Breaking News
Loading...

Rabu, 19 September 2018

Hoaks Menjelang Tahun Politik



Oleh: Fikri Haiqal Arif


Indonesia pada tahun 2018 telah menjadi Negara terbesar keempat pengguna media sosial. Hal ini sejalan dengan jumlah pengguna media sosial di Indonesia yang mencapai 130 juta jiwa. Dilansir oleh Kompas.com, mengutip dari laporan berjudul Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World, “dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49 persen”.

 Jejaring sosial tempat berkumpulnya pelbagai sudut pandang. Dari kalangan akar rumput sampai kalangan masyarakat borjuis. Semuanya bebas berekspresi, sebagaimana kebebasan berpendapat telah dijamin oleh UU RI nomor 9 tahun 19981 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.

Salah satu fungsi media sosial adalah media kampanye menjelang pesta demokrasi 2019 mendatang. Meskipun belum ada izin dari Bawaslu, para pendukung tiap kubu sudah menggencarkan  sikap keberpihakannya. Mulai dari menyanjung pilihannya hingga menyebarkan konten kebencian yang mengarah kepada pasangan lawan. Hingga tidak tanggung-tanggung, agar elektabilitas musuh merosot juga yang diusung meroket, hoaks menjadi alat utama guna mendongkrak elektabilitas paslon. Pada akhirnya, dari tiap simpatisan paslon bersaing membungkus hoaks dengan rapi, agar dapat diterima oleh khalayak.

Perlu diketahui bahwa hoaks menurut KBBI adalah berita bohong, sedangkan menurut Oxford English Dictionary sebagai “Malicious Deception” atau sebuah kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat, baik itu demi keuntungan seseorang penyebar hoaks atau dapat juga untuk menyebarkan kebencian.

Awal sejarah timbulnya hoaks atau berita palsu  dapat diterima, seperti rumor, urban legend, dan peristiwa april mop yang dibuat untuk sebuah lelucon. Meski telah ada sejak ribuah tahun, salah satu tipuan paling awal yang tercatat dalam sejarah adalah Drummer Tedworth pada tahun 1661. Drummer Tedworth adalah kasus dugaan poltergeist (istilah mistis dalam dunia paranormal) di West Country of England oleh Joseph Glanvill. Namun, saat ini hoaks mengandung propaganda orang-orang berkepentingan, baik di dunia ekonomi maupun politik. Di dunia ekonomi misalnya, seorang penebar hoaks membungkus berita bohong berupa isu SARA yang bertujuan mengundang banyak like dan share agar mampu meraup keuntungan. Adapun di dunia perpolitikan, hoaks menjadi senjata ampuh dalam memperebutkan kekuasaan. Terlebih dengan mendekatnya tahun politik 2019, penyebaran informasi pada sosial media disesaki berita tentang politik praktis.

Sedikitnya ada dua faktor penyebab berkembangnya hoaks yang menggerogoti masyarakat. Pertama, opini dan perasaan yang dilontarkan oleh si pembuat hoaks sejalan dengan kecenderungan pikiran khalayak umum pada saat ini. Sebagaimana pernyataan direktur utama Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto, "Faktor yang mempengaruhi munculnya hoaks adalah semakin terbukanya demokrasi." Dan faktor kedua adalah kurangnya pengetahuan tentang informasi yang beredar dan minat untuk melakukan chek and re-chek.

Maka dari itu sangat penting adanya mediasi yang dapat menangkal berbagai informasi yang jauh dari sifat validitas, masyarakat diharap saling memberi pemahaman atas isu dan berita yang  dapat menggiring kepada kegaduhan publik. Jauh sebelum digaungkannya hoaks, Islam telah memberikan langkah terbaik dalam menangkal penyebab kerusakan ini. ” Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.”QS.al-Hujur√Ęt:6. Dalam Islam dengan lugas dijelaskan cara menyikapi berita hoaks ini, teliti lebih dahulu terhadap informasi yang diterima.

Sebagai pengguna media sosial yang paling aktif, seyogiyanya generasi produktif lebih berhati-hati dalam menanggapi setiap isu yang beredar di layar gawainya. Pun setiap lapisan masyarakat diminta agar mampu saling bersinergi dalam memerangi hoaks. Agar berita hoaks tidak mudah menyebar dan meresahkan masyarakat. Dalam menyikapi perbedaan pilihan di tahun 2019 maka langkah tepat untuk dijalani adalah dengan memoderatkan diri. Memberikan porsi  tepat di tiap perbedaan yang tersaji, memandang kebaikan-kebaikan yang terdapat pada setiap kubu tanpa menimbulkan sentiment yang mengundang perpecahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar