Breaking News
Loading...

Minggu, 24 Januari 2021

Pandangan Wakil Presiden PPMI Mesir Terkait Membeludaknya Masisir

 

Wakil Presiden PPMI Mesir (Gambar: instagram rifkybinmulyadi)

Wawasan, Kairo- Kuantitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) saat ini menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Tentu, dengan populasi yang semakin banyak maka semakin kompleks pula permasalahan yang ada. Dan pula menurut sebagian orang, dengan kuantitas yang semakin banyak ini berdampak pula dengan kemerosotan akhlak dan adab dari Masisir itu sendiri. Kali ini Kru Wawasan pada Rabu, (28/10/2020) berkesempatan untuk mewawancarai Rifki Ramdhani, Wakil Presiden PPMI Mesir, untuk mengetahui lebih dalam pandangan terkait kuantitas Camaba yang membeludak ini.

 

Kira-kira menurut Anda sebagai perwakilan dari PPMI, apa yang menyebabkan membeludaknya Masisir saat ini?

Yang pertama, karena memang Mesir tempat belajar yang pas. Sebagaimana pun banyak kritikan kepada Mesir ataupun kepada al-Azhar dari berbagai oknum, tetap al-Azhar itu sebagai pilhan kawan-kawan khususnya Indonesia untuk melanjutkan pendidikan.

Alasan yang kedua, karena memang dari al-Azhar sendiri tidak membatasi siapapun yang mau belajar ke al-Azhar, dan juga pemerintah Mesir sudah mulai membuka dan memudahkan kedatangan, akhirnya mulai banyak yang datang kesini.

Yang ketiga, mungkin juga yang membuat teman-teman mau ke Mesir adalah kehidupan yang bisa tergolong terjangkau bagi banyak kalangan, dibanding negara-negara lain yang termasuk ke dalam belajar di luar negeri.

 

Apakah dampak yang dapat timbul dari membeludaknya Masisir?

Tentu kita akan berbicara dampak positif dan negatif.

Dampak positifnya yang pertama, kita semakin punya banyak stok ulama, dan semakin banyak yang paham tentang agama sesuai apa yang diajarkan Rasulullah. Kemudian yang kedua, anak bangsa semakin banyak yang bisa merasakan nuansa luar negeri, bergabung dengan kultur luar negeri, jadi anak bangsa mulai bisa bertukar pengalaman, sehingga ketika pulang di Tanah Air, pemuda ataupun penerus bangsa ini punya wawasan yang luas. Kemudian yang ketiga, Indonesia bisa dikenal oleh banyak negara, ketika hal itu terjadi, maka itu hal yang baik bagi Indonesia sendiri, terlepas hal-hal lain yang akan datang setelahnya.

Kemudian dampak negatifnya, mungkin semakin banyak orang, pasti akan semakin berat untuk meregulasi, apalagi di Mesir terpusat di Kairo. Kita tidak bisa menyalahkan pribadi atau dari mana, karena itulah budaya-budaya mereka yang mereka bawa kesini, jadi kita punya kebudayaan sendiri yang berbeda. Kemudian yang kedua, biaya hidup, karena tentu setiap negara membaca peluang, ketika banyak mahasiswa asing  dan sebagainya, dibayangan warga Mesir mungkin, ini orang luar punya banyak uang, padahal tidak demikian, akhirnya mungkin sewa rumah kemudian kebutuhan-kebutuhan lainnya mungkin semakin susah. Kemudian yang ketiga, muamalah antar satu sama lain, muamalah yang seharusnya kita tunjukkan mungkin tidak bisa kita contohkan secara menyeluruh, dan mungkin bagi kita biasa tapi bagi orang lain tidak biasa, standar kebiasaan itulah yang susah kita gabungkan satu persepsi.

 

Selanjutnya menyinggung muamalah, banyak pihak yang menuding muamalah atau adab Masisir sudah luntur, apakah salah satunya karena kuantitas ini?

Masalah adab kembali lagi ke barometer seperti apa yang kita gunakan, tapi menurut saya, ini juga bisa menjadi pesan bagi kawan-kawan baru ataupun yang tidak begitu lama di Mesir, agar banyak-banyak mengaji kepada para masyaikh kita. Karena jika hanya mengandalkan rangkulan dari senior atau PPMI itu tidak cukup, tetapi keinginan dari pribadi untuk ingin tahu bagaimana sih akhlak yang baik, yaitu dengan salah satunya mengaji.

 

Misalnya, Anda diberi kesempatan untuk menyuarakan atau diberikan ranah untuk pembatasan calon mahasiswa baru, bagaimana sikap Anda?

Saya setuju dengan kata-kata pembatasan, tapi pembatasan di sini bukan seperti ‘jangan banyak-banyak ke Mesir’, bukan hanya ucapan, tapi pembatasan di sini mungkin kualitas dari tes yang dilakukan, karena saya setuju dengan pemerintah Indonesia, dengan membuat regulasi sebelum ke Mesir anda-anda harus tes dahulu di Kemenag, taru lah sekarang tes dahulu di Pusiba, saya setuju dengan hal itu, karena untuk mengirim anak-anak bangsa, kirimlah yang terbaik. Jadi kalau saya dikasih kesempatan untuk berbicara pembatasan, saya setuju dengan kalimat pembatasan, tetapi dengan catatan bahwa orang-orang yang kita kirim ke Mesir ini, melewati tes yang benar-benar berkualitas. Saya tidak mengatakan sekarang tidak berkualitas, tetapi mungkin kita tingkatkan lagi kualitasnya, karena semakin banyak peminatnya ini, supaya yang benar-benar ke Mesir sudah matang.

 

Adanya pernyataan dari Dirut Pusiba yang mengatakan bahwa tidak ada yang berhak membatasi orang-orang untuk belajar, bagaimana menurut Anda sebagai perwakilan Masisir?

Jelas, saya sendiri sepakat dengan pernyataan tidak ada hak membatasi. Membatasi di sini kalau saya pahami mungkin menghadang atau melarang, tapi kalau pembatasan seperti yang kita katakan di awal seperti melakukan tes yang baik itu beda batasan. Saya sepakat, bahwa kita tidak punya hak untuk melarang orang-orang ke Mesir, bahkan salah satu hal yang digaungkan oleh al-Azhar adalah kesetaraan bagi seluruh umat manusia untuk mendapatkan hak pendidikan dan pengetahuan. Oleh karenanya, al-Azhar gratiskan semua kuliahnya. Itu sebagai bentuk tidak langsung al-Azhar ingin menyatakan bahwa semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

 

Kira-kira bagaimana cara mengendalikan kuantitas Masisir agar sejalan dengan kualitasnya?

Kita butuh kerja sama, sinergitas dari berbagai elemen Masisir, karena ketika kita berucap tentang PPMI Mesir, itu bukan hanya tentang DP (Dewan Pengurus), PPMI Mesir itu ya MPA, ya BPA, kekeluargaan, almamater, semuanya untuk mengendalikan kuantitas Masisir ini. Adapun kumpulan-kumpulan elemen yang ada di Masisir ini, ketika kita mampu bersinergi dengan baik, insya Allah, kuantitas yang banyak pasti akan menghasilkan kualitas yang terbaik juga. Tetapi ketika kita saling mengopor tanggung jawab, mungkin ini yang akan susah untuk mencapai kualitas yang baik.

 

Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pemangku kebijakan dalam hal ini seperti OIAA atau Pusiba dalam regulasi calon mahasiswa untuk ke sini?

Yang pertama, mari kita bermuhasabah dulu, bahwa keinginan al-Azhar membuka kebebasan bagi setiap orang itu adalah bahwa setiap orang baik kaya maupun miskin, dari Afrika, Asia, Eropa semuanya itu bisa mendapatkan hak-hak pendidikan yang layak.

Yang kedua, karena kita sudah sama-sama menyepakati ada pembatasan maksudnya kita ingin membatasi kawan-kawan yang ingin ke Mesir supaya di tes dulu, saya ingin menyampaikan tes lah dengan kualitas tes yang expert supaya yang datang ke Mesir memang benar-benar berkualitas, saya tidak mengatakan teman-teman yang sudah datang tidak melalui tes yang berkualitas, sudah berkualitas, tapi karena ditingkatkan lagi, semakin baik semakin hebat.

Yang ketiga adalah, mugkin bisa juga menengok kondisi kita disini, dalam artian membatasi sudah mantap tetapi ada beberapa kendala yang ada di Mesir seperti urusan visa, keamanan, kesehatan dan juga sebagainya, mungkin pemerintah Indonesia dalam hal ini bisa memperhatikan kita. Kami adalah utusan bangsa yang kelak akan kembali ke Indonesia untuk memajukan Indonesia.

 

Terakhir, apakah Anda punya pesan untuk calon mahasiswa yang masih di Indonesia?

Yang pertama, siapkan mental untuk ke Mesir, karena yang datang ke Mesir itu orang-orang hebat semua, yang terbaik dari setiap pesantren dan sekolah, di sini kita akan bersaing, karena banyak sekali santri-santri terbaik ketika datang ke Mesir bertemu dengan santri terbaik lainnya menjadi minder.

Yang kedua, persiapkan bekal, baik dari segi bahasa kemudian pengetahuan-pengetahuan umum tentang Mesir. Kemudian yang ketiga, mungkin akhlak dan adab, alhamdulillah akhlak dan adab Indonesia itu adalah akhlak dan adab yang sangat terbaik, nah tolong sampai di Mesir itu jangan tinggalkan itu.

Kemudian pesan untuk teman-teman yang masih ada di Indonesia adalah datang ke Mesir itu, jangan jadikan sebagai cita-cita terakhir, jangan jadikan sebagai tujuan paling tertinggi, tetapi sekolah ke Mesir merupakan salah-satu langkah untuk sampai kepada cita-cita.

(Alman dan Ibnu Hajar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar