Breaking News
Loading...

Kamis, 29 September 2022

Harumkan Nama Bangsa, Satu Lagi Putra Sulawesi Raih Magister dengan Predikat Cum Laude

 

Sidang Munaqasyah (Gambar: dok. Wawasan)


Wawasan, Kairo—Rabu, 28 Oktober 2022 adalah hari yang begitu bersejarah bagi Fakhrul Washil Galib, Lc., MA. Di hari itulah pria kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan ini menjalani sidang tesis di Auditorium Imam al-Dzahabi li al-Mu’tamarat wa al-Nadawat Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo yang mengukuhkannya sebagai Magister pada Departemen Tafsir dan Ilmu Alquran Fakultas Ushuluddin dengan nilai mumtaz atau cum laude.

 

Di atas mimbar sidang, Fakhrul dan tesisnya di-munaqasyah dan didebat oleh dua penguji: Prof. Dr. Sya’ban Muhammad Athiyyah (Dosen Tafsir dan Ilmu Alquran Fak. Ushuluddin) sebagai penguji internal, Prof. Dr. Abdul Syafi (Dosen Tafsir dan Ilmu Alquran Fak. Studi Islam dan Bahasa Arab) sebagai penguji eksternal, bersama dua pembimbing tesis: Prof. Dr. Muhammad Amin Abu Bakar (Dosen Tafsir dan Ilmu Alquran Fak. Ushuluddin) sebagai pembimbing utama, dan pembimbing pembantu Prof. Dr. Salim Abdul Khaliq al-Sukkari (Dosen Tafsir dan Ilmu Alquran Fak. Ushuluddin). 

 

Dalam munaqasyah yang berlangsung selama tiga jam tersebut, ia berhasil mempertahankan tesisnya yang berjudul “Ta’qibat al-Allamah al-Alusi fi Tafsirihi (Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Azhim wa al-Sabe’ al-Matsani) ‘ala al-Allamah Jarillah al-Zamakhsyari fi Tafsirihi (al-Kasysyaf an Haqaiq al-Tanzil wa Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil) min Awwali Surati Hud ila Akhiri Surati Ibrahim – ‘Aradun wa Dirasatun wa Ta’liqun” dengan jumlah 585 halaman.



 

Karya tesis Fakhrul (Gambar: dok. Wawasan)
 

Fakhrul mengungkapkan bahwa salah satu yang melatarbelakangi pemilihan judul tersebut ialah temanya yang sangat menarik, karena membahas dua tokoh mufasir besar dan karya mereka yang masyhur juga banyak digunakan. “Al-Kasysyaf itu banyak menjadi rujukan bagi mufasir-mufasir setelahnya dan Ruh al-Ma’ani juga, beliau (al-Alusi) me-munaqasyah pendapat ulama-ulama dengan sangat baik hingga beliau dijuluki sebagai Umdatul Muhaqqiqin,” ungkapnya dalam wawancara bersama kru Wawasan.

 

“Kita juga bisa banyak belajar, soalnya Imam Zamakhsyari adalah imam besar Ilmu Balagah, kemudian Aqidahnya juga, karena Imam Zamakhsyari ini Muktazilah sedangkan Imam Alusi beraliran Sunni, kemudian masalah Qiraat juga, dan masalah tafsir Isyari, yang Tasawwuf, ” terangnya.

 

Fakhrul juga menceritakan tentang proses menulisnya yang panjang dan penuh tantangan, yang mana ia memperoleh judul dan mulai menulis di awal tahun 2017. “Di awal-awal dulu sempat ada bisikan-bisikan, kira-kira kita bisa tidak selesai di sini, bisa kerjakan tidak. Tapi ya, alhamdulillah, minta tolong sama Allah, kita kerjakan sedikit demi sedikit, (red–setelah itu) mentalnya nanti akan tumbuh, oh ternyata bisa, sedikit demi sedikit akhirnya selesai juga.”

 

Adapun perihal tantangan yang dihadapi, ia menjelaskan bahwa dalam kandungan tesis ini yang berisikan 40 masalah, dalam menyelesaikan masalah demi masalah itu butuh waktu. Bahkan ada yang untuk menyelesaikan satu masalah saja memakan waktu hingga berbulan-bulan, mulai dari membaca dan mengkaji banyak kitab-kitab terkait untuk memahami maksud dari kedua imam tersebut,  lalu merangkai dan menyusun kalimat ke dalam tesis,  kemudian menarjihnya.

 

Selain itu, tantangan yang juga dihadapi Fakhrul adalah bagaimana ia harus bersabar menjalani LDR selama dua tahun terakhir, meninggalkan anak dan istri di Indonesia. Tidak hanya itu, Di samping menjalani studi magister, ia juga menempuh pendidikan di Lembaga Fatwa Mesir (Dar al-Ifta al-Misriyyah) yang menuntutnya untuk mampu mengatur waktu dan kesibukan di antara keduanya hingga berhasil menyelesaikan kedua proses studi tersebut di tahun yang sama, 2022 ini.

 

“Di Ifta itu kan kita ada kelas full day, dalam sepekan biasanya lima hari dan ada ujiannya juga. Nah kelas ini mulainya dari pagi hingga siang bahkan pernah sampai pukul lima sore jadi otomatis waktu menulis jadi terbatas. Pulang dari Ifta istirahat sebentar terus lanjut garap tesis, walau sebenarnya saya kalau menulis waktu ideal saya pagi. Tapi karena di Ifta itu ilmu, tesis juga ilmu, jadi alhamdulillah banyak juga saya mendapat ilmu penunjang untuk tesis dari Ifta ini,” terang Fakhrul.


Fakhrul bersama kru Wawasan (Gambar: dok. Wawasan)


 

Setelah menjalani proses yang panjang hingga sampai di titik ini, ia mengaku sangat gembira karena dimudahkan oleh Allah SWT hingga bisa menyelesaikan magister di al-Azhar, juga atas banyaknya doa dan dukungan dari anggota-anggoti, serta kehadiran mereka dalam sidang yang membawa keberkahan, kesyukuran, dan kepercayaan diri bagi Fakhrul.

 

“Saya berterima kasih banyak kepada semua yang sudah menyempatkan hadir, jazakumullah, semoga bisa membawa keberkahan, bisa ber-istifadah dari penyampaian Masyaikh, dan semoga sedikit banyaknya bisa menambah semangat. Pesan saya tetap semangat, berjuang, dan berdoa untuk dibukakan pintu-pintu ilmu. Perbaiki niat, bagaimana kita menuntut ilmu ini sebagai proses ibadah dan harapannya kita bisa pulang dengan membawa risalah al-Azhar al-Syarif,” tutup Fakhrul. 


Reporter: Alief Asyur 

Editor: Ichsan Semma 

 

 

 

  

 

 

 

   

Minggu, 25 September 2022

Kolaborasikan Agama dan Budaya, Intesar Abdel Fattah Sukses Gaungkan “Peace of The World” Lewat Musik

 

Samaa Internasional Festival (Gambar: dok. Wawasan)


Penutupan “Samaa International Festival for Spritual Music & Chanting” yang diselenggarakan di Bab El-Nasr, El-Gamaliya, Kairo pada hari Sabtu (24/9) sukses menghadirkan gemuruh tepuk tangan di sekeliling panggung pementasan. Acara yang diprakarsai oleh seorang Seniman berkebangsaan Mesir, Intesar Abdel Fattah ini berhasil mengolaborasikan agama dan budaya dengan tema “Peace of The World” lewat musik.

 

“Tema yang kami angkat pada acara kali ini adalah esensi dari setiap agama yang ada, seperti cinta, perdamaian, toleransi dengan menggunakan sudut pandang agama, suku, ras, begitu pun strata sosial dimana terdapat beberapa negara turut berpartisipasi juga pada acara kali ini,” ungkapnya dengan nada bahasa Arab yang berat saat menjalani sesi wawancara bersama kru Wawasan.


Intesar Abdel Fattah (Gambar: dok. Wawasan)


Selain diikuti oleh pementas yang berasal dari berbagai kalangan agama seperti Islam dan Kristen, acara ini juga turut diramaikan oleh tim paduan suara yang berasal dari berbagai negara, diantaranya Sudan, Sudan Selatan, Djibouti, Mesir, Rumania, Suriah, Yaman, Aljazair, Palestina, Yordania, Kanada, India, dan Indonesia. Untuk perwakilan Indonesia dihadiri oleh tim nasyid Dai Nada yang didirikan oleh Nur Akhyari.

 

“Untuk Indonesia sudah menjadi tim inti dari acara ini sejak tahun 2007 hingga sekarang. Saya sendiri sudah bekerja sama dengan Duktur Abdel Fattah, seorang Seniman Mesir yang memiliki peran penting dalam kebudayaan Mesir,” terangnya.

 

Tak hanya itu, Nur Akhyari juga menyampaikan tujuan dan harapannya dari pelaksanaan acara tahunan ini yang sudah menginjak usia ke-15 tahun.

 

“Yang menjadi titik fokus kita, bagaimana kita menghadapi perbedaan itu dengan risalah perdamaian. Kita sebagai manusia, dengan acara ini kita bisa saling menghargai, memberikan kebebasan satu sama lain. Nahnu insan qabla kullu syai, jadi sebelum kita menjadi seorang Muslim atau apa saja kita harus manusiawi. Perbedaan itu bagian dari kehidupan, karena Allah SWT menciptakan kita berbeda-beda. Itulah inti sari dari pertunjukan kali ini,” ungkapnya dengan tenang.

  

Pementasan musik menghadirkan kompilasi himne Koptik dengan nyanyian Islam yang dilantunkan secara bergantian oleh beberapa tim paduan suara. Hal tersebut menjadi refleksi terhadap indahnya perpaduan antara agama dan budaya dalam satu kesatuan irama.

 

Pada akhir acara malam itu, Dai Nada juga mempersembahkan lagu “Lestari Alamku” yang diiringi dengan petikan gitar nan merdu. Sontak para penonton juga ikut bertepuk tangan mengikuti irama yang dilantunkan oleh tim nasyid perwakilan Indonesia itu, yang beberapa dari personil mereka merupakan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Mesir.


Reporter: Ryan Saputra

Editor: Ichsan Semma  

Kamis, 22 September 2022

EGP 75.000 untuk Nusantara Cup, Presiden PPMI Mesir: Kita Belajar dari Indonesian Games

Wawancara RAPBO (Gambar: dok. Wawasan)


Pada Sidang Pleno Pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi (RAPBO) PPMI Mesir Termin 1, Teuku Fauzan selaku Menko III PPMI Mesir pada tahun ini menganggarkan EGP 75.000 untuk mengadakan Nusantara Cup. Hal tersebut mengalami peningkatan dari tahun lalu yang hanya mencapai angka EGP 30.000 untuk ajang yang bertajuk sama, yaitu Indonesian Games. Auzi’na Azmal Umuur selaku Presiden PPMI Mesir mengungkapkan bahwa perbedaan jumlah tersebut berangkat dari beberapa evaluasi di tahun lalu.

 

“Setahu saya bahwa Kemenko III PPMI tahun lalu mengharapkan dapat lapangan Bu’uts. Ternyata, faktanya tidak bisa. Jadi, tahun ini kita kasi fakta terburuk dulu biar panitia tidak sakit-sakit sampai kayak kemarin, tidak harus mengeluarkan duit,” ungkapnya kepada Kru Wawasan saat menjalani sesi wawancara di Wisma Nusantara, Rabu (21/9).

 

Hal tersebut juga diamini oleh Menko III, bahwa anggaran EGP 75.000 itu merupakan hal yang sudah dimusyawarakan bersama. Terkait perbedaan jumlah anggaran dana tahun lalu itu, sedikit keliru dalam perincian dana karena ada beberapa lokasi yang tadinya ingin dipinjam ternyata faktanya tidak bisa.

 

“Hal yang kita lihat dari Indonesian Games itu, ana kasihan sama panitianya aja sih terlalu keberatan untuk menombok (red- menutupi) enggak tahu kita melihat Indonesian Games sepertinya panitia keberatan masalah dana itu,” katanya.

 

Teuku pun menambahkan, bahwa dalam Nusantara Cup nantinya tidak hanya diisi dengan cabang olahraga saja, tapi juga cabang keilmuan dan kebudayaan. Salah satu dari kebudayaan itu adalah pencak silat yang saat ini tengah masuk proses “ngobrol” bersama perguruan-perguruan yang ada di Mesir.

 

Tak ketinggalan, Presiden Auzi’na pun menyampaikan kepuasannya terhadap sidang yang berlangsung kurang lebih enam jam ini.

 

“Alhamdulillah, bagi saya puas karena ini sesuai dengan kesepakatan yang sesuai dengang Undang-Undang yang tertera pada pasal 12 yang asasnya mufakat. Saya puas karena ini berasaskan mufakat bersama,” tutupnya.


Reporter: Munir Lalupi

Editor: Ryan Saputra

Minggu, 18 September 2022

Nasaruddin Umar, Inspirasi Islam Nusantara, Fleksibilitas, Kreativitas, dan Universalitas Dakwah

         

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA (Gambar: dok. Wawasan)

Oleh: Andi Fakhrur Riza

         Gaya khas Islam nusantara yang kita hirup hari ini identik dengan kekayaan akan toleransi dan mudah berbaur dengan beragam kultur budaya, ini tentunya tak lepas dari beragam perjuangan yang telah jauh waktu ditanam oleh para tokoh Islam. Pada eranya, model dakwah Walisongo yang sederhana dan sarat akan pendekatan tasawuf telah terbukti ampuh dan sukses membangun masyarakat Islam yang moderat. Begitu pun napak tilas sejarah para ulama pendiri pondok pesantren yang kaya makna dan membekas dalam benak kita, umat Islam Indonesia.

 

Model Islam seperti ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi beragama dan mendapat perhatian khusus di kalangan penganut Islam di Indonesia. KH. Said Aqil Siraj yang merupakan Ketua Dewan Eksekutif Nahdatul Ulama (NU) dalam hal ini menggambarkan Islam Nusantara sebagai Islam yang fleksibel dan tak menghapus budaya lokal. Islam yang tidak memusuhi tradisi dan tak menghilangkan kultur.

 

Paham Islam nusantara inilah yang banyak diadopsi oleh para ulama kontemporer. Salah satu yang gencar dan sering menerapkannya adalah Prof.Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Ulama berdarah Sulawesi yang juga dikenal sebagai penulis aktif yang memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai penulis artikel terbanyak yaitu enam ribu artikel dalam kurun waktu lima tahun yang diterbitkan oleh beberapa media nasional.

 

Prof. Nasaruddin Umar lahir di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan, pada tanggal 23 Juni 1959. Lahir dari keluarga agamis membuat masa kecilnya sarat akan nilai-nilai filosofis agama. Oleh Alm. H.Andi Muhammad Umar dan Alm. Hj. Andi Bunga Tungke, ia ditanamkan benih Islam dan semangat juang yang nantinya mampu menghadirkan wajah baru pada Islam modern. Di tanah ini pulalah orangtuanya kelak membangun sebuah pondok pesantren yang hari ini kita kenal dengan nama pondok pesantren Al-Ikhlas yang didirikan pada tanggal 18 September 2000.

 

1. Rekam jejak Prof. Nasaruddin Umar dan Relevansinya bagi Pemuda Milenial.

 

Namanya yang kian dikenal hari ini tentunya menyimpan kisah perjuangan yang tak kalah menariknya, dari tanah kelahirannya ia mengembara menuntut ilmu menggunakan sepeda kuno ke pondok pesantren As’adiyah, Sengkang, yang juga didirikan oleh seorang ulama karismatik bernama KH. Muhammad As’ad. Setelah menempuh pendidikan agama di sana sampai lulus, ia melanjutkan studinya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang dengan mengambil studi Fakultas Syari’ah pada tahun 1980. Berkat keuletan dan kegigihannya dalam belajar, ia akhirnya lulus dengan menyandang gelar sebagai sarjana muda dan mahasiswa teladan pada tahun 1984.

 

 Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan studinya pada program pasca-sarjana di Universitas Islam Negeri(UIN) Alauddin pada tahun 1990. Sama seperti sebelumnya, ia pun turut menorehkan prestasi dengan mampu lulus tanpa tesis di tahun 1992, hal yang jarang dicapai oleh mahasiswa kala itu.

 

Torehan yang ia raih semasa kuliah tidak membuat semangat dan dirinya merasa puas begitu saja, hal itu terlihat jelas di tahun berikutnya, di mana pada 1993 ia mendaftarkan diri pada program doktor di Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Syarif Hidayatullah. Selama masa kedoktoralannya, ia menjadi satu-satunya mahasiswa yang dikirim sebagai utusan pertukaran pelajar ke Universitas McGill, Montreal,  Kanada(1993-1994), di tahun berikutnya, ia sekali lagi dijadikan utusan pertukaran pelajar di Negeri Kincir Angin, Belanda. Tepatnya pada Universitas Leiden(1994-1995), dan sandwich program di Paris University, Prancis(1995). Ia meraih gelar Doktor (phD) dengan disertasi yang bertajuk “Perspektif Gender dalam Alquran” yang selain itu ia juga dinobatkan sebagai lulusan doktoral terbaik pada tahun 1998.

 

Berbagai prestasi lainnya yang juga pernah ia torehkan diantaranya menjadi sarjana tamu pada tiga universitas berbeda, ditiga negara yang berbeda. Shopia University, Tokyo, Jepang (2001). Saos University of London, Inggris (2001-2002). Dan di Georgetown Univesity, Washington DC, USA (2003-2004). Prof. Nasaruddin juga merupakan anggota tim penasihat Inggris-Indonesia yang didirikan oleh mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair.

 

Salah satu karyanya yang menarik jadi perbincangan adalah disertasi doktoralnya yang berjudul “Argumen Kesetaraan Gender, Perspektif Alquran”.  Dalam jurnal terkait, karya Sakdiah Sakdiah. Ia mengungkapkan Prof. Nasaruddin mengangkat tema ini dilatarbekangi oleh kegelisahan intelektualnya. Melihat ayat-ayat Alquran yang seringkali dijadikan alat justifikasi paham patriarkisme, paham yang menempatkan perempuan pada gender kedua dan sebaliknya, menempatkan laki-laki pada titik sentral dalam hal ritual maupun sosial.

 

         Menurutnya, masih terjadi ambiguitas pemahaman apakah gender bersifat nature (kodrat) atau nuture (kontsruksi sosial). Menanggapi hal itu, Nasaruddin melakukan penelitian terhadap ayat-ayat Alquran yang membahas tentang relasi antara Laki-laki dan perempuan melalui  analisis tematik (tafsir maudhu’i) dengan berbagai pendekatan seperti semantik-linguistik, normatif-teologis, dan sosio-historis. Hasilnya, Alquran tidak secara tegas menyatakan dukungan terhadap kedua paradigma gender baik nature dan nuture. Secara garis besar, Alquran mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan itu justru tidak serta merta menguntungkan salah satu pihak dan memarjinalkan pihak yang lain. Perbedaan nyatanya justru menjadi pendukung obsesi Alquran terkait dengan kehidupan yang harmonis, seimbang, dan dipenuhi kebajikan.

 

         Sepak terjang Prof. Nasaruddin Umar dikancah pendidikan tidak hanya hadir sebagai bahan bacaan belaka dan dituangkan pada beberapa forum diskusi, tapi juga menjadi pendorong bagi pemuda zaman milenial untuk terus memupuk benih kesuksesan sejak jauh-jauh hari. Prof. Nasaruddin adalah replika nyata bagaimana prestasi bukan dijadikan tujuan utama sehingga menganggap langkah kita sudah berhenti sampai disitu, melainkan sebagai barometer untuk mengukur seberapa jauh kita melangkah, lalu bersiap untuk memulai langkah yang baru. Dengan metode ini, bukan tidak mungkin akan banyak prestasi yang kian menghampiri.

 

Menjadi intelektual muslim yang ahli di bidang tafsir, secara implisit menjadi landasannya  sebagai guru besar ilmu tafsir pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah, Jakarta. Selain sebagai seorang guru besar, ayah tiga orang anak ini juga adalah seorang Rektor pada Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta. Selain sebagai seorang akademis, Prof Nasarudin yang saat ini menjadi Imam Besar Istiqlal juga dikenal aktif membawakan berbagai diskusi dan kajian.

 

Satu hal yang menarik dari Prof. Nasaruddin Umar yakni metode dakwahnya yang cenderung kepada sisi filosofis ajaran islam melalui pendekatan tasawuf yang membuat dakwahnya mampu diterima pada banyak kalangan, model dakwah yang sejalan dengan konsep yang diusung oleh Walisong, serta kemelekannya terhadap globalisasi menjadikannya satu dari sedikit sosok yang memandang kefleksibelan dakwah dan kerelevanannya dengan masyarakat merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dalam dakwah itu sendiri.

 

         Di tengah padatnya jadwal terbang seorang Prof. Nasaruddin, ia juga dikenal aktif menyisihkan sebagian waktunya untuk mengunjungi para santrinya yang dengan bangga ia sebut sebagai "Malaikat-malaikat kecil Allah". Di setiap kunjungannya, ia menekankan pentingnya improvisasi pemuda islam dengan pesatnya perkembangan global, demi terwujudnya generasi islam milenial yang menyatu, berbaur, namun juga tak mudah lapuk.


2. Kata mereka tentang Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA


Penghargaan MURI (Gambar: dok. Wawasan)


 Mahfud MD selaku Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) pernah memberikan selayang pandang terkait Prof.Nasaruddin yang pada saat itu meraih penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

 

“Itu jarang ada di Indonesia. Ulama yang ngomong saja banyak, yang nulis saja ada. Tapi yang ngomong dan nulis dengan sama-sama produktif itu sulit ya. Banyak orang yang bisa ngomong, bisa nulis, tapi enggak seproduktif beliau,” kata Mahfud MD dalam artikel berjudul ”Dihadiri Sederet Menteri dan Pejabat, Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr.KH. Nasaruddin Umar Luncurkan Buku dan Doa Untuk Bangsa” yang ditulis oleh grid.id.

 

Dalam lingkungan agama, mantan wakil menteri agama ini juga aktif sebagai ketua yayasan pondok pesantren Al-Ikhlas Ujung, Bone, Sulawesi Selatan. Kru Wawasan dalam hal ini menyempatkan waktu untuk mewawancarai kerabat dekat Prof Nasaruddin di Mesir yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir. Ia mengatakan kalau Prof. Nasaruddin adalah sosok yang sangat memperhatikan pendidikan terkhusus bagi keluarganya.

 

“Terlebih kan dulu dia (Prof. Nasaruddin) membantu orang tuanya sekolahkan adik-adiknya. Sampai-sampai rela tidak nikah dululah, menunda nikahnya, pokoknya tidak mau menikah karena ada prinsipnya, kalau tidak salah dia tidak mau menikah sampai sarjana semua adeknya,” Ucapnya dengan logat khas Sulawesi setelah diwawancarai oleh kru Wawasan via online pada kamis 15 September 2022.

 

Hal yang sama juga diungkapkan langsung oleh Nurul Mutawadhiah yang dalam hal ini adalah murid langsung Prof. Nasaruddin sesaat sebelum keberangkatannya ke Mesir, Nurul beserta rombongan mendatangi ruang kerja ketua yayasan pesantren Al-ikhlas, yaitu di masjid Sunda Kelapa untuk mappatabe’ (tradisi masyarakat Bugis berupa meminta berkah dan doa restu). Ia mengungkapkan kalau Ayahanda Prof sangat menaruh perhatian khusus kepada murid-muridnya. Di tengah kesibukannya, ia tetap menghadirkan kehangatan dengan memberikan jamuan, nasihat serta pesan-pesan bijak.

 

3. Prof. Nasaruddin dan urgensitasnya untuk Milenial


Pada akhirnya, dengan menelusuri napak tilas sejarah Prof. Nasaruddin Umar akan  menarik kita kembali pada tujuan awal kita sebagai penuntut ilmu bahwa tidak ada pencapaian yang bergengsi kecuali setelah merasakan jatuh bangunnya perjuangan.

 

Ia secara tidak langsung memahamkan kita kalau dakwah tidak cukup hanya dengan berdiri diatas mimbar, tapi juga dengan pena yang kemudian dituangkan kedalam kertas sehingga menjadi tulisan yang tak akan tenggelam termakan zaman. Imam besar masjid Istiqlal ini menitipkan pesan tersirat untuk generasi islam milenial bahwa ladang dakwah tidak terbatas hanya pada mengelilingi masjid-masjid dan mengisi kajian-kajian agama, tapi juga diplomasi antar meja ke meja, kepekaan terhadap media sosial, dan menghasilkan karya yang nantinya akan memercikkan benih inspirasi ke orang sekitar.

 

Editor: Ichsan Semma

                  

Rabu, 14 September 2022

Hadiri Haul Guru Tua ke-54, Wadubes Ingatkan Guru Tua Bukan Hanya Milik Orang Palu

 

Wawancara bersama Pakde Surya (Gambar: dok. Wawasan) 

“Yang ingin Pakde bilang itu adalah Guru Tua itu bukan hanya milik orang Palu, loh,” ungkap   Muhammad Aji Surya selaku Wakil Duta Besar Indonesia untuk Mesir dalam acara Haul Guru Tua yang diadakan pada Sabtu (10/9) di Baruga KKS.

 

Lelaki yang kerap disapa Pakde Surya itu pun mengapresiasi pengadaan acara Haul Guru Tua yang memang baru perdana dibuka untuk umum ini. Dalam wawancara bersamanya, ia menyebut bahwa acara ini adalah acara yang penuh makna, sebab mengingatkan pada seorang pejuang Negara Indonesia, yang bahkan aslinya bukan orang Indonesia.

 

Hal ini pun diamini oleh Ahmad Rizaly Baktsir, Ketua Himpunan Keluarga Mahasiswa Al-Khairaat (HIKMAT) yang menjelaskan bahwa salah satu latar belakang dari pelaksanakan Haul Guru Tua adalah agar murid-muridnya yang tengah menimba ilmu di Mesir bisa kembali mengenang dan tidak lupa atas jasa gurunya.

 

“Jadi kita bukan hanya mengingat beliau pas lagi belajar di pondoknya, tapi ketika sudah keluar (red-alumni) pun juga harus diingat,” ungkapnya.

 

Tak hanya itu, pria yang akrab dipanggil Rizaly ini juga menjelaskan bahwa salah satu tujuan diadakannya acara Haul ini agar para murid tahu diri, bahwa mereka bisa sampai di titik yang sekarang ini juga adalah karena jasa dari gurunya.


Acara ini pun dihadiri oleh Habib Farhan Assaggaf yang saat ini tengah menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar dan Habib Ahmad Al-Maqdi yang merupakan salah satu Ahli Lembaga dalam Fatwa Mesir yang bertempat di Darul Ifta,  


Reporter: Ichsan Semma 

Editor: Azhar Syauqy