Breaking News
Loading...

Selasa, 11 Agustus 2015

Ibadahpun Harus Tawazun




Sumpah Abdullah bin Amru bin Ash itu akhirnya sampai jua ke telinga Rasulullah Saw. "Demi Allah, selama hidup saya akan selalu berpuasa selama siang hari dan bangun sepanjang malam untuk salat. Ada denyut semangat dalam ikrar itu. Abu muhammad yakin bahwa tekadnya itu adalah sesuatu yang utama lagi istimewa. Dan sampailah sumpah itu ke haribaan baginda Nabi Saw.

''Engkau tak akan mampu melakukannya" tegur Nabi saat sang sahabat membenarkan ihwal ikrarnya tersebut. "engkau tak akan mampu melakukannya"

Teguran itu intinya adalah penegasan larangan : jangan berlebih-lebihan meski itu adalah perkara ibadah. Sebab akan ada ketergelinciran dalam setiap hal yang melampaui kemampuan dan keadaan. Tak terkecuali saat ibadah.

Sebagaimana Abdullah bin Amru bin Ash, sebab kondisi tertentu kita sering tiba pada puncak kesadaran spiritual yang tinggi. Tiba-tiba saja dorongan untuk melakukan semua ibadah menjadi begitu menggebu-gebu. Acap kali kita begitu berapi-api ingin menggenapi semua tuntutan ibadah. Kita lupa dan tak sadar bahwa di belakang hasrat yang tinggi itu menguntit kefuturan. Ya! Kefuturan, bibit keengganan. Sekali saja akumulasi keletihan karena ibadah bercampur dengan kefuturan, ketekunan itu akan runtuh. Dan dalam sekejap kesadaran kita yang berupa pengetahuan dan pemahaman-yang-harusnya ditransfer ke dalam amalan-berubah mentuk menjadi keengganan.

Pasangnya gairah beribadah sering membawa kita melampaui hal-hal yang seyogyanya jadi batas. Ibadah yang melangkah jauh dari kewajaran berpotensi membuat kita abai terhadap mana yang 'terutama' dan 'utama' dalam agama.Tak jarang kita berletih-letihdi sepertiga malam tapi subuh terlewatkan. Apalah artinya memanjangkan bacaan salat demi kekhusukan, tapi pada akhirnya menghalau orang untuk turut bermakmum? Mubalagah dalam ibadah membuat kita lupa hal penting lainnya yang dianjurkan oleh agama; sebaik-baik perkara itu di tengah. Keseimbangan.

"Sesungguhnya agama itu mudah. Dan barang siapa yang berlebih-lebihan dalam agama melainkan akan kalahlah ia olehnya. Maka lakukanlah sesuatu dengan benar tanpa berlebihan dan kabarkanlah kabar gembira. Dan lakukanlah sesuatu pada awal hari dan sebagian malam" sabda Rasul-Allah Saw.

Di depan ibadah yang fardu ada banyak syarat. Di belakangnya, ibadah sunnah menanti dalam gugus yang sangat banyak. Maka benarlah, barang siapa yang menenggelamkan diri dalam segala tuntutan agama, kesulitan telah menantinya. Inilah rupanya rahasia nasehat Rasulullah yang terus bergema itu. Lakukan sesuatu yang kecil tapi rutin dan berkualitas. Jangan sampai ibadah berujung pada kesulitan yang menghentikan.

Setelah menegur Abdullah bin Amru Bin Ash, Rasulullah Saw. memberi saran agar ia cukup berpuasa senin dan kamis saja. Atau sebaiknya sang sahabat meneladani Daud As. yang berpuasa sehari dan berbuka sehari. Hikmahnya selain agar tak sampai memberatkan adalah tetap terjaganya kualitas ibadah itu sendiri.

Karena ini pula, 'tidak berlebih-lebihan' sendiri bukan berarti melakukan sekedarnya saja. Penegasan larangan mubalagah itu datang bersama tuntutan peningkatan nilai dan kualitas ibadah. Ini isyarat bahwa perkara agama terutama ibadah bukan sesuatu yang remeh.

Berapa banyak keutamaan-keutamaan yang sebenarnya bisa teraih tapi lewat begitu saja karena meremehkan ibadah. Bahkan seiring waktu, keutamaan ibada itu seolah jadi tak bernilai apa-apa dalam pandangan kita. Tak berhenti disitu, keyakinan kita terhadap ibadah perlahan tergerus. Yang dianjurkan menjadi tak perlu. Yang diwajibkan menjadi tak penting.

Ketika berlebihan dalam ibadah, setelah salat yang fardu, kita akan terlalu letih tuk menggapai keutamaan sunnah rawatib. Sebaliknya saat meremehkan ibadah, bisa jadi yang fardu pun tak terjamin kualitas rukuk dan sujudnya. Jika memaksakan diri untuk beramal, sedekah bisa berujung pada pengabaian kebutuhan diri dan sanak famili. Sebaliknya saat sedekah dipercaya sebagai sesuatu yang trivial, zakat yang wajibpun berpotensi terlalaikan dan terlewatkan.

Bila bersikap tawazun dalam perkara duniawi adalah keharusan, maka tawazun dalam perkara ibadah tentu lebih utama. Di sini kita diuji bagaimana memenuhi panggilan ibadah dengan semangat tinggi tapi tak sampai tergelincir dan jatuh melampaui kewajaran diri. Kita diuji bagaimana menunaikan ibadah secara proporsional tapi tak sampai mengikis determinasi diri untuk mencapai kesempurnaan di setiap pengamalan.



Sumber: elkhaat
Oleh: Rifkyansyah Guhung Lc.