Breaking News
Loading...

Senin, 10 Agustus 2015

Bersama Untuk Damai




Dan akankah kalimat demi kalimat kebersamaan yang diteriakkan setiap orang yang mengaku memperjuangkan nasib rakyat membuat cinta kasih-Nya tidak hilang dari negeri kita? Tunggu dulu. Memang secara garis besar manusia menginginkan kebersamaan untuk damai. Dan itu merupakan hal yang sangat menggembirakan dan sangat menyenangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, mari kita merenung sejenak dan berfikir tentang sejarah panjang bangsa Indonesia yang sudah meluas lebar memberikan penjelasan secara tertulis. Tetapi, jarang sekali diantara kita sebagai bagian dari bangsa ini yang berkenan menyempatkan diri untuk mempertanyakan dalam hati, kenapa Allah tidak pernah meninggalkan bangsa ini. Kenapa Allah masih memberikan yang terbaik buat bangsa kita yang selama ini sulit untuk dipersatukan.

Tak dapat dipungkiri bahwa hampir semua dari pemimpin merasa masing-masing dari mereka adalah yang terbaik, sehingga yang tadinya bersatu menjadi terpecah belah. Padahal dengan terpecahnya persatuan secara langsung memberikan peluang buat musuh untuk menanam kebencian dan memporaporandakan eksitensi bangsa yang dulunya beradab menjadi biadab. Apalagi rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam.

Banyak yang menganggap Islam dan umat Islam sebagai musuh, dan sampai hari ini banyak pihak yang tidak suka melihat perkembangan Islam. Dengan cara menyebarkan informasi yang salah tentang Islam dan penganutnya yang berjumlah sekitar dua milyar di seluruh dunia.

Dan bahkan sampai pada detik ini, negara-negara maju kerap memiliki pemahaman yang salah tentang Islam. Salah satu pemahaman yang salah itu adalah Islam dianggap sebagai agama yang tidak toleran terhadap keyakinan agama lain. Ada opini yang sudah begitu meluas bahwa umat Islam diperintahkan untuk bersikap dan berteriak: agama Islam atau pedang!. Pemahaman yang salah ini makin berkembang, sehingga dimanfaatkan oleh segelintir penguasa untuk menghembuskan bahwa  Islam adalah ancaman bagi barat.

Demikianlah, dengan dalih apapun juga, usaha mengumpulkan semua dalam satu barisan kesatuan sangatlah sulit. Mungkin secara lahiriah, hal itu hanya mendatangkan kerusakan dan malapetaka karena tidaklah mungkin perdamaian diciptakan oleh terpecahnya persatuan diantara kita!

menurut sejarah di seluruh dunia, tidak pernah ada revolusi jasmani mendatangkan permdamaian dan kesejahtreaan. Kiranya hanyalah revolusi batin, yang terjadi di dalam diri setiap orang manusia, yang akan dapat mengubah keadaan yang menyedihkan dari kehidupan manusia di seluruh dunia ini.

Mungkin belum cukup dengan melihata atau menyaksikan saja. tanpa kita meluangkan waktu atau mengambil kesempatan barang sejenak dari banyak kesempatan yang dijarah Allah kepada kita untuk bertafakkur dan bertadabbur atas kondisi ini, menjadi penting, karena itu akan membuka alam bawah sadar kita tentang makna kehadiran Allah SWT. Sehingga dengan sendirinya kita akan mampu membangun kebersamaan demi terciptanya perdamaian yang bersifat lahiriah dan batiniyah.

Sudah menjadi kodrat, manusia merupakan makhluk yang berakal, Setiap manusia pasti mengidamkan hidup bersama secara damai dan tentram. Betapapun dia orang yang jahat, sudah pasti naluri kemanusiaan yang dimilikinya mengharapkan hal yang demikian. Namun kadang, naluri itu sering terhijab oleh perbedaan. Misalnya, setiap orang merasa dirinya paling benar, berbobot, dan paling hebat dari orang lain. Sehingga menganggap enteng pada setiap orang yang berbeda dengannya. maka naluri kebersamaan untuk menuju perdamaian yang dimiliki oleh masing-masing individu ini tertutupi dengan perbedaan tersebut.

Tanpa hijab keterpecahan, kita pasti akan mampu untuk bersyukur atas banyaknya pemberian Allah. Alih-alih bisa membalas jasa Allah (bersyukur), menyadari bahwa Allah itu hadir dalam kehidupan bangsa kita Indonesia, malah untuk membangun kebersamaan dalam kehidupan sehari-haripun, kita berbeda pandangan.

Memang sulit mempersatukan perbedaan menjadi suatu kebersamaan dalam satu persepsi. Namun bukan berarti kebersamaan itu akan sulit dipersatukan. Bagi kita umat muslim tentunya kita telah mengetahui tentang pentingnya persatuan di antara kita sesama muslim. Bahkan diantara kita saja; yaitu muslim sesama muslim itu bersaudara.
 
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.(QS Al-hujarat:10).
 
Dengan dalil firman Allah di atas mungkin sudah cukup membuktikan urgensitas suatu persatuan dan kesatuan di antara kita. dan hal ini menunjukkan bahwa suatu keharusan bersatu dalam barisan yang kokoh sangathlah diperhatikan dalam agama Islam.
 
Tanpa berniat melakukan  pengkaburan maksud dari ayat ini, bukan berarti agama Islam mengesampingkan orang lain(minoritas), tetapi sebaliknya agama Islam sangat menunjung tinggi nilai perdamaian dan toleransi antara sesama manusia dengan tidak membatasi pergaulan antara sesama mansuai dalam hal muamalat sebagai bentuk nyata kehidupan sehari-hari.

Maka oleh karena itu satukanlah bahasa kebaikan yang kita miliki bersama selama ini. Hubungkanlah segenap perasaan jiwa raga kita menjadi rangkaian kebersamaan yang suci ini bersih. Dan ciptakanlah suatu kebersamaan yang kita bina di atas dasar kasih sayang Allah dan rasulnya. Kemudian biarlah kita akan di satukan oleh hasrat yang alami dalam jiwa murni untuk saling melengkapi dan mengisi. Sehingga mampu menembus batas ruang ksesadaran dan kesahajaan yang selalu dihiasi dengan semesta alam serta warna-warni pemahaman yang baik. dan semoga kita semua berjuang demi bangsa dan tidak menyelipkan kepentingan diri kita yang sepihak. santun, melenyapkan segenap kelemahan dan kekurangan. Mengakui pertemuan dan perpisahan adalah fitrah hidup yang datang dan pergi silih berganti.


Sumber: Elkhaat
Oleh: Hajrin Saripi L.c