bermakna di tengah upaya mengoptimalkan kearifan lokal untuk menciptakan rasa kebersamaan. Dengan tetap mempertahankan tradisi tersebut maka masyarakat telah melakukan pewarisan nilai-nilai atau norma-norma tradisional. Upaya tersebut merupakan bentuk ketahanan budaya masyarakat Marore di tengah arus globalisasi dunia.

 

Upacara Tulude yang digelar oleh masyarakat Sangihe yang khususnya hidup di Pulau Marore menunjukkan bahwa Indonesia begitu kaya akan budaya. Di beranda luar negeri ini, nyatanya kearifan lokal masih terus tumbuh dan lestari. Pergelaran upacara Adat Tulude ini menjadi salah satu identitas keberagaman budaya dan wadah pemersatu masyarakat di tengah keterbatasan yang dimilikinya. Dalam melestarikan peninggalan warisan para leluhur dan sebagai penangkal arus modernisasi dalam menjaga khazanah kearifan lokal, budaya harus mengakar, dalam menghadapi arus globalisasi, serta memupuk rasa kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, dan juga sebagai aset di bidang pariwisatam. (Tulude manifestasi, seputarsulut.com)

 

Saya juga sempat tercengang, ternyata  upacara Tulude ini telah dimasukkan ke dalam Pagelaran Budaya Jakarta Utara yang kemudian digelar di Gor Jakarta Utara di tahun 2018. di sini terbukti bahwa setiap suku yang berada di Indonesia tidak hanya peduli terhadap budaya dan adat mereka sendiri, tetapi mereka tetap selalu peduli, berkontribusi dan menghormati satu dengan yang lainnya. Tentu ini yang memperkuat rasa memiliki akan NKRI.

 

      Simpulnya adat tulude merupakan upacara yang sangat sakral yang ada di Sangihe. Adat ini sudah ada sejak kepulauan Sangihe masih tergabung dengan kepulauan Talaud. Pada akhirnya upacara ini ditetapkan pada tanggal 31 Januari sebagai hari lahir Sangihe karena ketika itu diselenggarakannya Perda untuk penetapan Hari Lahir Sangihe yang sebelumnya upacara adat ini sering dilaksanakan di penghujung tahun. Dalam upacara adat Tulude akan ditampilkan seluruh keanekaragaman serta ciri khas dari sangihe mulai dari tarian, makanan, serta alat musik. Sampai sekarang upacara adat ini masih sering dlaksanakan oleh generasi ke generasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar